Bunuh Diri Massal dalam Refleksi Psikososial

Mug shot of David Koresh.

Mug shot of David Koresh. (Photo credit: Wikipedia)

Oleh Mohammad Fauzy

Ada mati dengan cara biasa, ada mati dengan cara luar biasa. David Koresh, 33, memimpin umatnya untuk mati dengan cara bersama. Sekitar pukul 22.10 WIB, 20 April 1993, mereka membakar “Ranch Apocalypse”, tempat persekutuan mereka, 16 km di timur kota Waco, Teksas. Di kompleks seluas 32 hektare itu, hanya kurang dari setengah jam Koresh bersama 85 umatnya, termasuk 17 anak-anak, telah menjadi mayat.

Bunuh diri massal di “Ranch Apocalypse” adalah fenomena terbesar setelah bunuh diri massal di Jonestown, 18 November 1978. Di kota terpencil barat laut rimba Guyana itu, pendeta Jim Jones memimpin umat People’s Temple untuk mereguk minuman bercampur potassium cyanide. Dalam sekejap, lebih dari 910 orang termasuk 276 anak-anak, diam tak bernyawa.

Bunuh diri massal di “Ranch Apocalypse” sungguh mengejutkan. Sama mengejutkan dengan bunuh diri massal di Jonestown. Dunia bertanya, bagaimana fenomena itu dapat terjadi? Apakah yang menyebabkan puluhanan bahkan ratusan orang mau membunuh diri dengan sukarela meskipun harus mengorbankan keluarga dan anak-anak mereka?

Distorsi
Persepsi mengenai orang lain dan lingkungan merupakan faktor terpenting dalam menentukan perilaku seseorang. Jika persepsi terhadap orang lain dan lingkungan positif, perilaku terhadap orang lain dan lingkungan akan positif. Jika persepsinya negatif, perilaku terhadap orang lain dan lingkungan pun akan negatif.

Persepsi ialah hasil pengorganisasian pengamatan seseorang terhadap orang lain dan lingkungannya, sehingga dunia menjadi bermakna: positif atau negatif. Persepsi positif atau negatif dibentuk berdasarkan informasi dari pengamatan langsung maupun tidak.

Anggota People’s Temple yang dipimpin Jones, secara fisik terisolasi dari keluarga dan dunia luar. Kamp mereka di Jonestown dikelilingi rimba Guyana yang liar dan Jones selalu mengulang-ulangi bahaya rimba itu dengan berlebih-lebihan, sehingga umatnya selalu dihantui ketakutan.

Mata rantai hubungan mereka ke pusat kota, ke Georgetown dan San Francisco, juga terputus. Radio sebagai satu-satunya alat komunikasi dikontrol oleh Jones. Anggota People’s Temple tidak memiliki harapan untuk mendapat informasi yang akurat.

Persepsi mereka tentang dunia luar didistorsi. Jones selalu mengatakan, pemerintah memusuhi mereka. CIA dan FBI mengatur rencana menghancurkan gerakan People’s Temple. Penyerangan, khususnya, akan dilakukan CIA dan FBI di musim penghujan. Sehingga, umatnya mempersepsi dunia luar yang negatif: tempat perang, bahaya nuklir dan penuh kejahatan.

Pendistorsian persepsi terhadap dunia luar juga dilakukan Koresh terhadap umatnya. Mereka diisolasi dalam “Ranch Apocalypse”, 16 km dari Waco, Teksas. Diisolasi dari keluarga dan dunia luar: anggota Branch Davidian yang dipimpinnya dilarang menonton televisi.

Kehebatan Koresh, walau tempat itu tak seterpencil Jonestown, ia mampu seperti Jones dalam membentuk persepsi bahwa dunia luar adalah musuh. Doktrinnya, ia dan umat Branch Davidian akan bertempur dengan dunia luar yang jahat tersebut. Simbol perjuangan mereka adalah pertempuran Harmagedon, yang juga diawali serangan dari Pemerintah Amerika.

Jim Jones tidak hanya memutuskan relasi umatnya dengan keluarga mereka di luar People’s Temple, tapi juga menghancurkan relasi personel dalam keluarga umatnya sendiri. Ia mentrasfer anak-anak dari orangtua asli ke orangtua lain secara legal. Ia melarang suami-istri hidup bersama. Relasi yang diizinkan hanya dengan dirinya sebagai Father.

Selain itu, setiap anggota keluarga diwajibkan Jones mengawasi sesama anggota keluarga. Mereka wajib melaporkan kepada Jones bila ada anggota yang menyimpang dari norma kelompok. Karena itu, relasi personel dan kinship antaranggota keluarga People’s Temple: suami-istri-anak-umat didistorsi.

Perlakuan sejenis juga diterapkan Koresh terhadap anggota Branch Davidian yang dipimpinnya. Ia melarang mereka sebagai umat untuk merayakan ulang tahun anak-anak mereka. Suami-istri dilarang tinggal bersama. Mereka disumpah untuk selibat, tidak melakukan hubungan seks, kecuali hanya dengan Koresh. Bahkan, Koresh pun mengawini adik ipar dan mertuanya sendiri.

Karena itu, relasi antaranggota keluarga umatnya menjadi kabur. Sistem kinship dan peran antaranggota keluarga menjadi jungkir balik, sehingga relasi antarpersonel menjadi kacau-balau. Didistorsi.

