MAMA DAN PAPA, BERDOALAH UNTUKKU!

 Orang dengan kecerdasan intrapersonal tinggi mahir menelusur ke dalam batin dan mencari tahu sendiri perasaan, motivasi dan tujuan mereka. Mereka cenderung introspektif dan selalu berusaha memahami diri.  Mereka intuitif dan biasanya tertutup. Mereka belajar dengan baik secara mandiri. Karakteristik mereka: introvert, suka bekerja sendiri, filosofis, sadar diri, perfeksionis, sering berpikir wirausaha,  intuitif,  independen, dan banyak menghabiskan waktu untuk berpikir-merefleksikan.  Mereka orang-orang yang senang belajar tentang diri. Tidak heran bila sebagian dari mereka berbakat menjadi psikolog,  filsuf,  penulis, dan teolog. Tidak heran juga bila orang-orang indigo, orang-orang yang memiliki kekuatan batin, anak-anak luar biasa, orang-orang berpengaruh, sering memiliki kecerdasan intrapersonal tinggi.

Anak ibu ini adalah salah satu dari mereka yang memiliki kecerdasan intrapersonal sangat tinggi. Kalau boleh saya bertanya, bagaimana ibu dapat memperoleh anak seperti ini?

Ibu: Memperoleh gimana? Maksud, Bapak?

Saya ingin ibu menceritakan, apa yang ibu lakukan ketika anak ini masih dalam kandungan? Saya juga ingin ibu menceritakan pengalaman ibu dalam mengasuh anak ini agar saya nanti dapat menceritakannya kepada ibu-ibu lain. Siapa tahu akan bermanfaat buat mereka.

Ibu: Tidak ada yang istimewa. Hanya, ketika sedang mengandung Ira, saya ditimpa cobaan yang sangat berat. Ketika hamil lima bulan, kakak Ira yang masih berusia tiga tahun, meninggal.

Hening sesaat.

Maaf, Bu. Maaf  jika saya membuat ibu bersedih dengan cerita ini.

Ibu: Tidak apa-apa, Pak. Saat itulah, setiap hari, saya habis-habisan berdoa kepada Allah agar Ira yang saya kandung diberi keselamatan dan kebaikan. Saya doakan dia siang dan malam, Pak.

Oh, jadi karena itu anak ibu ini intrapersonalnya sangat kuat. Ia memiliki kekuatan batin yang luar biasa.

Ibu: Apa itu istimewa?

Ya, setahu saya, selama melakukan konseling, hanya beberapa anak saja yang memiliki intrapersonal sangat bagus, hanya sekitar 15 persenan

Ibu: Oh, yang benar, Pak. Saya tidak menyangka Ira termasuk salah satu dari anak istimewa itu.

Karena itu, saya ingin sekali ibu melanjutkan cerita ibu dalam mengasuh Ira. Saya juga melihat ia memiliki hubungan batin yang kuat dengan ibu. Hal ini sangat menunjang kemampuan intrapersonalnya. Kalau saya boleh menebak, anak ibu ini paling tidak, ibu susui secara penuh, sekitar dua tahun!

Ibu: Bapak salah, he he he.

Salah?

Ibu: Ira saya susui secara terus-menerus selama tiga tahun! Selama itu ia saya beri ASI.

Oh, saya semakin yakin. Dengan cara itu, dia memperoleh cukup sentuhan dari ibu, hubungan batin yang baik dengan ibu. Hal ini sangat mempengaruhi kekuatan batinnya sendiri. Selain lebih sehat, ia juga lebih percaya diri.

Ibu: Ya, Pak, ia jarang sakit dan sangat mudah dinasehati. Saya merawat dia sepanjang waktu, selama masa-masa pertumbuhannya. Saya jarang menitipkan pengasuhannya pada orang lain. Saya berhenti bekerja, hanya menjaga dan mengasuh dirinya.

Pengalaman yang luar biasa. Saya akan menceritakan hal ini pada setiap ibu yang menginginkan anaknya cerdas secara intrapersonal. Karena pada masa-masa seperti itu, anak tidak mungkin menuntut orangtuanya, “Mama dan Papa, berdoalah untukku!”***

26 comments for “MAMA DAN PAPA, BERDOALAH UNTUKKU!

  1. RHEZA TRILAKSANA
    September 18, 2012 at 21:18

    saya rheza trilaksana mahasiswa PNJ TGP, saya terkesan pada cerita ini, karena doa kedua orang tua tidak ada hentinya kepada seorang anak, meskipun masih dalam kandungan dan tertimpa cobaaan dalam ceita ini. sentuhan dan kasih sayang seorang ibu lah adalah obat dari segala penyakit.
    Saya juga pernah mengalami sakit dan pernah dirawat, saya bisa sembuh karena ibu saya selalu ada disamping saya waktu itu, tidak tau kenapa saya ngerasa nyaman berada disamping ibu saya dan alhamduliah penyakit itu hilang dan saya sembuh, terima kasih ibu, kebaikan dan ketulusanmu tidak akan pernah bisa terbalaskan, mungkin saya cuma bisa berdoa buat mereka. amin.

