GALAK DI RUMAH, SINTERKLAS DI SEKOLAH

Ada keluhan, Pak?

Bapak: Saya bingung melihat anak saya,  kalau di rumah, dia galak. Saya dan mamanya sering diomelin. Embahnya juga dimarah-marahin terus, tapi dengan teman-teman sekolahnya, ia sangat baik. Sering bagi-bagi makanan dan royal kayak Sinterklas. Gimana, tuh, Pak?

Maksud, Bapak? Bisa lebih jelas?

Bapak: Anak saya seolah-olah punya dua kepribadian. Sama kami di rumah negatif, tapi sama orang lain, teman-teman sekolahnya, dia positif. Apa betul begitu, ya?

Kalau melihat hasil tesnya, tidak. Dia anak yang normal. Kalau saya boleh bertanya, menurut Bapak, apakah anak Bapak tahu kalau Bapak tidak suka dengan kelakuannya?

Bapak: Ya, saya lihat dia tahu kalau saya ngga suka dengan kelakuannya. Dia juga tahu kalau mama dan  embahnya nggak suka dengan kelakuannya.

Betul. Tes ini juga menunjukkan, kecerdasan interpersonalnya sangat tinggi. Ia mampu mengempati orang lain dan tentu juga bapak, ibu, dan embahnya. Karena itu, saya juga melihat bahwa anak Bapak ini memang mengetahui dan bahkan menyadari bahwa keluarga tidak menyukai kelakuannya.

Bapak: Tapi, kok, ya kenapa dia terus berlaku kurang sopan seperti itu?

Anak Bapak ini cerdas, lho. Dengan kecerdasan interpersonal seperti itu, jelas ia juga mampu mereaksi tindakan orang lain secara tepat. Karena itu, menurut saya, jelas itu semacam protes saja terhadap kedua orangtuanya.

Bapak: Menurut Bapak, kami punya kesalahan?

Maksud saya, kalau Bapak dan Ibu tidak mampu memberi perhatian pada dirinya, dia akan mencarinya pada orang lain, pada diri teman-temannya. Ia tidak akan segan-segan juga untuk membelinya. Karena itu, boleh saya bertanya lagi?

Bapak: Silahkan.

Apakah Bapak dan ibu bekerja?

Bapak: Ya.

Bapak biasa pulang ke rumah jam berapa?

Bapak: Saya biasa sudah di rumah jam delapan malam. Isteri saya justeru baru tiba biasa jam sebelas.

Jam sebelas malam? Menurut saya, sekarang, Bapak sudah tahu jawabnya, mengapa anak Bapak suka  galak di rumah dan jadi Sinterklas di sekolah.***

28 comments for “GALAK DI RUMAH, SINTERKLAS DI SEKOLAH

  1. andhika dwi a
    September 14, 2012 at 19:47

    sepertinya tulisan diatas, hampir sama kaya kejadian saya dirumah, entah kenapa saya lebih bisa mengontrol emosi didepan teman2 atau orang lain dibandingkan dengan orang tua sendiri dirumah, kira-kira apa permasalahan yang saya alami ya?

    • Mohammad Fauzy
      September 25, 2012 at 14:51

      Walau saya tidak begitu cukup data mengenai Saudara, namun kesulitan mengontrol diri di hadapan orang secara umum memang akibat dari masalah interpersonal. Bila terjadi dengan orangtua, dengan orang yang sehari-hari Saudara temui, dapat dipastikan: komunikasi Saudara dengan orangtua begitu buruk. Mulailah memperbaiki komunikasi dengan cara, duduk bersama. Ucapkan salam bila mau pergi dan masuk ke rumah. Jangan menghindari pertemuan. Biasakan bicara sambil memandang wajah mereka. Ini masalah dasar yangperlu diperbaiki lebih dahulu. Semoga bermanfaat.

