BUKAN DI SOLUSI, TAPI DI ASUMSI

“Apa kabar, Mas? Masih ingat kejadian empat tahun lalu? Sampeyan ingat kejadian orangtua siswa yang keluar dari ruang konsultasi sambil marah-marah menyobek laporan asesmen IISA kemudian membuang remah sobekannya ke situ?” sapa dan tanya seorang lelaki umur 60-an sambil mengarahkan jari telunjuk kanannya ke kotak penampung sampah di pojok ruangan konsultasi.

Aku memandangnya, memastikan siapa dia. Kulihat di berkas jadual. Tertulis nama Gilardo Subowo, ayah dari Dwipa Arkada, siswa kelas 10 SMA X. Lengkapnya, Prof. Dr. Gilardo Subowo, M. Eng, seorang peneliti  senior pada sebuah lembaga penelitian yang terkemuka di  Indonesia.

 “Ya, rasanya saya pernah berjumpa seseorang seperti Bapak dan saya ingat betul kejadian dramatis itu. Tapi, rasanya pelakunya bukan Bapak,”  jawabku.

 “Ha ha ha….Sayalah aktor intelektual penyobekan berkas laporan itu. Saya Gilardo, orangtua Dimas Parengka, kakak Dwipa Arkada yang akan saya konsultasikan profil kecerdasannya. Saya mendapatkan jadual hari dan jam ini. Ngomong-ngomong, bolehkah saya menyegarkan ingatan sampeyan?” ketawanya berderai penuh keramahan.

 “Silahkan, Pak Lardo!” jawabku.

 “Empat tahun lalu, saya benar-benar merasa bahwa sampeyan kelewat ngawur dengan rekomendasi agar anak saya Dimas Parengka, yang jeblok di komponen kecerdasan Logika Matematika dan Eksistensial, belajar violin. Ini “shock” saya pertama. Shock kedua, bagaimana mungkin Dimas Parengka, anak pertama seorang ayah yang jejak rekam akademiknya hampir tanpa hambatan, baik menyelesaikan Bachelor, M.Eng, maupun Ph.D. dengan predikat “cum laude” di bidang Matematika Kalkulus bisa punya kecerdasan Logika Matematika yang sejeblok itu. Sementara, sampeyan tahu, ibunya juga Profesor Doktor bidang Teknologi Aviasi yang jelas tak mungkin jeblok di Matematika” ujarnya.

 “Dengan kekecewaan seperti itu, bukankah agak jangkal jika sekarang Bapak datang lagi ke saya?” tanyaku.

 “Di situlah, sebenarnya saya harus bertabik “suroboyoan” ke sampeyan. Sejujurnya saya mau katakan, “Encen-e sampeyan iku jangkrik temenan” (Jawa: Anda memang benar-benar jangkrik). Serangga yang berisik suaranya boleh disepelekan, tapi pengaruhnya tak terbendungkan. Gara-gara kejadian pada anak saya Dimas Parengka empat tahun lalu itu, sekarang saya harus datang lagi ke sampeyan untuk mendapatkan saran buat adiknya, Dwipa Arkada. Ha ha ha…,” ungkapannya berseloroh diselingi ketawanya yang lepas berderai. Membuat orang yang lewat gang di depan ruang konsultasi harus menengok, mencari tahu ada kejadian apa di dalam ruangan.

 “Mungkin ini kabar menggembirakan, Mas. Percaya tak percaya, setiba di rumah setelah menyobek laporan asesmen itu di depan mata sampeyan, kami akhirnya memutuskan agar Dimas Parengka diikutkan les violin seperti sampeyan sarankan. Wouw, violinnya maju pesat. Dan anehnya, memang dia jadi doyan sekali matematika. Boleh percaya boleh tidak, Mas. Sekarang dia keterima di program Ph. D. di University of Kent, Inggris untuk program akselerasi Ph.D bidang Matematika Kalkulus. Itu berkat prestasinya menyelesaikan jenjang Bachelor dan M. Sc-nya hanya dalam waktu 32 bulan dengan predikat “cum laude”. Buat saya, ini ‘khan gila. Coba, apa hubungan antara belajar violin dan “new born” dalam kemampuan matematika? Itulah tadi saya bilang, sampeyan jangkrik temenan” katanya berapi-api.

 “Jika jarum jam dapat diputar balik, apa yang Pak Lardo dan isteri mau lakukan andai saat itu tak mengalami “kecelakaan” bertemu dengan saya?” tanyaku berandai.

 “Ya, sangat jelas! Kalau kelemahan dan ‘blunder’nya di urusan matematika, ya dia harus “diteter habis” di matematika itu. Tak ada jalan lain,” tegasnya.

 “Kalau boleh tahu, apa asumsi Pak Lardi tentang kelemahan Dimas Parengka waktu itu, dan langkah apa yang relevan untuk melakukan penanganan?”

 “Sangat jelas itu, Mas! Kelemahan harus di-manage, diarahkan untuk ditingkatkan. Memangnya ada yang salah dengan cara berpikir saya ini, Mas?” ia minta konfirmasi.