    • Mohammad Fauzy
      September 23, 2012 at 15:42

      Hubungan anak-ibu sudah terbentuk sejak anak dalam kandungan. Sampai ia lahir dan mencapai usia enam tahun, anak sangat membutuhkan sentuhan yang banyak (antara lain lewat menyusui) dan perawatan yang intensif dari kedua orangtua. Peristiwa jalinan batin ibu anak itu tidak dapat diulang, tapi dapat diintervensi. Walau masih dalam kandungan, anak sudah mampu merespon suara dan perilaku ibu sejak dalam kandungan. Sedangkan kekuatan batinnya secara relijius, terus berkembang sampai puncak perkembangan otaknya “berhenti” di usia 40 tahun. Peristiwa ini lebih bersifat “biologis” dan tidak dapat diintervensi (bawaan lahir). Jadi, kekuatan intrapersonal seseorang sebagian dibawa lahir (tidak dapat diintervensi) dan sebagian lagi dipengaruhi faktor eksternal, terutama orangtua (dapat dintervensi). Anda beruntung bila memiliki hubungan yang dekat dengan ibu.Karena itu, balaslah juga kebaikannya dengan berdoa kepada Yang Maha Mencipta.

      Terimakasih.

  2. Abdul Harry Muniri
    September 18, 2012 at 21:59

    Saya ingin bertanya, bagaimana dengan kecerdasan intrapersonal anak yg selalu dititipkan kepada pengasuh dan juga diberikan asi botolan. Apakah sudah pasti kecerdasan intrapersonalnya tidak bagus? Bagaimana cara meningkatkan kecerdasan intrapersonal anak ketika anak sudah berada di bangku smp?

    Terima kasih

    • Mohammad Fauzy
      September 18, 2012 at 23:15

      Anak yang dititipkan pada pengasuh tidak selalu buruk intrapersonalnya. Dalam beberapa kasus, anak yang dititipkan pada kakek atau neneknya, ada yang bagus. Tapi, tentu lebih buruk bila dititipkan pada orang lain, misal pembantu rumah tangga. Saya baru menemukan satu dari ratusan kasus yang ada bahwa hanya dengan ASI seorang anak sangat bagus intrapersonalnya. Kebanyakan intrapersonalnya rendah. Sedangkan bagi anak yang sudah besar (sudah SMP), untuk meningkatkan intrapersonalnya, dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain, yang mudah: membiasakan dia berdiskusi dengan cara-cara reflektif, tidak berdebat. Teknik ini tidak dapat dilakukan pada anak-anak yang masih kecil, SD. Biasakan juga dia untuk merenungkan hal-hal yang sudah ia lakukan pada hari ini (tafakur) pada saat menjelang tidur, kemudian barulah berdoa.

    • September 21, 2012 at 12:46

      Sdr, Abdul Harry Muniri,
      Sejauh penelitian saya, kecerdasan Intrapersonal adalah cerminan dari kejadian “epi-genetik” di masa lalu (ketika janin masih dalam rahim sang ibu), yakni saat di mana sang ibu (dan ayah) berdialog dengan janinnya; persis seperti seorang pemijat yang bertanya kepada lutut bermasalah dari pasiennya, “Tut, kamu minta diurut di mananya”.

      Meski masih menjadi perdebatan tentang kapan dan pada umur berapa janin dikonsepsikan sebagai “manusia dengan hak asasi/hidup” (terkait keputusan abortus provocatus), janin adalah entitas/eksistensi yang hidup mengada dalam haribaan alam semesta, sama halnya dengan detak nadi dan ruang-waktu epigenetik di mana ia berada, yakni rahim dari ibunya (yang juga hidup).

      Oleh sebab itu, tinggi-rendahnya kecerdasan intrapersoal seseorang bersifat bawaan lahir (inborn). Kecerdasan ini bertanggungjawab terhadap kapasitas seseorang untuk: (1) membuat keputusan (bukan mengambil keputusan) dan kepekaan bisnis/kewirausahaan, (2) mengenali/menjabarkan dan mengendalikan emosi/perasaan, (3) beradaptasi terhadap ruang/tempat baru, (4) menangkap kenyataan/data melalui penciuman, perabaan, dan pengecapan; (5) menghayati rangsang musik; (6) mengunduh perasaan, suasana hati, dan niatan orang lain ke dalam sistem perasaannya; (7) memahami keberagaman tipe, gaya, corak kehidupan dengan segala perubahannya; dan (8) jujur dan berendah hati baik kepada dirinya sendiri maupun “yang lain” atau “liyan”.

