MENGEMPATI

Saya senang membimbing mahasiswa untuk menyelesaikan tugas akhir. Namun, kadang, mereka hanya datang di hari-hari terakhir menjelang pengumpulan tugas. Waktu mepet. Tidak menyenangkan. Apa boleh buat, mereka saya ijinkan bertemu saya di mana saja asal membuat janji dulu. Cara paling efektif, menggunakan handphone, SMS.

Karena menggunakan SMS, wanti-wanti saya mengingatkan pada mereka agar jangan lupa menyebutkan nama. Secara teknis, hal ini wajar saja, saya harus tahu siapa yang menghubungi saya. Dari segi sopan-santun, tentu saja, orang yang menghubungi kita haruslah menyebutkan namanya. Untuk hal ini, saya tidak pandang bulu. Pernah sekali, rekanan saya tidak mau menyebut nama, langsung saya black list. Khusus para mahasiswa yang tidak menyebutkan nama dalam SMS, tentu tidak black list, saya hanya tidak melayani.

Hari itu, ketika sedang membimbing seorang mahasiswa. Ada SMS masuk, saya baca, seseorang ingin juga bimbingan dan bertanya tentang alamat saya. Karena tidak ada nama, saya biarkan saja. Saya katakan pada mahasiswa di depan saya bahwa ada mahasiswa mau bimbingan, tapi tidak menyebutkan nama.  Terpaksa tidak saya layani.

“ Oh, katanya, “tapi kalaupun menyebutkan nama, Bapak  juga belum tentu tahu orangnya.”

Ya, haruslah. Kalau tidak menyebutkan nama, saya juga tidak tahu sejauh mana perkembangan bimbingannya.

Mendadak telepon berdering. Saya lihat HP dan saya tidak mengenal nomer yang muncul mengkontak saya. HP lalu saya letakan di samping meja.

Mahasiswa itu berkata,  “Saya tahu, siapa orang yang menelepon itu, Pak!”

Saya hanya dapat menghela nafas. Bagaimanapun, ia sudah melakukan dua kesalahan. Pertama, begitu yakinnya dia bahwa saya tidak mengenal mahasiswa bimbingan saya walau mereka menyebutkan nama dalam SMS. Padahal, walau tidak saya minta, siapapun wajib menyebutkan nama dalam SMS kalau yakin bahwa nomer  HP-nya tidak tercatat pada HP saya. Kedua, betapa yakinnya dan saktinya dia bahwa ia mengenal orang yang telah menelopn saya barusan.

Kesalahan semacam ini, salah “membaca orang”, merupakan salah satu dari lemahnya kecerdasan interpersonal. Tidak mampu melihat dari sudut pandang orang lain, menyebabkan ia banyak melakukan kesalahan-kesalahan dalam menjalin hubungan dengan orang lain. Misal, dengan saya, ia “berani” datang di akhir semester, juga karena kesalahannya dalam membaca perilaku saya. Karena itu, walau waktu bimbingan telah habis, saya tetap belum meloloskan laporannya untuk dikumpul. Ia tetap harus menjalani bimbingan secara bertahap.

Saya tahu, ini membuat dia betul-betul jengkel dan marah. Orang telah mengumpulkan laporan, ia masih terus bimbingan. Tapi, buat orang yang kurang terlatih berempati pada orang lain, cara ini merupakan cara paling efektif agar ia ikut merasakan getaran perasaan orang lain, khusus saya. Tapi ternyata, kepentingan dirinya, telah menutup perasaannya. Ia sulit menangkap resonansi perasaan saya. Tidak terjadi persamaan frekuensi sehingga ia tidak turut bergetar, untuk memahami, sekaligus merasakan apa yang dirasakan orang lain. Seseorang yang berempati akan mampu mengetahui pikiran dan mood orang lain. Karena itu, ia masih juga bersikeras di akhir bimbingan, “Kalau nanti siangan, saya juga bisa ke rumah Bapak untuk membawa perbaikan.”

Tidaklah, ini ‘kan hari libur. Saya mau pergi! ***

14 comments for “MENGEMPATI

  1. Laras Garsia
    January 19, 2013 at 05:59

    Bapak, sebenarnya bagaimana menghadapi orang yang kurang bisa berempati pada kita?