 “Kalau ‘existing condition’ Dik Dimas Parengka dalam matematika Bapak tengarai lemah, tidakkah semua usaha meningkatkannya justru akan berujung pada peningkatan intensitas kelemahannya?” tanyaku.

 “Lha, pertanyaan sampeyan yang terakhir ini yang saya bilang “jangkrik” itu. Kalau saya belum kenal sampeyan, Mas Edy, saya pasti kaget dan merobek laporan seperti yang saya lakukan saat itu. Jujur, saya baru “ngëh” tentang yang sampeyan sarankan setelah empat bulan kemudian, yaitu setelah saya menyaksikan perubahan yang luar biasa pada diri Dimas Parengka,” komentarnya akrab, seolah kami sedang berbincang di cafe, tidak sedang menjalani sesi konsultansi.

 “Baik, Pak Lardo. Kita akan segera berfokus pada pembahasan profil kecerdasan Dik Dwipa Arkada, adik dari Dimas Parengka. Kalau boleh saya garisbawahi, tadi Pak Lardo mengatakan bahwa  kelemahan dan ‘blunder’ Dik Dimas di matematika harus “diteter habis” dengan “drilling” dalam soal-soal matematika. Saya kira, di sini Pak Lardo memang telah menarik konklusi secara benar, meski berpijak pada premis mayor atau asumsi yang salah. Lantaran Pak Lardo berasumsi bahwa kelemahan harus di-manage, diarahkan, dan ditingkatkan; maka konklusi pemecahan masalah yang Pak Lardo tarik pun mengarah pada solusi meningkatkan matematika yang saat itu lemah, yakni dengan “meneter habis” Dik Dimas di matematika. Begitu nampak bahwa pijakan asumsi Pak Lardo salah, sebenarnya bisa diyakinkan bahwa prinsip di balik asumsi yang Pak Lardo terapkan pun salah,” tegasku.

 “Lho, ‘kok bisa? Di mana letak kesalahan prinsip yang saya terapkan? Apa yang salah pada asumsi saya dengan menerapkan prinsip ‘memperbaiki hal yang lemah’? Bukanlah hal yang seharusnya dilakukan orang, kalau tidak malahan dilazimkan, harus menjadi semacam postulat kenyataan yang berangkat dari prinsip ‘memperbaiki hal yang lemah’?” desak Pak Lardo.

“Konklusi Bapak yang kelihatannya logis, yakni berupa solusi kelemahan melalui upaya memperbaiki, hanya akan membawa Dik Dimas makin tenggelam di dalam kelemahannya. Barang siapa memperbaiki kelemahan, ia akan terus hidup di masa lalu yang membawanya ke kelemahan yang sama. Sebab, apa pun kelemahan seseorang, baginya adalah baik adanya dan, dengan demikian, tidak perlu diperbaiki,” tegasku.

 “Luar biasa! Saya jadi ingat mata kuliah riset saat saya kuliah. John Stuart Mill mengaitkan secara runtut kaitan antara prinsip, asumsi, postulat dan konklusi. Saya paham betul kerangka berpikir yang sampeyan jelaskan tadi, tapi belum menemukan kelemahan asumsi saya sebagaimana sampeyan maksud terkait usaha meningkatkan kecerdasan.”

 “Pak Lardo, sejauh saya kaji dari belasan ribu sesi konsultasi kecerdasan, prinsip yang lebih sahih terkait usaha meningkatkan kecerdasan tidak berorientasi pada “memperbaiki kelemahan”, sebaliknya justru “mendayagunakan kekuatan”. Meskipun Logika Matematika Dik Dimas termasuk rendah (15), terdapat komponen spektakuler yang harus diperhitungkan pada komposisi kecerdasan Dik Dimas, antara lain Spasial (97), Musik (95), Intrapersonal (87), Naturalistik (75) dan Eksistensial (74). Komposisi ini yang menjadi dasar saya merekomendasikan agar Dik Dimas belajar violin sebagai cara efektif meningkatkan Logika Matematikanya. Saya mau menegaskan, jangan keburu menentukan solusi masalah sebelum dapat dipastikan kebenaran asumsi yang diberlakukan dalam hal mendefinisikan masalah. Kesalahan Bapak bukan di solusi, tapi asumsi. “Instead of looking for ways of solving problems, it wil be better to criticize the assumptions in looking at the problem. (ES)

***Edy Suhardono adalah seorang doktor psikologi, psikolog, dan konsultan senior pada IISA Visi Waskita, Assessment, Consultancy, and Research Centre [http://visiwaskita.com/].

2 comments for “BUKAN DI SOLUSI, TAPI DI ASUMSI

  1. Fiki Riciyandi
    November 22, 2012 at 18:53

    Terima kasih pak edy,artikel ini sangat membantu saya dalam memahami bagaimana menggunakan ” Daya Kekuatan “.