      Salam dalam keterilhaman,

      Edy Suhardono

  3. September 25, 2012 at 20:13

    saya Septiana Tri wahyuni.
    Mahasiswa

    Dari cerita di atas dapat diambil kesimpulan yang sangat jelas bahwasanya kasih sayang orang tua kandung sangat amat berpengaruh,kemudian lingkungan seperti makanan ataupun asupan gizi yang diberikan, namun tidak menutup kemungkinan orang lain (yang ada juga di sekitar mereka) ikut serta berpengaruh dalam pembentukan sifat dan sikap.

    seperti halnya sebuah fenomena yang saya alami disekitar saya, lebih tepatnya cerita dari anak tetangga yang sudah seperti saudara. dimana ayahnya adalah seorang pelaut yang selalu sibuk berlayar, dan ibunya yang fashionable namun tetap sadar posisinya sebagi ibu dari 4 orang anak. Memang di awal2 merawat anak 1-3 yang adalah perempuan dirawat oleh kakak perempuan si ibu (tante si anak).

    1.anak pertama sukses menjadi bocah yang sangat pintar dan fashionable juga cantik, pandai bicara .
    2.anak kedua kurang terurus dan kurang terkena sentuhan sang ibu maupun sang tante yang selalu membantu, alhasil saat duduk di bangku sekolah sadar anak tersebut sulit sekali belajar membaca maupun menghitung, namun setelah di urus kembali dari awal oleh tantenya, anak itu berkembang pesat menjadi anak yang cantik, pandai bernyanyi dan sudah pandai membaca, hanya saja bersifat tomboy, bertolak berlakang dengan kakanya yg feminim
    3. anak ketiga dan keempat, dari kecil di asuh oleh tantenya (kakak si ibu) dan mereka tumbuh sebagai anak yang aktif dan pintar berbicara atau pun berceloteh.

    dari pengalaman yang saya lihat semua sifat dan sikap anak sangat bergantung terhadap ORANG-ORANG ang mengasuhnya termasuk lingkungan dan faktor lainnya yang ada disekitar dan menjadi kebiasaan di lingkungannya.

  4. Lintangsewu
    October 9, 2012 at 11:05

    Pak Edy dan Pak Fauzy
    Saya seorang Ibu, yang pernah melahirkan dan menyusui, saya sangat terkesan dengan cerita Anda tentang kecerdasan Intrapersonal. Mungkin saya ibu yang kuno, tidak pernah memperhatikan yang namanya kecerdasan intrapersonal ini.

    Saya membaca tulisan ini barulah saya tahu jenis kecerdasan dan kriterianya. Karena sejak lahir hingga dia meninggal saya tidak tahu apa istilah kecerdasan tersebut.

    Pengalaman saya pada waktu hamil, saya harus selalu sehat dan bayi yang saya kandung juga sehat. Bagi saya memang menjaga kehamilan tidak cukup dengan vitamin, makanan enak, atau pemenuhan “nyidam” tetapi berdoa kepada Sang Pencipta juga sangat penting.

    Masalahnya sekarang, bagaimana semua orang akan tahu bahwa keturunannya memiliki kecerdasan tersebut ? Menurut saya penjelasan ini hanya untuk “seseorang khususnya” bukan pada umumnya.Karena hanya yang membaca saja yang tahu hal ini. Perlukah “Sosialisasi” ? Siapa yang dapat melakukan ini ?

    Saya yakin anak-anak dari poor family ( korban Pemiskinan ) dan kurang gizi pasti hanya sebagian kecil saja yang memiliki kecerdasan tersebut ya.

    Mengingat keadaan yang membumi dan melangit mungkin pada setiap kehamilan perlu ada tuntunan sehingga bisa terdiagnosa apakah janin memiliki lecerdasan tersebut. Mengungat tinggi-rendahnya kecerdasan intrapersoal seseorang bersifat bawaan lahir (inborn) dan apakah akan memiliki 8 poin di atas? Apakah rata-rata peningkatan kecerdasan Intrapersonal dapat dilakukan kalau sudah SMP?