  2. Sri Eka Lestari
    September 14, 2012 at 22:14

    cerita diatas hampir sama dengan yang saya alami.

    adik saya kalo dirumah bendel sekali pak, susah diatur, minta apapun harus diturutin, disuruh belajar susah, kalo dibilangin ngelawan, tapi kalo sama teman-temannya seperti kehilangan taring, ngalah terus, disuruh apa aja mau dikerjain, sering disuruh buat tugas kelompoknya sendirian.

    udah sering saya marahin pak tapi dia cuma bisa ngebantah trus kalo udah ngga bisa ngebantah dia nangis, ujung-ujungnya saya yang dimarahin ama orang tua saya.

    sebagai kakak kan saya ngga mau adik saya diperlakukan seperti itu oleh teman-temannya, sedangkan kalo dirumah dia berkuasa, maklum sih dia dirumah berkuasa, dia terlalu dimanjakan tapi ko disekolah dia seperti itu pak.

    menuru bapak, faktor apa yg menyebabkan adik saya garang dirumah tapi kehilangan taring kalo sama teman-temannya ?

    terimakasih 🙂

    Sri Eka Lestari

    • Mohammad Fauzy
      October 24, 2012 at 05:56

      Ini masalah keluarga. Kadang, rumah merupakan tempat yang lebih dapat memberikan keleluasaan bagi anggotanya, untuk marah misalnya, karena “kebutuhan” marah ini harus direpresi di hadapan masyarakat luas.Rumah adalah ruang yang lebih nyaman, privat, untuk melakukan hal-hal yang dianggap tabu di luar rumah. Dalam batas tertentu, marah-marah di rumah masih dapat ditolerir, bukankah adikmu itu memang dimanjakan di rumah?

  3. restiyana F
    September 17, 2012 at 22:00

    Cerita di atas hampir sama juga yang saya alami, Pak.
    Yang dialami juga dari adik saya, Pak. Dia kadang susah dibilangin sama mama saya ataupun kakak-kakaknya. Disuruh belajar, disuruh bantuin atau dibilangin, kalo kita larang, itu malah disengajain. Di rumah selalu begitu susah dibilangin, isengin kakanya kadang dia ngelawan kakak perempuan seperti ngelawan kakak laki-laki yang kadang suka cakar lalu berkata kasar.
    Tapi, yang saya lihat, ketika mengantar adik saya ke sekolah, beberapa menit saya lihat dia tidak bersikap seperti di rumah. Apakah ini terpengaruh lingkungan juga, Pak kalau dia sering berkata kasar?

    Menurut bapak apa membuat adik saya seperti itu? Seperti sering ngelawan, susah dibilangin dan berkata kasar?

    Terimakasih pak
    Restiyana fajriyah

    • Mohammad Fauzy
      September 18, 2012 at 13:43

      Betul, ia tampak terpengaruh lingkungan. Intrapersonalnya lemah sehingga adikmu mudah dipengaruhi lingkungan (tentang apa itu “kecerdasan intrapersonal”, baca juga “Mama dan Papa, Berdoalah Untukku!”. Tapi, selain itu, ada juga gejala psychological reactance, ia merasa seseorang “mengambil alih” hak pilihnya atau membatasi alternatif-alternatif tindakannya sehingga bila semakin dibilangin, ia semakin menjadi-jadi. Karena itu, di rumah, perbuatannya jangan dilarang dengan tekanan yang terlalu kuat. Beri dia sedikit kesempatan untuk “bebas” memilih. Terimakasih.

  4. Bella Yunistia Putri
    September 18, 2012 at 20:41

    postingan di atas hampir mirip dengan yang dialami oleh kakak saya. dia di rumah justru lebih tidak royal terhadap keluarga tetapi jika dia hangout bersama geng nya dia mempunyai royalitas tinggi bisa di bilang dia amat royal kepada teman temannya sering mentraktir atau membelikan apapun ke temannya. sebenarnya dikeluarga pernah sesekali ia membelikan tetapi hanya sekedarnya. pikiran ini juga di rasakan oleh kedua orangtua saya. dia juga sering membentak kedua orangtua saat ia mulai lelah bekerja atau mengeluh tentang keadaan rumah.
    menurut bapak apa yang menyebabkan kakak saya lebih royal dan baik terhadap teman temannya di bandingkan keluarganya sendiri?