Kepatuhan
Conformity ialah situasi ketika individu-individu mengubah keyakinan atau perilaku mereka, sehingga menjadi kurang lebih sama dengan anggota-anggota kelompok lain. Anggota People’s Temple sebagai anggota suatu kelompok, ditekan untuk mematuhi norma-norma tertentu. Mereka harus conform, terutama dengan norma-norma yang ditentukan Jones.

Agar mereka patuh secara sosial, Jones mengembangkan teknik-teknik tertentu untuk memaksa mereka. Yang menyimpang dan tidak loyal mendapat ganjaran. Anggota dikondisikan untuk memberikan pengakuan diri dan ketidaksempurnaan diri mereka dalam pertemuan-pertemuan. Karena itu, mereka menjadi sangat patuh sehingga tergantung pada kelompok, bahkan pada Jones pribadi. Sebab, ia adalah “maha manusia” yang, menurut Jones, perintah-perintahnya sama kuat dan sejajar dengan Kristus.

Tak heran mereka lalu menjadi ekstrem terhadap segala penyimpangan dan ketidakloyalan terhadap Jones dan norma kelompok. Perlakuan keras ditimpakan kepada setiap anggota, khususnya kepada anggota yang berhasrat meninggalkan kelompok. Tidak ada yang berani melawan. Kehilangan kebebasan sumber ekonomi karena “semua” telah diserahkan untuk menghidupi kelompok dan kehilangan dukungan keluarga, karena “semua” telah ditinggalkan untuk mengikuti kelompok, meningkatkan ketergantungan anggota terhadap kelompok.

Kelompok menjadi satu-satunya pilihan hidup. Pada anggota Branch Davidian, hal ini tampak penyerahan total mereka kepada Koresh. Mereka siap mengorbankan apa pun. Mereka menyerahkan seluruh kekayaan dan pendapatan kepada kelompok. Mereka menyerahkan istri-istri mereka untuk disetubuhi dan diperistri Koresh.

Mirip Jones, untuk menciptakan kepatuhan sosial secara total kepada dirinya dan norma kelompok, Koresh menggunakan teknik tertentu untuk memaksa umatnya melakukan penyerahan diri. Ia sanggup membacakan injil dan berkhotbah tentang hari akhir siang-malam. Anggota Branch Davidian ditakut-takuti. Koresh menciptakan krisis mental yang berkesinambungan, sehingga umatnya selalu berpegang pada Koresh sebagai paling sempurna, “maha manusia”, yang menurut Koresh sendiri merupakan reinkarnasi Kristus.

Krisis Identitas
Distrorsi persepsi pada anggota People’s Temple dan Branch Davidian, membuat mereka lepas dari realitas dunia luar. Dunia luar menjadi musuh, kelompok tempat paling aman untuk memupuk kekuatan melawan dunia luar.

Distrorsi relasi pada anggota People’s Temple dan Branch Davidian membuat mereka mengalami alienasi, krisis identitas, dan kegaulan afeksi. Suami tak dapat lagi menyebut istri. “sebagai apa”, karena istrinya juga adalah istri pimpinan. Anak juga tak dapat menyapa ibu “sebagai apa”, karena ibu sendiri adalah juga istri suaminya, sekaligus pemimpin umat.

Conformity pada norma kelompok dan kebenaran-kebenaran sabda pimpinan sebagai “maha manusia” yang merupakan reinkarnasi Kristus atau utusan Tuhan atau utusan siapa pun, menyebabkan kepatuhan mutlak untuk menyerahkan diri, harta, istri, anak, keluarga dan melakukan apa pun.

Saling pengaruh antara tiga kondisi itu, persepsi yang distrosi, relasi antaranggota keluarga yang putus, dan kepatuhan yang ekstrem, mampu mendorong seorang untuk bunuh diri massal di Jonestown maupun di “Ranch Apocalypse” atau di mana saja, termasuk juga melakukan pembunuhan.

Memang, karena baik di Jonestown maupun di “Ranch Apocalypse” terdapat sejumlah anak yang mati. Bahkan di Jonestown, menurut psikolog Clifford T Morgan dan kawan-kawan (1989), terdapat sejumlah korban yang masih bayi. Menurut mereka, anak-anak tidak dapat menyetujui atau dimintai persetujuan untuk membunuh diri. Secara legal, kematian mereka dapat dikategorikan sebagai korban pembunuhan.

Karena itu, ada satu segi penting dalam kehidupan yang harus terus-menerus diperhatikan, terutama oleh para pemimpin dan orangtua. Perilaku seperti pendeta Jim Jones dan David Koresh dapat hadir di dalam diri siapa saja. Pada seorang kepala negara, seorang rektor sampai kepada seorang kepala keluarga di belahan bumi mana pun. Namun siapa pun, dimana pun dan dengan cara apa pun bunuh diri dan pembunuhan massal itu dilakukan, di mata Tuhan semua tetap sama: setelah mati, pelakunya ada yang ke surga, ada yang ke neraka. ***

Note: Tulisan ini telah dimuat di Suara Pembaruan, 30 April 1993

3 comments for “Bunuh Diri Massal dalam Refleksi Psikososial

  1. mobil keren
    March 17, 2014 at 17:50

    terima kasih atas informasinya
    sungguh bermanfaat artikel ini..thanks for share
    mobil keren

  2. ferry lazzuardo
    April 11, 2014 at 15:22

    terima kasih atas informasinya..
    semoga dapat bermanfaat bagi kita semua 🙂 Gigi

Comments are closed.