    Pertanyaan saya, bagai mana dengan orang-orang yang tidak memiliki kemampuan ataupun kesempatan untuk mengikuti Consultacy semacam ini atau berbagai macam test-test sehingga mengetahui ” Daya Kekuatan ” dirinya?

    Terima kasih

  2. November 23, 2012 at 01:24

    Sdr. Fiki Riciyandi,

    Semua manifestasi yang pada akhirnya dapat kita ukur dan kemudian kita beri judul sebagai “kemampuan”, “keterampilan”, atau “kompetensi” (selanjutnya saya sebut “3K”) merupakan hasil olahan dan tautan komposit berbagai ragam talenta atau potensi kita.

    Berbagai tes sebagaimana Anda sebut nampaknya tidak mengungkap ragam talenta atau potensi ini, tetapi lebih mengungkap 3K. Targetnya, menakar/mengukur tingkatan atau intensitasnya sehingga 3K dapat dimanfaatkan untuk tujuan tertentu. Misalnya, seseorang dites untuk ditentukan seberapa tingkat kepemimpinannya. Hasil tes dijadikan dasar untuk memanfaatkan orang tersebut bagi kepentingan organisasi, kelompok, atau gugus kepentingan tertentu.

    Kalau Anda cermati logikanya:
    (1) ada kepentingan tertentu dari pihak tertentu,
    (2) ada kemungkinan 3K seseorang yang cocok atau tak cocok untuk mendukung kepentingan dari pihak tersebut,
    (3) diperlukan suatu prosedur untuk menentukan orang dengan 3K yang mendukung kepentingan dari pihak tersebut.

    Jadi, pada umumnya tes merupakan prosedur yang memungkinkan 3K seseorang dapat dimanfaatkan guna mendukung kepentingan dari pihak tersebut. Dalam logika ini, selain kesadaran seseorang tentang 3K-nya sendiri sebenarnya didikte dan didefinisikan oleh kepentingan milik pihak tertentu, orang tersebut bahkan tidak mengetahui nilai dan harkat-martabat dirinya kecuali ia DINILAI berdasar kepentingan tertentu dan kehendak pihak tertentu. Ia bernilai tak lebih dari benda atau materi, atau setidaknya ia dibendakan atau dimaterikan. Artinya, ia tetap tidak mengenali dan menemukan nilai dirinya.

    Logika ini yang saya kritisi habis, tetapi tidak saya habiskan. Sebab saya mengritik dengan menciptakan alat alternatif yang dapat mengungkap ketalentaan seseorang sehingga orang tersebut yang gilirannya menentukan nilai dirinya, men-drive dirinya sendiri, dan membebaskan dirinya untuk berkontribusi pada dunia bahkan untuk membangun 3K-nya, dan TIDAK DIMANFAATKAN oleh dunia.

    Bagi pribadi yang dianugerahi kesadaran diri –hal yang secara teknik-metodik saya istilahkan dengan kecerdasan Intrapersonal berlebih—ia tidak memerlukan pendapat di luar dirinya untuk mendefinisikan dirinya sendiri. Sebaliknya, bagi pribadi yang teranugerahi dengan kecerdasan Intrapersonal terbatas, ia memerlukan bantuan dari orang lain yang teranugerahi dengan kecerdasan Intrapersonal berlebih, justru karena mereka yang teranugerahi kecerdasan Intrapersonal berlebih inilah yang dapat mentransfer daya kesadaran dirinya sendiri untuk menyadarkan diri yang lain.

    Kesimpulannya, pemetaan dan konsultansi yang saya kerjakan diperlukan oleh pribadi yang teranugerahi dengan kecerdasan Intrapersonal terbatas. Sebaliknya, tidak diperlukan oleh pribadi yang teranugerahi dengan kecerdasan Intrapersonal berlebih.

    Adapun yang saya kerjakan setelah melakukan amatan, refleksi, dan penelitian selama 25 tahun terakhir ini adalah menciptakan prosedur untuk membantu mereka yang teranugerahi dengan kecerdasan Intrapersonal terbatas agar mampu menentukan nilai dirinya, men-drive dirinya sendiri, dan membangun 3K-nya.

    Tentu saja yang saya kerjakan bukan monopoli saya. Banyak pakar dan cerdik bestari yang melakukan dengan cara mereka masing-masing. Semua yang saya kerjakan dan layankan semata berbasis pada proses panjang penelitian saya. Hal yang makin menguatkan keyakinan saya akan kebenaran dari metode dan teknik saya (silahkan cermati: BUKAN “membenarkan keyakinan” saya) adalah bahwa dalam 7 tahun terakhir teknik dan metode saya ini sudah dirasakan manfaatnya oleh hampir 20 ribu klien dengan hasil yang mencerahkan.

    Dengan ini saya tidak sedang membesarkan hal kecil atau mengecilkan hal besar dengan mengiklankan apa yang saya kerjakan. Saya sekadar menanggapi pertanyaaan Anda dan saya senang dengan pertanyaan Anda.

    Salam dalam keterilhaman,

    Edy Suhardono

Comments are closed.