    Bella Yunistia Putri

  5. Nazillah Syamira
    September 18, 2012 at 21:23

    berbicara mengenai sikap seseorang galak yang lebih cenderung bersifat tempramen atau emosional saya jadi teringat bos dikantor kakak saya..
    jadi gini pak, kak saya berkerja di salah satu perusahaan asing. diperusahaan itu dipimpin oleh direktur (Suami 62 tahun/WNA) dan komisaris (Istri 42 tahun/WNI), yang sebelumnya memiliki hubungan suami istri. sebelum mereka bercerai sikap mereka juga tidak jauh berbeda dengan sesudah mereka bercerai. mereka memiliki watak yang sama-sama keras, ortoriter dan egois. sering kali kak saya setiba dirumah mengeluhkan sikap dari mereka, terutama komisaris perusahaan tersebut. karena beliau bersikap ortoriter dan jika berkata semena-mena, itu yang menyebabkan banyak karyawannya yang tak betah untuk bekerja diperusahaan tersebut dan kak saya mungkin karyawan yang paling kuat untuk berhadapan dengan mereka.

    yang saya ingin menanyakan bagaimana cara kita untuk mengatasi orang yang memiliki sifat seperti ini, apa lagi posisi mereka adalah sebagai pemimpin perusahaan atau atasan kita? dan faktor-faktor apa saja yang menjadi pembentuk dalam karakter kedua orang tersebut? bagaimana cara untuk mengubah sifat dan sikap yang telah terbentuk berpuluh-puluhan tahun?

    terima kasih pak
    Nazillah Syamira

    • Mohammad Fauzy
      September 25, 2012 at 15:39

      Tidak ada cara untuk menghadapi pimpinan yang otoriter, kecuali dua kemungkinan: kaka Saudara menurut saja dengan tetap di perusahaan, tapi tertekan atau menolak dengan pergi dari perusahaan sebagai mana karyawan lain, tapi perasaan lebih nyaman. Karena itu, pertimbangannya adalah kebutuhan dan kepentingan ekonomis kakak Saudara, yaitu masih untung tidak kerja di sana? Jika tidak tinggalkan. Untuk merubahnya, setelah usia 40 tahun, bawaan seseorang, relatif sulit dirubah kecuali oleh faktor tertentu, misalnya penyakit, kematian, kesadaran dan lain-lain. Semoga bermanfaat.

  6. niko yosi f
    September 18, 2012 at 23:17

    Saya punya teman, dia sebenarnya anak yang baik. tetapi dia suka tidak bisa mengendalikan emosinya. Bila di lingkungan rumah dan dikeluarganya, dia dikenal sebagai anak yang baik dan penurut, tetapi bila sudah diluar rumah dan diluar lingkungan rumahnya, dia menjadi anak yang emosian dan nakalnya ngga ketulungan pak.
    Kenapa bisa begitu ya, Pak?
    Terkadang, temen mainnya juga kadang kesal ma dia, Pak. Terima kasih, Pak!

  7. Ranti novianti
    September 24, 2012 at 20:20

    cerita diatas hampir sama dengan kehidupan saudara sepupu saya.
    akan tetapi dirumahnya hanya ayahnya saja yang bekerja,sedangkan ibunya dirumah, jadi ibu rumah tangga yang mengurus urusan anak-anaknya.

    sodara saya termaksud anak yang selalu di turutin apa yang dia mau,

    tapi dia suka sekali ngebantah perintah orang tuanya,galak terhadap orang tua dan kakanya,sering berkata tidak kepada orang tuanya.

    sedangkan yang saya dengar dari orang tuanya kalo dia disekolah,dia menjadi anak yang sering disuruh-suruh oleh temennya,seperti mengerjakan PR b.ing milik teman-temannya dan kalo dia tidak mau mengerjakanny
    dia tidak akan memiliki teman.

    nah yang saya bingung kenapa dia tidak mau tegas dengan teman-temannya
    seperti dia melakukan dengan orang tuanya?

    dan apa yang membuat dia seperti itu?

    terimakasih pak

    Ranti Novianti

  8. Sofura Nidauljannah
    October 12, 2012 at 18:56

    Wah, pantesan adek saya galak banget. Saya juga mengira itu adalah kesalahan orang tua yang tidak memperhatikan anaknya. Orang tua pulang, sang anak sangat senang. Dia menunjukkan prestasinya di sekolah, tapi tanggapan ibunya sangat dingin, hanya menanggapi dengan iya dan senyum paksaan, mungkin cape. Tapi menurut anak, dengan tanggapan ibunya yang seperti itu, prestasinya adalah sia-sia. Dia jadi ngambek dan marah-marah tidak jelas karena kurang perhatian itu.