    Salam
    Lintangsewu

    • October 11, 2012 at 06:27

      *Tidak semua orang, terutama ibu, mengetahui bahwa perilakunya selama hamil, khusus terhadap janin, mempengaruhi pembentukan kecerdasan intrapersonal anaknya. Hal ini tentu perlu disosialisasikan. Kalau sosialisasi selama kehamilan ibu perlu memutar musik klasik buat janin bisa tersosialisasi, tentu sosialisasi para ibu harus intensif berdoa pun dapat mudah disosialisasikan. Siapa saja dapat mengabarkan hal ini pada setiap orang.
      *Apakah anak-anak dari keluarga miskin dan kurang gizi hanya sebagian kecil saja memiliki kecerdasan intrapersonal? Menurut pengalaman saya, tidak ada kecenderungan hal tersebut. Masalah gizi lebih berhubungan dengan kinestetik.
      *Tidak semua anak yang memiliki kecerdasan intrapersonal memiliki 8 point di atas, selalu terdapat variasi-variasi sesuai dengan variasi kecerdasan intrapersonal mereka.
      *Kecerdasan Intrapersonal masih dapat diasah walau sudah SMP. Hubungan anak-ibu terbentuk sejak kehamilan. Sampai lahir dan mencapai enam tahun, anak membutuhkan sentuhan yang banyak (antara lain lewat menyusui) dan pengasuhan orangtua. Peristiwa jalinan batin ibu anak itu (aspek emosional) tidak dapat diulang. Sedangkan kekuatan batinnya secara relijius (aspek spiritual), terus berlangsung sampai puncak perkembangan otaknya “berhenti” di usia 40 tahun. Bagian otak (korteks prefrontal) ini mulai berkembang sangat awal setelah pembuahan, terus berkembang melalui masa kanak-kanak, mengalami reorganisasi di masa pubertas, dan sebuah studi baru di University College London mengklaim, ternyata bagian ini terus berkembang baik pada usia 30-an dan bahkan 40-an. Karena itu, akan terus selalu ada “pertobatan” sebelum 40 tahun dan sesudahnya semakin jarang. Pada masa ini, usaha anak itu sendiri yang paling menentukan masa-masa terakhir kekuatan intrapersonalnya. Caranya tergantung keyakinan dan agama masing-masing, antara lain, dengan berdoa, berzikir, bermeditasi, bertapa, dan berpuasa.

      Semoga bermanfaat.

  5. Tania Natalin Simanjuntak
    October 10, 2012 at 18:02

    Melihat artikel ini membuat saya sedikit banyak membuat saya bersyukur dilahirkan sebagai perempuan karena betapa seorang ibu dapat memberi pengaruh besar pada anaknyasejak dalam kandungan.

    pertanyaan saya, apakah berapa lama seorang anak diberi ASI dapat menentukan kecerdasan anak tersebut? apakah semakin lama ia diberi ASI semakin ia cerdas? kalau begitu, apakah seharusnya setiap ibu harus memberi ASI selama mungkin pada anaknya? terima kasih sebelumnya pak.

    Tania Natalin S

    • Mohammad Fauzy
      December 1, 2012 at 00:15

      Perlu saya pertegas, ASI memang merupakan sebuah penentu yang berkaitan dengan kesehatan anak, khususnya daya tahan tubuh, namun yang berperan pada intrapersonal anak, justeru adalah sentuhan-sentuhan ibu selama pemberian ASI tersebut. Sentuhan dan pelukan selama menyusui ini sangat berperan dalam mempengaruhi aspek emosial anak, yang erat berkaitan dengan intrapersonalnya. Sampai usia 2 tahun, sebagai mana telah saya jelaskan dalam jawaban-jawaban sebelumnya, anak sangat membutuhkan sentuhan dan pelukan yang banyak. Jadi, banyak menyusui, ya banyak pula sentuhan dari ibunya.

  6. Helga Mahaningrum
    October 12, 2012 at 18:49

    Pak fauzy..saya helga, setelah saya membaca artikel ini saya tertarik dan tersentuh betapa besarnya kekuatan doa seorang ibu sehingga dapat mempengaruhi tumbuh kembang seorang anak.

    Ikatan batin seorang anak memang tidak lepas dari seorang ibu, saya juga sering merasakan hal itu dari yang ibu saya rasakan. Pendapat saya sebagai seorang anak bahwa apa yang ibu perbuat untuk saya merupakan yang terbaik dari apapun dan merupakan cara yang paling baik untuk tumbuh kembang saya, dan saya tidak akan membuat ibu saya bersedih karena saya tahu betapa beratnya seorang ibu.

    yang ingin saya tanyakan, apakah kecerdasan intrapersonal dapat ditingkatkan dengan cara saat ibu hamil lalu anak yang didalam kandungan didengarkan alunan musik Jazz ? padahal menurut saya lebih baik diperdengarkan oleh ayat-ayat suci Al-quran ?

    terima kasih

  7. Hamidah Ahmad
    October 14, 2012 at 10:36

    Asalam. Nama saya Hamidah, setelah membaca artikel di atas saya semakin percaya kalau doa adalah kekuatan terbesar yang dimiliki seorang manusia. terlebih doa seorang ibu pada anaknya. Artikel di atas juga semakin menguatkan bahwa peran seorang ibu amatlah besar dalam kesuksesan anak-anaknya. Dewasa ini marak aksi kekerasan yang melibatkan anak, bila kita urutkan hal tersebut bisa dibilang adalah dampak dari kurangnya sentuhan seorang ibu terhadap anaknya. karena anak yang mendapat sentuhan perhatian yang cukup dari kedua orang tuanya, akan memiliki perangai yang baik karena adanya bertautan tadi. secara tidak langsung sebagai seorang anak saya pun pernah merasakan itu. bisa dibilang hubungan saya dan mama saya cukup baik. sehingga entah mengapa ketika akan melakukan hal yang tidak baik saya akan teringat pada mama saya. percaya atau tidak itulah yang saya rasakan. dan ketika hubungan saya sedang renggang dengan mama saya, saya cenderung melakukan hal yang kurang baik.