    • Mohammad Fauzy
      January 19, 2013 at 06:10

      Saudara Garsia, menghadapi orang yang kurang bisa berempati pada kita memang melelahkan. Ibaratnya, Saudara mikirin duren, dia mikirin jambu. Melelahkan. Karena itu, mulailah dengan apa-apa yang menjadi pokok pikirannya, mulai dari kesenangan-kesenangan, dan kebutuhannya. Ibaratnya, mulailah dari jambu yang ia pikirkan, baru kasih duren. Sederhana, tapi sulitnya luar biasa karena Saudaralah yang perlu belajar mengempati dia.
      Itu kalau Saudara punya waktu. Jika tidak, jangan terlalu berharap pada dia. Jaga jarak saja. Terimakasih.

      • Laras Garsia
        January 19, 2013 at 06:17

        Berarti memang harus belajar mengempati dia lebih dahulu ya pak? Tidak jarang saya bertemu dengan orang-orang yang katakanlah cuek dan kurang peduli dengan orang lain pak. Misalnya saya berada dalam satu pekerjaan yang mengharuskan saya bekerja bersama orang tersebut. Saya berusaha menyelesaikan bagian saya dan berharap sebaliknya. Namun ternyata tidak. Pekerjaan terbengkalai dan saya harus memperbaiki dan mengejar ketertinggalan tersebut. Padahal itu pekerjaan bersama. Lalu bagaimana caranya menjelaskan padanya tentang hal itu? Dan sayangnya hal itu jadi kebiasaan pak. Mungkin bisa saja saya menghindar. Tapi apa yang harus saya lakukan jika dalam suatu situasi saya harus berhadapan dengannya?

        • Mohammad Fauzy
          January 19, 2013 at 17:10

          Orang-orang seperti itu, biasa tidak dapat menerima penjelasan kita. Mereka sudah tergolong psikopat,tidak pernah merasa bersalah. Jadi, tidak ada jalan lain, (1) hindarkan kerja sama dengan mereka, (2) jika terlanjur/terpaksa bekerja sama, jangan percaya pada perkataan mereka 100%, 25% pun jangan, 3) jangan biarkan mereka menunda pekerjaan, tungguin saja, (4) hindarkan mereka membuat janji karena biasanya mereka tidak pernah menepatinya, (4) kerjakan tugas Saudara saja, jangan menunggu mereka.

  2. Laras Garsia
    January 20, 2013 at 01:06

    Psikopat.. Saya jadi ingat pertanyaan saya di kelas tentang psikopat dan ternyata orang-orang yang kurang bisa berempati dengan orang lain memang tidak pernah merasa bersalah. Sangat membantu sekali, Pak. Terima kasih atas jawabannya, Pak Fauzy.

  3. bagas
    January 21, 2013 at 00:59

    Apa faktor paling kuat yg mengakibatkan hal seperti ini bisa terjadi pak (merujuk ke perbincangan pak fauzy dan mba gracia) ? karena saya punya seorang teman, dulu dia sangat toleran dan bisa diajak tuk bekerja sama dlm melakukan kegiatan-kegiatan pertemanan. namun sekarang ini dia berubah dan menjadi pribadi yg anti-toleran dan cenderung tidak memikirkan orang lain dalam hal ini teman-temannya.

    Dan bagaimana cara yang bisa dilakukan jika hal ini terjadi dalam hubungan percintaan/pernikahan pak?

    • Mohammad Fauzy
      January 21, 2013 at 08:43

      Hal itu (kurang empati) terjadi karena (1) faktor kecerdasan interpersonal, kemampuan “membaca” dan berhubungan dengan orang lain dan (2) faktor kecerdasan intrapersonal, kemampuan memahami, menyadari, dan mengkoreksi diri (baca what are multiple intelligencies). Jika terjadi dalam percintaan atau pernikahan (lebih permanen), yang dapat dilakukan: (1) belajar mengempati pasangan sehingga mampu memahami pikiran dan perasaannya. Dari sini, pembicaraan dimulai dan pasangan diarahkan, (2) sering-sering melakukan pekerjaan rumah tangga secara bersama, (3) libatkan pasangan dalam acara-acara keluarga besar, (4) tunjukkan perhatian dan kasih sayang yang lebih besar agar dia juga bisa belajar dari Saudara. Terimakasih. Semoga bermanfaat.