    Salah juga sama orang tua yang terlalu memanjakan anaknya, dengan alasan jarang bertemu dengan anak. Si anak akan manja dan sulit dilarang. Dia akan nangis, dan apa yang anak mau akan diberikan. Begitulah setiap dia dilarang. Si anak sudah mempunyai senja, yaitu menangis.

    Lalu pertanyaan saya pak,
    bagaimana agar si anak itu berperilaku dengan normal lagi pak?
    apa karena kekecewaannya terhadap orang tua, sehingga mengakibatkan sikap yang tak bisa dirubah? bawaannya kesal saja bertemu dengan orang tua. Jadi, selalu mencari-cari kesalahan orang tua, orang tua marah, dia pun bisa melawan dengan mengungkapkan semua kesalahan orang tua.

  9. Delia Fitri Sarah
    October 14, 2012 at 04:28

    Saya Delia Fitri Sarah. Menurut saya, cerita berjudul “Galak di Rumah, Sinterklas di Sekolah” ini hampir sama seperti yang sering saya lihat. Bahkan saya sendiri terkadang suka melakukannya. Kalau di rumah, entah mengapa saya suka marah dan galak dengan keluarga saya. Akan tetapi, kalau di sekolah sangat berbeda. Saya tidak pernah bisa marah dan galak, kalau pun ingin marah pasti saya berusaha meredam amarah itu. Sedangkan kalau di rumah, saya tidak pernah bisa meredam emosi dan amarah saya. Saya sempat berpikir, apakah saya mempunyai kepribadian ganda. Karena sifat saya suka berubah-ubah. Saya tahu sekali, marah-marah dengan orang tua sendiri tidaklah benar, bahkan sangat berdosa. Saya ingin sekali bisa menahan emosi saya saat berada di rumah, saya ingin tidak marah-marah pada orang tua saya. Tapi kenapa itu sulit sekali saya lakukan. Kenapa di sekolah saya bisa menahan emosi saya, tapi di rumah tidak bisa?

    Mungkin benar, lingkungan yang membuat saya menjadi seperti itu. Saya berani terhadap keluarga saya, karena saya sudah mengenalnya sejak lahir. Sedangkan jika di sekolah, saya merasa takut bila akan marah terhadap teman saya. Saya selalu bersikap baik terhadap semua teman saya. Saat di rumah, saya juga bersikap baik kepada orang tua saya. Akan tetapi, jika saya sudah marah saya pasti marah-marah terus dan tidak bisa menahan amarah itu. Saya menyadari betul bagaimana sifat saya ini. Saya jadi takut, apabila psikologi saya terganggu karena mempunyai kepribadian ganda seperti ini.

    Pertanyaan saya, apakah dalam kasus saya ini hampir sama seperti cerita di atas? Apakah benar psikologi saya dapat terganggu? Apa ada penyebabnya yang membuat saya seperti ini? Lalu apa yang harus saya lakukan? Kenapa di sekolah saya bisa menahan emosi saya, tapi di rumah tidak bisa?

  10. Denny Ciputra
    October 15, 2012 at 10:21

    Pak, beberapa teman masa kecil saya sejauh yang saya ingat memang memiliki masalah semacam seperti ini, namun keluarga mereka tak menanggapi serius masalah anak mereka ini dan ketika saya berjumpa lagi dengan teman-teman saya itu, sikap mereka masih sama seperti itu.

    Sikap mereka menjadi seperti mendarah daging karena orang tua mereka tak pernah mencoba untuk lebih memberi perhatian lebih semasa mereka kecil. Saat dewasa, mereka berkomunikasi dengan orang tua mereka dengan panggilang “Lo & gue.” Meski dewasa kini itu bisa dibilang biasa, namun terkadang mereka juga suka melontarkan kata-kata kasar pada orang tua mereka.

