Hak Asasi Manusia dan Asas Negara (1)

Keberhasilan Pelaksanaan Hak-Hak Asasi Manusia sering dikaitkan dengan asas yang mendasari suatu Negara. Tulisan ini berusaha mengkaji, apa pun asas suatu negara, hakekatnya, tidak begitu menentukan pelaksanaan hak-hak asasi manusia. Faktor manusia yang dipilih memegang tampuk kekuasaan di suatu negara justru amat menentukan pelaksanaan hak-hak asasi manusia di dan pada waktu tertentu.

I. Tentang Hak Asasi Manusia

A.  Hak Asasi Manusia

Setiap manusia yang lahir ke dunia selalu menghadapi dua kemungkinan, lahir tanpa hayat dan lahir dengan hayat.Manusia yang lahir tanpa hayat segera mati.Manusia yang lahir dengan hayat memperoleh hidup dan kehidupan.

Manusia yang hidup diperlengkapi Sang Pencipta dengan peralatan jasmaniah dan peralatan rohaniah. Dengan peralatan jasmaniah, ia mampu menatap rembulan, mendengar desir angin, dan mengayun langkah menapaki dunia. Dengan peralatan rohaniah -terdiri dari hati nurani, akal, budi, dan naluri-naluri- ia mampu menerima kehadiran-Nya, mampu berolah pikir, menangkap keadilan, menolak kebatilan, mengecap keindahan, mencerca keburukan, dan bergaul dengansesama.

Jadi, manusia yang lahir hidup ke dunia memperoleh langsung dari Penciptanya: hayat, peralatan jasmaniah, dan peralatan rohaniah. Karena itu hayat, peralatan jasmaniah, dan peralatan rohaniah disebut anugerah.Manusia lahir membawa ketiga anugerah itu dan sekaligus memperoleh hak untuk memiliki, menggunakan, dan mempertahankannya.

Karenaitu, hak memiliki, menggunakan, dan mempertahankan hayat, peralatan jasmaniah, dan peralatan rohaniah bukan pemberian sesama manusia.Bukan pemberian orangtua, bukan pemberian negara, bukan pemberian penguasa, bukan pemberian masyarakat, dan bukan pula hadiah majelis perwakilan rakyat. Hak-hak tersebut dibawa lahir semua manusia, tanpa pengecualian, sebelum ia berada di dunia. Karena itu, orang Inggris dan Amerika menyebutnya human rights, hak-hak semua manusia.Orang Belanda menyebutnya geboorte recht, hak-hak yang dibawa lahir.

Kesimpulannya, hak asasi manusia ialah kewenangan mendasar dari manusia untuk memiliki, menggunakan, dan mempertahankan hayat, peralatan jasmaniah, dan peralatan rohaniahnya.

B. Hak Asasi Manusia yang Paling Asasi

Bila hayat dan peralatan jasmaniah manusia dibandingkan dengan hayat dan peralatan jasmaniah hewan, secara asasi, tidak terdapat perbedaan. Manusia memiliki hayat, hewan pun memiliki hayat sehingga manusia dan hewan dapat hidup di dunia.Dari segi jasmaniah, manusia memiliki panca indera, kepala, tubuh, anggota tubuh, dan organ tubuh.Hewan juga memiliki semua unsur peralatan jasmaniah itu. Secara asasi, fungsi unsur-unsur itu sama dengan fungsi unsur-unsur  peralatan jasmaniah manusia. Perbedaan baru tampak ketika unsur-unsur peralatan rohaniah manusia dibandingkan dengan unsur-unsur peralatan rohaniah hewan.Peralatan rohaniah manusia terdiri dari hati nurani, akal, budi, dan naluri-naluri.Hewan hanya memiliki naluri-naluri tanpa memiliki hati, nurani, akal, dan budi.

Seandainya hewan memiliki hati nurani –alat yang memungkinkan manusia menerima kehadiran dan berkomunikasi dengan Sang Pencipta- maka pada setiap Jumat, sejumlah hewan akan berkerumun di mesjid-mesjid. Pada setiap hari Minggu, sejumlah hewan akan mengikuti kebaktian dan menyelenggarakan misa di gereja-gereja. Hewan-hewan lain, pada waktu-waktu tertentu, mungkin saja terus menerus mengucapkan doa.

Seandainya hewan memiliki akal –alat yang memungkinkan manusia berolah pikir- maka dunia manusia akan mengalami guncangan. Hewan-hewan tertentu akan mengikuti kuliah di perguruan tinggi, belajar, dan kemudian berusaha menjadi ilmuwan. Sebagian mungkin langsung bergabung dengan Ikatan Cendikiawan Manusia, sebagian lagi mungkin berkolaborasi dengan Ikatan Cendikiawan Hewan, atau ikatan-ikatan cendikiawan sejenis.

Seandainya hewan juga memiliki budi –alat yang memungkinkan manusia menilai keadilan-kebatilan, kebaikan-keburukan, dan keindahan-kejelekan- maka celakalah manusia.Etika dan estetika hewan mungkin lebih halus dari pada etika dan estetika manusia.Kalau terjadi unjuk rasa, kaum hewan mungkin jauh lebih peka dan lebih brutal dalam menentang kebatilan. Kerusuhan demi kerusuhan dapatmereka rekayasa dan yang sudah pasti: dalam menyelenggarakan pemilihan umum mereka akan lebih jujur dan adil.