    Penulis yang budiman, ada satu yang ingin saya tanyakan terkait kekuatan intapersonal seorang anak, bisakan intrapersonal seorag anak dibentuk ketika ia sudah terlahir? bila iya bagaimana cara melatihnya?
    terima kasih

  8. Ferderica Ryan Agustine
    October 14, 2012 at 20:33

    Setelah membaca artikel ini saya teringat mama saya. Saya sangat bersyukur memiliki seorang ibu seperti beliau karena menjadi seorang ibu tidaklah mudah. Artikel ini juga membuat saya belajar ketika menjadi seorang ibu nanti saya akan melakukan hal yang sama.

    yang menjadi pertanyaan saya, berapa persen tingkat keberhasilannya?

  9. Ade Pertiwi
    October 14, 2012 at 21:53

    Membaca artikel diatas membuat saya berpikir ribuan kali untuk mengecewakan seorang ibu yang sudah melahirkan, menyusui, mengurus, bahkan mendoakan sejak dalam kandungan.

    yang jadi pertanyaan, saya mempunyai seorang kakak laki-laki, menurut cerita ayah dan ibu selalu merawat anaknya dengan cara yang sama, tetapi mengapa perilaku kakak lelaki saya berbeda, kakak saya kadang bersikap kasar terhadap ibu. apa mungkin berbeda karena saya anak perempuan dan kakak saya laki-laki?

    terima kasih

  10. Nimas Milangeni
    October 15, 2012 at 00:09

    Setelah saya membaca ini, benar ternyata, yang orang tua saya sering katakan, pun beberapa pelajaran dari agama saya. Doa orang tua itu sangat mujarab, ajaib. Dan saya mestinya berterima kasih kepada ibu saya, karena tanpa saya ataupun dia, sadari, hal di atas pernah kami alami walau berbeda cerita namun sama halnya. Itu berarti saya sebenarnya telah diajarnya mengenai hal tersebut. Sejak dahulu, saya, sampai saat ini adalah juga berupa gumpalan doa darinya.

    Ini adalah pelajaran yang mesti diketahui setiap orang tua juga. Doa mereka sungguh ajaib jika itu ditujukan pada anak-anak mereka. Jika orang tua ingin anaknya menjadi yang baik, maka doakanlah mereka karena doa orang tua adalah doa yang mudah diijabahi. Namun ingat sebenarnya doa yang dimaksudkan di sini mencakup doa baik dan buruk dari orang tua pada anaknya. Jika orang tua mendoakan jelek pada anaknya, maka itu pun akan terkabulkan. Sehingga orang tua mesti hati-hati dalam mendoakan anak.

    Yang ingin saya tanyakan, sesuai hidup saya yang saya katakan tadi. Saya dan ibu saya hampir mengalami hal yang menyerempet seperti artikel di atas. Banyak samanya tetapi ada beberapa bedanya juga. Seperti, saat umur 11 bulan saya sudah dapat belajar berjalan dengan baik juga minum dengan mengunakan gelas namun tetap diberi ASI hingga umur 2 tahun. Bagaimana menurut bapak persentase intrapersonal orang-orang yang seperti saya? Sedang saya menyadari, saya adalah seorang yang sensitif, juga sangat “takut” dengan doa orang tua. Saya sangat ingin / suka / mendamba doa-doa yang baik, kalau didoakan atau hanya sekedar ditakuti seperti “Ga nurut ya, masuk neraka loh” saya merasa marah karena menurut saya sejak dulu, materi yang diangkat di atas itu benar, doa orang tua itu manjur, sedang kata-kata juga sedikit banyak adalah doa. Bagaimana caranya agar orang tua mempelajari hal-hal kecil seperti itu dengan baik jika menghadapi anak-anak seperti saya?

    Terima kasih.

    Nimas Milangeni

  11. Deasy Amalia
    November 4, 2012 at 17:51

    Cerita yang sangat inspiratif. Sebagai seorang anak, saya merasa diberkati memiliki kedua orang tua yang selalu mendoakan setiap langkah yang saya ambil. Memang, ridho Allah adalah ridho orang tua. Meskipun sejak kecil ibu tidak terlalu sering menemani saya karena dirinya disibukkan dengan pekerjaan, ibu tak pernah lupa mendoakan anak-anaknya hingga saya bisa seperti ini.

    Pernah saya temukan salah seorang teman yang sama sekali tak terurus oleh kedua orang tuanya sampai-sampai ia mencari kasih sayang di luar rumah hingga menemukan apa yang dicarinya yaitu pergaulan bebas. Naudzubillahiminzalik.

    Kecerdasan intrapersonal memang harus dipupuk sejak dini dengan caa mengenal fisik, mengenal cita-cita, dan mengenal atau mengungkap perasaan. Semoga ke depannya saya bisa menerapkan hal tersebut ke anak-anak saya.