    Jadi, apakah dalam hakikatnya para orangtua mereka itu tak mau memberi perhatian lebih dan malah menyukai sikap kasar serta tak sopan anak mereka itu dan membiarkan mereka apa adanya, atau sebenarnya orangtua-orangtua itu tak menyayangi anaknya sungguh sungguh?

    Menurut Pak Fauzy, siapa yang mengalami gangguan psikologi? Karena menurut saya, yang memiliki gangguan adalah orangtuanya. Apakah ini berarti level interpersonal para anak-anak ini pada hakikatnya bukan karena sudah ditentukan sejak mereka lahir, melainkan karena ajaran atau pengaruh orangtua? Terima kasih.

    Salam, Denny Ciputra

  11. Febriyanti S.N
    October 15, 2012 at 15:19

    jika kedua orangtua anak tersebut tidak memiliki kesibukan seperti cerita diatas, bagaimana cara orangtuanya menyikapi dan berinteraksi kepada si anak agar tidak berlaku demikian pak?

    terima kasih

  12. andhika dwi a
    October 23, 2012 at 20:27

    tapi jika saat dirumah dan berada didekat orang rumah perasaan itu rasanya sepi, dan membosankan. sehingga itu sulit buat coba lakukan apa yang bapak bilang, dan itu sudah jadi hal yang seperti jadi kebiasaan saya.
    apa teman atau lingkungan luar itu berpengaruh juga?

  13. Lanjar Wiratri
    November 4, 2012 at 16:57

    Saya Lanjar Wiratri. Sebenarnya ini juga saya alami sampai hari ini, saya terkadang bersifat seperti itu, apabila di rumah saya akan menjadi sangat egois dan kadang tidak mau mengalah pada adik saya sendiri. Namun,jika di luar rumah saya akan berusaha untuk menjadi anak yang baik dan ramah terhadap siapapun.

    Menurut saya itu adalah sikap yang wajar, karena jika di rumah sifat egois dalam diri kita akan muncul. Hal ini karena kita sudah merasa dekat dengan ayah,ibu, dan adik kita, jadi kita merasa mereka akan lebih memahami keegoisan kita, jika sifatnya tidak terlalu berlebihan tentunya.

    Berbeda jika sudah di luar rumah, kita akan berusaha untuk beradaptasi dengan lingkungan dan teman-teman. Jadi, kita akan berusaha untuk bersikap baik agar diterima oleh lingkungan kita. Itulah tanggapan saya,

    pertanyaan saya sendiri. Apakah menurut sifat itu dapat dihilangakan seiring dengan berjalannya waktu?

  14. Sophia
    November 4, 2012 at 17:28

    Dari cerita di atas menurut saya sang anak seperti itu karena kurang perhatian dari orangtuanya, terutama sang ibu yang selalu pulang malam. padahal bisa dibilang seorang anak biasanya lebih butuh banyak perhatian dari ibunya daripada ayahnya.

    sebenarnya saya juga punya permasalahan yang sama dengan anak tadi. Kalau di rumah bawaannya saya pengen marah, emosian dan kasar. Tapi saat di luar rumah, berkumpul dengan teman-teman, sikap saya biasa-biasa saja. Saya bisa bersikap baik dengan teman-teman saya. Saya sadar bahwa sikap saya itu salah dan mencoba untuk bersikap baik di rumah, tapi tetap tidak bisa. Saya tidak kurang perhatian, bahkan bisa dibilang orangtua saya adalah orangtua yang sangat perhatian pada anak-anaknya. Yang ingin saya tanyakan, kenapa saya bisa bersikap sejahat itu pada keluarga saya dan bersikap baik pada orang lain ?