  4. October 6, 2013 at 18:08

    Menurut saya, dengan kita bisa mengempati orang lain disaat kita ada keperluan yang kita inginkan, kita juga harus melihat apakah orang yang ingin kita minta bantuannya, dengan cara meminta waktu terlebih dahulu, kapan dan dimana, kita bisa meminta bantuan dan keperluan kepada orang tersebut. Kita harus menunggu sampai orang yang kita ingin minta bantuannya itu bisa membantu kita. Dengan cara itu maka kemungkinan orang yang yang ingin kita minta bantuannya merasa empati juga kepada kita karena terlebih dahulu empati kepada dia. Karena kita juga tidak bisa mengambil atau dengan seenaknya menggangu keperluan dan kepentingan yang dia punya. Menurut bapak, yang saya maksudkan itu sudah bisa disamakan dengan kita mengempati atau belum ?
    terimakasih

    Eko Bambang Susanto

    • Mohammad Fauzy
      October 19, 2013 at 01:59

      Belum bisa disamakan dengan mengempati. Hanya sekedar sopan-santun. Masalah norma. Terimakasih.

  5. Frandini Pramono
    December 7, 2013 at 23:00

    Memang harus berhati-hati dalam bersikap. tetapi setidaknya kita bisa membedakan dari ekspresi orang lain. jika dia tidak nyaman, sebisa mungkin kita pahami dan tidak mengganggunya lebih jauh lagi

    • December 25, 2013 at 00:08

      Sangat setuju, kepekaan dalam melihat suasana hati orang lain

  6. Muhammad Agung Saputro
    December 8, 2013 at 23:21

    Hal yang sepele namun berakibat fatal. Mahasiswa yang harusnya sudah mampu bertutur kata yang baik, beretika kepada orang yang lebih tua, tapi hal itu sering diabaikan oleh mahasiswa. Sikap seperti mengirim SMS dan berbicara di telpon, seharusnya, sebagai mahasiswa yang mayoritas sudah memiliki pemikiran luas akan suatu hal yang umum, dapat memahami karakter orang lain.

    Dan saya jadi ingin bertanya kepada bapak, lalu bagaimana jika seorang anak yang kurang berempati kepada orang tuanya, tetapi dia begitu empati terhadap teman-temannya?

    Muhammad Agung Saputro

  7. Shofiyah Qonitat
    January 5, 2014 at 23:38

    Mahasiswa yang diceritakan di atas barangkali memiliki kebiasaan kebiasaan yang membentuk karakternya menjadi seperti itu.Dalam menghubungi, walau sudah diwanti-wanti tetapi kalau lupa mungkin saja. Hanya jika terulang, pertanda bahwa dia tidak mempedulikan aturan dan sopan santun. Etika bagaimana berinteraksi kepada seseorang yang lebih tua. Perilaku itu mungkin terbiasa didapat dan dilakukan di rumahnya atau akibat pergaulan dengan teman-teman sebayanya. Bagi saya, memahami orang lain memang tidak mudah, tapi bisa saja kita mengikuti naluri untuk menjaga perasaan orang lain. Oleh karena itu harus ada ‘permisi’ kepada siapa saja, bukan hanya kepada orang yang lebih tua.

    Saya ingin bertanya, bagaimana dengan sikap basa-basi yang sering dilakukan kebanyakan orang, Pak? Sekilas memang itu budaya permisi di masyarakat daripada berlaku tidak sopan dan anggapan sombong dari orang lain. Tetapi jika memang orang itu tidak terbiasa untuk menyapa (misal) lalu dia berpura-pura menyapa, apakah itu perilakunya palsu?
    Sebab terkadang sikap kita dipengaruhi sikap orang. Kalau anak muda bilang ‘anda baik saya pun baik, anda jahat saya bisa lebih jahat’. Bagaimana dalam segi kejiwaan?

    Shofiyah Qonitat

  8. July 15, 2014 at 20:45

    Saya setuju Pak.
    Most people just want to be understood, but they don’t want to understand.

Comments are closed.