    Deasy Amalia

  12. Rizkha Putri Utami
    November 4, 2012 at 18:45

    Rizkha Putri Utami

    Setelah saya membaca artikel ini, saya menjadi mengetahui bahwa dalam pemberian asi pada saat bayi itu sangatlah penting dan sangat berpengaruh. Begitu pula dengan dorongan do’a yang diberikan oleh ibu kita, saat kita masih berada di dalam kandungan. Mungkin itu hal yang kecil namun tanpa disadari besar pengaruhnya, bahkan diluar yang kita bayangkan.
    Dewasa ini banyak sekali para ibu yang tidak mau memberikan asinya kepada anaknya sendiri. Biasanya dikarenakan rasa sakit, rasa perih dan sebagainya pada saat menyusui. Padahal apabila di telusuri dampak negatif apabila tidak memberikan/mengeluarkan asi itu sangat merugikan bagi para wanita yang menjadi seorang ibu. Efek yang ditimbulkan apabila seorang ibu tidak memberikan asinya akan terjadi pengendapan asi lalu pengendapan itu akan menimbulkan virus/tumor dan kalau semakin berkembang akan menjadi kanker payudara. Sangatlah merugi bagi para ibu yang tidak menyususi anaknya dengan asi. Kekuatan do’a seorang ibu juga sangat berpengaruh walaupuun efeknya tanpa kita sadari. Dalam kasus masalah di atas membuat saya tersentuh karna dengan kekuatan do’a seorang ibu berdampak sangatlah baik bagi anaknya kelak.
    Pertanyaan saya, “kalau seorang ibu tetap memberikan asi dan do’a terus menerus kepada anaknya pada saat dikandungan ataupun setelah lahir tetapi anak tersebut tidak seperti yang di contohkan dalam kasus tersebut, mengapa demikian? contohnya saja saudara saya yang sewaktu ia masih dikandungan sangatlah dijaga oleh ibu dan ayahnya. Ibunya selalu berdo’a selayaknya ibu yang sayang kepada anaknya apalagi saudara saya anak laki satu-satunya dan saat dia sudah lahir pun ibunya memberikan asi yang terus menerus. Namun anak tersebut setelah menjadi remaja sangatlah tidak sama seperti contoh kasus di atas. Saudara saya bisa dibilang anak yang nakal/bandel, mengapa demikian Pak?

    Terima Kasih

    Rizkha Putri Utami

  13. Tia Rahma Listiawati
    November 29, 2012 at 19:53

    Assalamualaikum.
    melalui artikel ini, saya menjadi paham betapa dahsyatnya kekuatan ASI dan doa dari seorang Ibu, sehingga membuat anak tersebut menjadi istimewa. ASI dan doa dari seorang ibu juga dapat membuat seorang anak memiliki kecerdasan intrapersonal yang sangat bagus. saya bersyukur masih mempunyai ibu yang bisa memberikan ASI kepada saya waktu kecil.

    Yang ingin saya tanyakan:
    1. Apakah ASI dan doa seorang ibu juga dapat membentuk kecerdasan anak secara akademis?
    2. Seberapa besar pengaruh ASI yang Ibu berikan dengan
    pembentukan tingkah laku kita? Apakah jika seorang ibu memberikan ASI kepada anaknya hanya dalam waktu 1 tahun, tingkah laku anak itu lebih buruk dari anak yang diberikan ASI selama 3 tahun?
    3. Bagaimana dengan kemajuan teknologi. Bukankah teknologi canggih itu dapat membuat anak cerdas?
    4. Adakah cara lain membentuk anak yang memiliki kecerdasan intrapersonal yang bagus, selain dengan pemberian ASI?
    5. Lalu, bagaimana tanggapan Anda, jika sebagian besar anak terlahir dari keluarga ustadz dan ustadzah, tetapi anaknya malah berperilaku menyimpang. Misalnya memakai narkoba dan free sex. Mengapa bisa terjadi seperti itu? bukankah secara pasti, jika orangtuanya seorang ulama, maka mereka akan selalu mendoakan anaknya. Terima kasih
    Wassalamualaikum.

    Tia Rahma Listiawati
    Mahasiswa PNJ
    Penerbitan/jurnalistik

  14. Ani Sri Nuraini
    November 30, 2012 at 15:38

    Assalamualaikum Pak fauzy,
    Terimakasih, dengan tulisan Bapak ini saya mendapatkan informasi baru yang berharga bagi saya dan keluarga. Saya baru mengerti ternyata pemberian ASI secara terus menerus selama 3 tahun dan doa Ibu kepada anak dapat menjadi faktor kecerdasan intrapersonal anak tinggi. Dengan informasi ini pula saya dapat memeberitahukan dan berbagi informasi kepada Ibu saya yang sedang hamil 5 bulan untuk melakukan hal tersebut, agar calon adik saya nanti mempunyai kecerdasan intrapersonal tinggi kelak.