  15. Anisa Febrianti
    November 4, 2012 at 19:25

    Menurut saya setiap anak pasti mengalami hal ini. Sebagai anak/remaja yang masih labil mereka berpendapat kalau setiap perilaku orangtua adalah tidak adil dan memihak ke salah satu anaknya atau lebih mementingkan pekerjaannya. Walaupun semua orangtua akan mengatakan kalau mereka tidak pernah membeda-bedakan anaknya atau tetap peduli terhadap anaknya sesibuk-sibuknya bekerja. Si anak pasti merasa sebaliknya. Anak/remaja tidak pernah puas dengan kepedulian dan perhatian orangtuanya. Maka, mereka menuntut kepedulian dan perhatian tersebut dengan marah. Di dalam pergaulan, di sekolah, bersama teman-temannya mereka menemukan kepedulian dan perhatian yang kurang itu. Maka, mereka akan mempertahankannya dengan mentraktir teman-temannya atau hal baik lainnya.

    Yang menjadi pertanyaan saya, walaupun hal ini sudah biasa dan hampir setiap anak mengalaminya, apakah cara untuk mengubah pandangan anak, agar tidak berperilaku seperti itu?

    Terimakasih Pak.

  16. Anisa Febrianti
    November 4, 2012 at 21:10

    Menurut saya setiap anak psati mengalami hal ini. Sebagai anak atau remaja yang masih labil mereka berpendapat kalau setiap perilaku orangtua adalah tidak adil dan memihak ke salah satu anaknya atau lebih mementingkan pekerjaannya. Walaupun semua orangtua akan mengatakan kalau mereka tidak pernah membeda-bedakan anaknya atau tetap peduli terhadap anaknya sesibuk-sibuknya bekerja. Anak atau remaja tidak pernah puas dengan kepedulian dan perhatian orangtuanya. Maka, mereka menuntut kepedulian dan perhatian tersebut dengan marah. Di dalam pergaulan, di sekolah, bersama teman-temannya mereka menemukan kepedulian dan perhatian yang kurang itu. Maka, mereka akan mempertahankannya dengan mentraktir teman-temannya atau hal baik lainnya.

    Yang menjadi pertanyaan saya, walaupun hal ini sudah biasa dan hampir setiap anak mengalaminya, apakah cara untuk mengubah pandangan anak, agar tidak berperilaku seperti itu?

    Terimakasih pak.

  17. Ani Lestari
    November 30, 2012 at 18:29

    Cerita di atas sering saya temui dari beberapa teman. Saat di rumah mereka liar, berkata kasar cenderung tidak sopan terhadap orang tua. Tapi ketika mereka berada di luar rumah, mereka melakukan hal yang sebaliknya. Salah seorang teman saya pernah mengutarakan alasannya mengapa ia melakukan hal seperti itu karena ia sangat bosan. Ia ingin kedua orangtuanya memperhatikan tapi sebaliknya orang tuanya bahkan acuh.
    Pertanyaannya, bagaimana jika sebaliknya pak? anak itu bebuat baik, penurut dan sangat menghormati orang tua jika berada di dalam rumah. Tapi, akan terlihat liar, sangar, tidak sopan jika berada dilingkungan luar rumah? dan mengapa si anak bisa melakukan hal tersebut? apakah ada cara agar si anak tidak melakukan hal tersebut?

    Terimakasih Pak

  18. Gayatri Alunnagara
    December 1, 2012 at 10:11

    Assalamualaikum Wr.Wb

    Menanggapi tulisan bapak diatas, saya juga termasuk orang yang seperti itu. Saya anak kedua dari tiga bersaudara, dan memang saya yang paling egois dan mau menang sendiri (tidak sampai memarahi orangtua saya). Jika ego itu muncul di dalam keluarga pun biasanya saya hanya ngambek dan tidak mau diajak bicara. Sedikit membandingkan, saya rasa jika saya berada di ruang publik, saya sudah hampir berhasil menghilangkan keegoisan saya. Saya tau dan sangat menyadari akan keburukan sifat saya tersebut. Namun, saya tidak merasa ada yang salah dengan memilik “dua kepribadian”.

    Pertanyaan:
    1. Sebagai orang yang seperti itu apakah salah jika pemikiran saya, orang yang “tidak baik” di rumah dan berbanding terbalik jika di luar rumah itu, karena ia memiliki pengendalian diri yang baik? Ia sangat tahu bagaimana ia harus menempatkan dirinya?

