Sedekah dan Kesadaran Transparansi

Jika kita pernah menyusuri jalanan ramai penuh lalu lalang orang dan kendaraan di wilayah Madura, Jawa, Sumatra, dan mungkin daerah lain di Indonesia, rasanya kita tidak mengelak jika kita pernah melihat pemandangan yang sama, yakni terpampangnya orang mengayunkan jaring ikan di tengah jalan untuk menampung sedekah dan infak para pelintas jalan. Infak dan sedekah itu umumnya guna mendukung pembangunan tempat ibadah setempat. Di jalanan antarpropinsi di Jawa Timur hingga Aceh pemandangan seperti ini lazim dijumpai.

Pria dan wanita yang kebanyakan sudah paroh baya, namun tidak jarang juga anak-anak hingga remaja, bertugas sembari didukung propaganda suara lewat loudspeaker. Pernah mendengar mungkin, saking keinginan mempermudah para calon penginfak, dari loudspeaker terdengar, “Lemparkan saja, Pak! Lemparkan saja, Buk!” Ada yang lewat begitu saja, tapi banyak juga yang melemparkan lembaran kertas uang. Lalu, sontak dari loudspeker menyahut, “alhamdulillah, terima kasih, Pak” atau “terima kasih, Neng”. Laju perjalanan pun sedikit tersendat karena menghormati penginfak yang memelankan laju kendaraannya.

Ustadz/ustadzah di pengajian-pengajian dan guru di sekolah dalam berbagai kesempatan memberikan tarbiyah atau tausiyah, tidaklah asing dengan tema-tema sedekah (shodaqoh). Banyak anjuran Nabi yang mengutamakan sedekah. Dua hadist yang terkenal bisa disebut misal, “asshodaqotu lidaf’il balaa’ (sedekah itu akan menghilangkan mara bahaya) dan “al yadul ‘ulyaa afdlolu min al yadissuflaa” (tangan di atas itu lebih baik daripada tangan di bawah”. Begitu kira-kira yang sering kita dengar dari para guru dan ustadz kita. Belakangan di ruang publik muncul semacam slogan, memperbanyak sedekah akan membuat kaya. Ada pula yang menganjurkan, sedekah solusi segala persoalan keruwetan hidup.

Sebagai orang beriman, tentu saja kita patut acungi jempol kepada para penginfak yang dengan ikhlas menyisihkan sebagaian hartanya. Dengan berinfak, ia telah menunjukkan bahwa dia menjalankan salah satu amal kebajikan. Dengan berinfak itu, ia menunjukkan dirinya mendukung pendirian tempat ibadah tersebut. Harapan pahala dari Yang Kuasa sangat dinantikan oleh dirinya.

Di daerah tempat saya tinggal, sejak pertama bermigrasi ke daerah ini kira-kira lima tahun lalu, telah ada kegiatan penarikan infak semacam ini tanpa tahu persis kapan mulainya. Sekitar tiga tahun kemudian, musholla di dekat rumah juga mengadakan kegiatan serupa, dan sekitar 1 tahun berjalan, penarikan infak sanggup mengubah musholla yang semula biasa saja menjadi begitu megah dan kokoh. Selesai satu musholla ini, diteruskan oleh dua titik penarikan infak baru oleh panitia tempat ibadah lain dan ada satu titik penarik infak lebih lama yang juga masih aktif. Sehingga, satu jalur jalan yang tidak sampai 2 kilo meter itu terdapat tiga penarik infak di jalanan. Bisa dibayangkan meriahnya festival kegamaan ini.

Ketaatan Beragama dan Keacuhan Umat

Tentu saja kita amat bangga jika kemudian infak itu benar-benar digunakan untuk merenovasi tempat ibadah. Dengan demikian, panitia pembangunan tempat ibadah tersebut benar-benar dapat dipercaya (amanah), seperti panitia renovasi musholla dekat rumah tersebut, sehingga membuat penginfak merasa lega. Harta yang mereka sisihkan diperuntukkan buat kepentingan sebenarnya.

Banyaknya penginfak juga menunjuk pada fakta bahwa kini boleh dikata tingkat ketaatan beragama masyarakat sangat tinggi. Hal ini dibuktikan dengan semangat berinfak yang semakin meninggi. Tidak jarang kalau kita amati, pemberi infak itu justru remaja berseragam sekolah. Artinya, semangat ketaaatan beragama itu telah tumbuh di kalangan generasi muda. Tentulah hal ini membanggakan.