    Saya ingin bercerita sedikit tentang pengalaman saya yang diceritakan Ibu saya,ternyata saya juga seperti Ira yaitu disusui oleh Ibu saya selama tiga tahun. Seperti Bapak jelaskan tentang kecerdasan intrapersonal pada alinea pertama, ternyata saya juga tipe orang yang selalu berusaha memahami diri saya sendiri,mencoba untuk mengontrol emosi saya agar tidak memperkeruh suasana, meski terkadang emosi saya meluap (tetapi hanya beberapa saat saja). Saya juga tipe pemikir apa kesalahan saya dan bagaimana suatu masalah bisa terjadi.Saya juga tipe yang suka menasehati orang lain, tetapi saya bukan tipe tertutup atau independen,melainkan berbaur tidak suka mengelompok.

    Yang saya ingin tanyakan ke Bapak yaitu:
    1. Apakah saya termasuk yang memiliki kecerdasan intrapersonal tinggi?
    Saya memang merasa memiliki sebagian karakteristik tersebut, tetapi saya tidak yakin dengan hal itu karena saya sadar dengan kekurangan saya.
    Dengan ketidakyakinan saya itu apakah saya bisa dibilang belum mengerti diri saya sendiri?
    2. Apakah ada faktor lain yang membuat intrapersonal anak tinggi selain ASI dan doa Ibu?
    3. Bagaimana dengan adik saya yang disusui Ibu saya hanya selama 1 tahun 6 bulan?
    Mungkin tidak ia memiliki kecerdasan intrapersonal tinggi?

    Ani Sri Nuraini

  15. Devi Septiningtyas
    November 30, 2012 at 22:29

    Aslamualaikum wr. wb.
    Setelah membaca tulisan di atas bisa ditarik kesimpulan bahwa, memberikan ASI eksklusif pada anak adalah keputusan yang tepat. Disamping peran ASI penting, dibutuhkan pula curahan kasih sayang yang diberikan dari orang tuanya. Namun, yang membuat saya terketuk setelah membaca tulisan di atas ketika dukungan religius turut berpengaruh terhadap perkembangan anak. Memang dibenarkan dalam agama pun telah dijelaskan saat usia kehamilan 42 hari maka ruh ditiupkan. Dalam agama pun disarankan untuk mengirimkan doa agar kelak si anak bisa menjadi orang yang berakhlak. Bagaimana pun menyampaikan do’a dan permohonan di dalam Islam adalah sebagai perintah Allah SWT. Nah yang ingin saya tanyakan jika terdapat seorang anak yang diasuh oleh orang lain, apakah kecerdasan intrapersonalnya dapat berkembang? Sedangkan ia tidak dibesarkan dengan kasih sayang tulus dari seorang ibu kandung. Apakah semakin lama waktu memberikan ASI dapat mempengaruhi kuatnya intrapersonal anak?
    Devi Septiningtyas
    Mahasiswa PNJ, Penerbitan 3 A

  16. Retno Ayu Fandini
    December 1, 2012 at 00:33

    Assalamualikum Wr. Wb

    Setelah saya membaca artikel ini, saya jadi semakin tahu betapa pentingnya ASI. Ibu benar-benar seseorang yang sangat istimewa sekali. Begitu banyak jasanya yang diberikan untuk buah hatinya.

    Dalam artikel di atas disebutkan bahwa karena sang anak diberi ASI oleh ibunya selama 3 tahun dan selalu didoakan oleh ibunya setiap hari selama di dalam kandungan sehingga anak tersebut memiliki kecerdasan intrapersonal tinggi.

    1. Bagaimana jika seorang ibu lain, juga melakukan hal seperti itu, namun ternyata sang anak biasa saja/tidak memiliki kecerdasan intrapersonal tinggi itu?
    2. Apakah setiap anak yang ibunya selalu memberi ASI selama 3 tahun dan mendoakannya, selalu memiliki kecerdasan intrapersonal tinggi? Jika jawabannya Ya atau Tidak, berikan alasannya mengapa seperti itu?

    Sebelumnya terima kasih pa. Wassalamualaikum Wr. Wb.

    Retno Ayu Fandini

  17. Chatarina Ardita
    December 1, 2012 at 09:37

    Setelah saya membaca cerita ini, saya menyimpulkan peran orang tua terutama ibu sangat penting dalam membentuk kepribadian dan kecerdasan anaknya. Pemberian ASI sangat bermanfaat untuk tumbuh kembang si anak. Juga peran doa yang tak pernah putus seorang ibu untuk anaknya.

    Dewasa ini, saya pernah mendengar tentang donor ASI. kini banyak ibu muda yang jumlah ASI-nya kurang, atau bisa dibilang sedikit sehingga tidak bisa mencukupi kebutuhan si anak. Karena hal itu, sang ibu menyiasati dengan memberikan ASI yang berasal dari pendonor ASI demi memenuhi kebutuhan anaknya.

    Yang ingin saya tanyakan, jika seorang anak menerima ASI bukan dari sang ibu, apakah berpengaruh terhadap kecerdasan intrapersonal?
    Lalu, apa yang dilakukan sang ibu untuk membentuk kecerdasan intrapersonal anak jika tidak dapat memberikan ASI secara eksklusif?