    2. Dengan latar belakang yang berbeda, hanya Ayah saya saja yang bekerja dan saya tidak merasa kekurangan kasih sayang mereka. Lalu, apakah yang melatar belakangi hal tersebut terjadi pada saya? Saya tahu saya egois, hanya saja saya tidak paham apa yang mendasarinya.

    Terimakasih.

    Gayatri Alunnagara.

  19. Adi Sulistio Hendrawan
    September 23, 2013 at 12:42

    Saya setuju dengan pendapat bapak. Karena pada dasarnya seorang anak butuh perhatian khusus dari orangtuanya. Walaupun dia telah beranjak dewasa, tetap anak butuh perhatian dari orangtuanya dan bahkan, mungkin jika terus-menerus seperti itu anak bisa menjadi depresi berat. Oleh karena itu kasih sayang dan perhatian orang tua tak ada yg bisa menilai harganya. Orangtua pun harus bisa membuat suasana rumah menjadi lebih nyaman dihati anaknya agar anak tersebut bisa menjadi lebih menyayangi orangtuanya.

    Yang ingin saya tanyakan, jika saya menjadi orang tua dari anak tersebut, bagaimana caranya mengubah sudut pandang anak saya yang sudah menilai saya salah karena sering pulang larut malam? Padahal saya pulang malam karena memang pekerjaan yang menumpuk. Mohon dijawab ya pak

    terima kasih..

  20. October 5, 2013 at 20:16

    Asalamualaikum wr. wb
    Pak Fauzi, setelah saya membaca artikel ini saya langsung mengaca pada diri saya sendiri; apakah saya seperti itu atau tidak.
    Sebenarnya kadang-kadang saya pernah merasa lebih nyaman bersama teman-teman saya dibandingkan bersama keluarga, karena dengan teman saya bisa berbagi cerita dan bisa lebih bebas. Faktor itu biasa disebabkan karena sifat keluarga saya yang terlalu ‘mengekang’ saya.
    Namun, terkadang saya juga lebih merasa nyaman dengan keluarga dibandingkan dengan teman-teman saya, ketika teman-teman saya sibuk.
    Tapi sejauh ini, saya tidak pernah galak ataupun melawan orangtua dan kakak-kakak saya. Mudah-mudahan dengan artikel ini saya bisa lebih menyeimbangkan antara keluarga dan teman-teman, namun tetap memproitaskan keluarga saya juga.
    Terimakasih atas artikel nya, pak.

    Ocka Hidayat, GR5A

  21. October 5, 2013 at 20:23

    Kepada saudara Restiyana F:

    Halo Kak Resti, saya Ocka mahasiswa GR5A ingin berkomentar terhadap komentar anda.
    ada baiknya di indentifikasi penyebab adik anda, kemungkinan saja di lingkungan keluarga, ia tidak mendapatkan apa yang ia inginkan (bukan berarti manja) seperti contoh perlakuan orangtua anda atau mungkin perlakuan anda juga bisa mempengaruhi kelakuan adik anda. karena saya sebagai adik di keluarga saya, saya kadang juga merasa kakak-kakak saya memperlakukan saya tidak seperti apa yang saya inginkan.
    coba anda ajak jalan-jalan atau belikan apa yang ia inginkan.

    sekian semoga bermanfaat ya.