Hal sebaliknya, kadang muncul juga semacam suara minor, bahwa kegiatan penarikan infak di jalanan itu menunjukkan betapa umat ternyata lemah secara finansial, hingga musti menarik infak di jalanan. Suara ini didorong oleh kerangka ideal semestinya umat tidak sampai “sebegitunya” dalam mencari solusi untuk merenovasi tempat ibadah. Mestinya ia membuat proposal tertulis dan kemudian dikirimkan kepada instansi pemerintah maupun swasta, sehingga tampak elegan dan “lebih bermartabat”. Instansi-instansi itulah yang telah tertata birokrasi dan administrasinya, sehingga berharap donasi yang diberikan juga akan dicatat secara baik. Asumsi ini akan beriringan dengan harapan jumlah donasi yang diberikan akanlah tidak kecil.

Namun kadang mimpi tinggallah mimpi. Tidak tertutup kemungkinan maraknya kegiatan penarikan infak di jalanan itu juga sebetulnya bentuk pelampiasan karena acuhnya instansti terkait. Padahal panitia benar-benar membutuhkan dukungan untuk merenovasi atau membangun tempat ibadah. Mereka kerap mendapatkan jawaban sebaliknya, meski juga telah mengirimkan proposal tertulis. Di pihak lain, para direktur mungkin mengeluh mengingat banyaknya proposal pembangunan tempat ibadah yang masuk, di tengah beban berat target capaian instituti yang dibebankan. Lalu jawaban pun mengatakan, mohon maaf tidak bisa berpartisipasi, karena sudah menyumbang untuk tempat lain. Padahal, belum tentu juga benar-benar menyumbang ke daerah lain.

Penulis sendiri pernah mengalami kejadian yang di luar dugaan. Ketika membantu panitia renovasi sebuah tempat ibadah, penulis ditugaskan untuk mengambil infak dari sebuah rumah sakit terbesar di Jakarta Selatan. Seorang kawan di ujung telepon memberi kabar dari instansi tersebut untuk segera datang. Harapan akan mendapat donasi yang besar terbayang di pelupuk mata, sebab instansi ini sangat terkenal dan sudah kawakan. Begitulah yang dapat ditangkap dari nada telponnya. Berangkat dari kawasan Jakarta Pusat menggunakan taksi. Sampai di sana harus menunggu karena masih diproses. Setelah cukup lama menunggu, ternyata donasi yang dikeluarkan tidak lebih tinggi dari ongkos perjalanan ke tempat itu. Muncul kebingungan bagaimana menyampaikan pada kawan panitia pembangunan yang di luar daerah itu. Akhirnya terkirimlah melalui wesel pos sejumlah uang yang diberikan disertai bukti kuitansinya.

Mengandalkan swadaya umat tempat ibadah setempat juga tidaklah masuk akal. Umat sekitar musholla hidup amat pas-pasan. Kebanyakan mustad’afiin, kaum lemah. Dikenakan iuran tinggi amat tidak masuk akal sebab memenuhi kebutuhan sehari-hari saja sulit bukan main. Aparat setempat juga tidak berdaya membantu finansial pembangunan tempat ibadah. Pilihan untuk memberikan “ijin” penarikan infak di jalan bisa jadi pilihan terbaik.

Transparansi Publik

Terus terang saja, di benak sebagian orang, termasuk penulis, membayangkan jika renovasi atau pembangunan tempat ibadah itu tidak selayaknya dengan cara demikian. Namun siapa lagi yang peduli. Nyatanya sudah tidak terpikirkan lagi adanya dampak sosial yang ditimbulkan. Suara bising setiap hari, laju kendaraan terhambat dan yang lebih serius sebenarnya terkait dengan transparansi. Singkatnya, bagaimana kita bisa medapatkan laporan penyumbang infak, jika cara infaknya saja demikian. Proses pembangunan seperti ini teramat menekanan hasil ketimbang prosesnya itu sendiri. Persis seperti kaum neo kapitalis dan neo liberal yang tidak lagi mementingkan pengalaman dan kesadaran individu para individu, yakni para laku penginfak, yang terpenting adalah infaknya.

Kondisi inilah yang sedikit mengungkapkan keraguan. Dalam hal ini masyarakat sepertinya dibiarkan menyelesaikan persoalannya sendiri. Padahal, UU Desentralisasi menggariskan bahwa soal agama masih dalam kewenangan pusat. Jika mengacu pada bunyi UU tersebut, maka semestinya persoalan penarikan infak ini juga diperhatikan oleh para penentu kebijakan negeri ini. Wallhu a’lam bisshowab!**

*Zaenal Abidin EP adalah seorang sosiolog. Executive Director of the Center for Asian Studies (CeNAS) di Jakarta.