  18. Shinta Lestari
    December 2, 2012 at 11:22

    Setelah saya membaca kisah di atas, saya jadi sadar bahwa sangatlah besar pengaruh dari seorang Ibu dan ASI itu sendiri. Sosok seorang ibu sangatlah pengaruh terhadap perkembangan si anak untuk pembentukan karakter anak.

    Saya ingin bertanya, Pak

    Ada seorang anak yang sangat dekat hubungannya dengan seorang ibu dan ada pula yang justru dekat dengan seorang ayah. Yang saya ingin tanyakan, jika seorang anak yang lebih dekat dengan ayahnya, apakah ada hubungannya dengan cerita di atas? Bagaimana itu bisa terjadi Pak?

    Terima kasih.

  19. Wardatul Jamilah
    December 2, 2012 at 17:00

    aslamualaikum Wr. Wb.
    setelah membaca artikel yang berjudul “Mama dan Papa, berdoalah untukku” saya mendapat sebuah pengetahuan baru. Ternyata ASI seorang ibu itu banyak sekali manfaatnya, tidak hanya untuk menyehatkan. Namun, juga sangat berpengaruh pada kecerdasan intrapersonal pada anak.

    saya memiliki kakak yang masih menyusui, ia bekerja sebagai karyawan swasta. ia masih aktif memeberikan ASI pada anaknya walau tidak setiap waktu ia bisa memberikan ASI pada anaknya, otomatis ia juga pasti tidak setap waktu memberikan sentuhan.
    yang ingin saya tanyakan, apakah yang seperti ini dapat mempengaruhi kecerdasan intrapersonal pada anaknya? lalu, adakah cara lain yang dapat meningkatkecerdasaan intrapersonal pada anak selain memberikan ASI+sentuhan?

    Wasalamualaikum

  20. Cipto Diharja
    September 23, 2013 at 12:32

    Assalamualaikum Wr. Wb.
    Salah satu kata kunci seseorang untuk menjadi sukses adalah meminta Ridhonya orang tua, terutama ibu. Karena salah satu hadist menyatakan “Ridhonya Ibu adalah Ridhonya Alloh. Subhanallah.Bayangkan jika hidup kita tidak disertakan dengan Ridhonya orang tua, apa yang terjadi? Mungkin hidup kita tidak seperti sekarang ini. Seperti kisah sahabat Rasul yang bertanya kepada beliau tentang siapakah yang berhak dihormati terlebih dahulu? Rasulpun menjawab yaitu Ummi. Lalu, siapa lagi ya, Rasul? Rasulpun menjawab lagi, Ummi. Sampai tiga kali dan berikutnya baru beliau menjawab Abi. Luar biasa banget, apa lagi jika kita sedang kesulitan dalam mencari jalan untuk meraih kesuksesan, kita tidak jauh dari meminta restu orang tua, terutama Ibu. Untuk itu kita peliharalah mereka dengan sebaik-baiknya agar hidup kita bahagia dunia dan akhirat. Aamiin.
    Wassalamualaikum Wr. Wb.

  21. October 6, 2013 at 16:29

    Setelah saya membaca artikel ini, saya sangat terkesan membacanya. Memang, kasih sayang dan cara mengasuh kedua orang tua terhadap anaknya sangat mempengaruhi intrapersonal dari sang anak. Terutama kasih sayang dan dekapan seorang ibu.

    Saya termasuk seorang anak yang diberi ASI dari sang ibu hingga berusia 2 tahun. Tetapi ketika saya berusia 5 tahun, saat itu saya kelas 2 SD. Dahulu, saya mengalami sesak nafas dan demam yang tinggi hingga saya di opname di rumah sakit. Dokter pun hampir menyerah menghadapi saya, hingga saya beberapa kali dipindahkan ke berbagai rumah sakit besar di Jakarta. Sampai pada akhirnya kedua orang tua saya memutuskan untuk membawa saya pulang ke rumah. Doa serta shalawat dari kedua orang tua saya yang tiada pernah putus untuk saya dan juga pelukan serta dekapan dari ibu saya yang tulus dan tak pernah lepas membuat saya bertahan. Hingga pada esok harinya ketika saya dibawa ke rumah, demam dan sesak nafas saya pun hilang. Ajaibnya, saya yang terbangun dalam dekapan ibu seolah tidak terjadi sakit apapun terjadi di diri saya. Ibu saya pun langsung memeluk saya hingga meneteskan air mata dan bersyukur atas kesembuhan yang terjadi pada diri saya.

    Lalu saya ingin bertanya:
    1. Bagaimana dan seberapa besar persentase kecerdasan intrapersonal orang seperti saya?
    2. Selain ASI dan kasih sayang adakah faktor lain yang mempengaruhi intrapersonal dari sang anak?

    Terima Kasih.
    Hany Chaerunnisa

Comments are closed.