  22. October 6, 2013 at 09:10

    Assalamualaikum bapak fauzy. Saya ARTA (nama samaran) ingin menanggapi tentang cerita yang bapa tulis di atas.
    Menurut saya cerita di atas ini bisa berkesinambungan juga dengan cerita berjudul, “Aku tahu, Papaku Berselingkuh” (http://mayaaksara.com/aku-tahu-papaku-berselingkuh/). Jujur saya pernah mengalami seperti yang Andi alami. Saya melihat, bahkan disuruh memanggil perempuan itu dengan kata “mama”. Itu yang membuat saya terpukul dan berubah sifat, yang tadinya seorang yang ceria dan periang, lalu berubah menjadi seorang yang galak, judes, dan ketus terhadap orang lain, baik di rumah maupun di luar rumah.
    Di rumah, saya berperilaku seperti itu, karena saya bingung terhadap ibu saya yang tidak tahu menahu tentang masalah ini. Di luar rumah, saya merasa/menganggap “tidak ada orang yang baik dan bisa di percaya”. Saya berperilaku galak, judes dan ketus kepada semua orang terutama terhadap laki-laki. Sampai-sampai terciptanya pikiran bahwa saya tidak mau menikah.
    Kemudian, sifat saya pun berubah kembali di waktu kuliah, saya baik kepada orang di rumah dan di luar rumah, tapi karena ada kejadian-kejadian saya merasa di tindas di luar rumah dan saya berubah sifat lagi menjadi galak, judes dan ketus di luar rumah semenjak semester 4 diperkuliahan. Saya merasa aneh dengan perilaku ayah saya yang mempunyai banyak kepribadian. Dalam 1 kali pembicaraan saja, beliau bisa menjadi siA, siB, dan banyak lagi.
    Beliau sering mempermalukan keluarga kepada khalayak ramai. Kalau marah, gak tau sikon sampai melakukan kdrt. Yah, begitulah, tapi giliran di luar rumah, dia seperti menyembah-nyembah orang, bahkan mampu mencium tangan semua orang kecuali saudaranya. Hingga, ku diceritakan oleh ibu yang sudah mengetahui masalah yang kupanggul selama ini
    dan hingga sekarang ayahku meninggalkan keluargaku lebih dari 3 bulan. Hakim sedang memproses perceraian ibu dan ayah saya. Saya mulai buka alquran dan menemukan surat Luqman khususnya ayat 14-20.
    Sebagai umat muslim/beragama, kita jangan angkuh untuk merasa menyelesaikan semua masalah sendiri. Sertailah Rabb kita agar semua lancar dan mendapat berkah dan rahmatnya. Saya ingat sekali dengan perkataan bapak yang berbunyi, “Ga semua masalah bisa selesai di psikologi, tetapi selesai dengan agama”. Terima kasih kepada bapak Fauzy, telah memberi saya motivasi yang tinggi untuk kebaikan. semoga bapak sekeluarga mendapat surganya Allah tanpa hisab. Aamiin

    Pertanyaan saya bagaimna cara agar saya tetap semangat dan mempunyai pola pikir positif dan kembali kepada kepribadian saya yang ceria dan periang? Dan, bagaimana cara agar saya berperilaku seimbang di rumah maupun di luar rumah bersikap dan bersifat baik?

    syukron jiddan 🙂
    islam itu indah 🙂

  23. Vania Dwi Febriyani
    October 6, 2013 at 10:12

    Cerita diatas hampir sama dengan kejadian tetangga saya. Tetangga saya memiliki 3 orang anak(2 orang dewasa dan seorang yang tengah beranjak dewasa) dan suaminya telah meninggal. Ketiga anak ini selalu melampiaskan kemarahannya kepada ibunya, hampir setiap hari saya dipusingkan dengan teriakan mereka bertiga yang mengkambing hitamkan ibunya hanya gara-gara hal sepele. Dan ketika diuar rumah mereka mampu mengendalikan emosi dengan baik.
    Menurut bapak bagaimana cara merubah kepribadian buruknya itu?

    Terimakasih

  24. December 7, 2013 at 23:21

    Nama Saya Astrini Sabarwati. dari judul “Galak di Rumah, Sinterklas di Sekolah” itu, saya sering pula melakukan hal yang sama. Bahkan banyak teman saya juga seperti itu. dari diri saya dan teman saya yang masih dalam tahap labil jiwanya, memungkinkan saya berprilaku seperti itu, saya hanya berfikir bahwa teman-teman bisa mengerti dan memberikan kebahagiaan terhadap saya, sedangkan orang tua hanya bisa-bisa menyuruh dan memarahi setiap harinya, saya tidak pernah mengerti maksud orang tua yang sebetulnya baik. kebetulan orang tua saya tidak terlalu sibuk jadi saya rasa kasih sayang mereka sudah cukup baik tapi terkadang hati saya keras dan sulit memahami keinginan orang tua. terkadang juga sulit membuat orang tua mengerti keinginan saya, saya yang sudah cukup dewasa terkadang masih sering dilarang ini,itu. bagaimana pendapat bapak, agar orang tua dan saya bisa saling memahami? terima kasih pak 🙂

Comments are closed.