Karena itu, yang membedakan manusia dengan hewan adalah tiga unsurpada peralatan rohaniah, yaitu hati nurani, akal, dan budi.Inilah yang menjadi kemanusiaan dari manusia, merupakan hal yang paling asasi. Tanpa ini manusia tidak berbeda dengan hewan yang hanya mengandalkan naluri. Memang, tubuhnya tetap berwujud manusia, namun secara rohaniah ia telah menjadi sama dengan kerbau. Dengan demikian, hak asasi manusia yang paling asasi ialah hak manusia untuk memiliki, menggunakan, dan mempertahankan hati nurani, akal, dan budinya.

C.Pembatasan Hak Menggunakan Hati Nurani, Akal, Budi

Hati nurani, akal, dan budi dibawa manusia sejak lahir, anugerah Sang Pencipta.Karena itu, hak memiliki dan hak menggunakannya juga merupakan anugerah Sang Pencipta. Tidak satu pun manusia memiliki hak melarang atau membatasi manusia lain menggunakan hati nurani, akal, dan budinya.

Manusia yang berusaha melarang atau membatasi manusia lain menggunakan hati nurani, akal, dan budi berarti merendahkan anugerah Sang Pencipta sekaligus merendahkan martabat manusia. Karena manusia tanpa hak menggunakan hati nurani, akal, dan budisama dengan hewan, sama dengan kerbau. Namun, yang paling utama, manusia yang melarang atau membatasi itu yang merendahkan martabatnya sendiri. Bukankah secara asasi ia merupakan manusia juga?

Lagi pula, melarang atau membatasi manusia lain untuk menggunakan hati nurani, akal, dan budinya tidak efektif. Hati nurani, akal, dan budi berbentuk abstrak. Tidak ada satu pun manusia yang mampu melihat hati nurani, akal, dan budi manusia lain. Begitu juga kerja hati nurani, akal, dan budi, bersifat abstrak. Bagaimana manusia yang melarang atau membatasi manusia lain menggunakan ketiga unsur peralatan rohaniah tersebut mampu mengetahui sesuatu yang abstrak?

Jelas, yang dapat dilakukannya hanyalah menduga-duga dan menakut-nakuti. Tetapi, sampai kapan ia mampu melakukan teror terhadap sesamam manusia lain? Tentu tidak selama-lamanya. Jadi, melarang atau membatasi manusia untuk menggunakan hati nurani, akal, dan budinya sama sekali tidak efektif.

D.Pembatasan Penyampaian Hasil Penggunaan Hati Nurani, Akal, Budi

Dengan memiliki hati nurani, akal, dan budi, manusia dapat melampau hewan-hewan dalam menjalani kehidupan.Tiga unsur peralatan rohaniah itu memungkinkan manusia mampu mengubah dunia sesuai keinginan.Mengubah kayu menjadi patung, bangku, atau kertas.Mengubah serat menjadi benang, benang menjadi kain, dan kain menjadi sarung.Semua ini merupakan hasil penggunaan hati nurani, akal, dan budi manusia yang biasa disebut kebudayaan.

Seluruh hasil penggunaan hati nurani, akal, dan budi manusia adalah milik dari manusia yang menggunakan hati nurani, akal, dan budinya.Bukan milik manusia lain. Karena pada hati nurani, akal, dan budi terdapat hak-hak asasinya maka pada hasil penggunaan hati nurani, akal, dan budinya melekat pula hak-hak asasinya.Ia berhak memiliki, menggunakan, dan mempertahankan ciptaannya tersebut.

Masalahnya, apakah ia berhak menyampaikan hasil penggunaan hati nurani, akal, dan budi –ciptaannya- itu kepada manusia lain? Bila si Sudin menggunakan hati nurani, akal, dan budi, dan hasil penggunaan hati nurani, akal, dan budinya adalah sebuah buku, apakah ia berhak menyampaikan bukunya kepada manusia lain?

Jika isi buku si Sudin itu berisi penghinaan atau caci maki kepada manusia lain, hasil penggunaan hati nurani, akal, dan budinya itu berarti merusak dan merendahkan martabat manusia lain. Merendahkan hati nurani, akal, dan budi manusia lain. Akibatnya manusia lain dapat mempertahankan diri, membalas, menyampaikan pula hasil penggunaan hati nurani, akal, dan budinya kepada si Sudin.Ia dapat saja menegur si Sudin, dapat menampar si Sudin, atau bertindak lain. Pertengkaran dan perkelahian dapat terjadi.

Karena itu, manusia memang mempunyai hak menyampaikan hasil penggunaan hati nurani, akal, dan budinya kepada manusia lain. Namun, ia tidak mempunyai hak merendahkan atau meniadakan hati nurani, akal, dan budi manusia lain. Manusia lain berhak pula menggunakan hati nurani, akal, dan budi untuk mempertahankan kemanusiaannya. Jadi, hak manusia menyampaikan hasil penggunaan hati nurani, akal, dan budinya kepada manusia lain boleh dan dapat dibatasi. Pembatasnya adalah hak manusia lain untuk mempertahankan hati nurani, akal, dan budinya.

Hak asasi manusia yang paling asasi dibatasi oeh hak asasi manusia (lain) yang paling asasi. Hak asasi manusia dibatasi oleh hak asasi manusia. (Bersambung)

Catatan: Tulisan ini telah dimuat di  JURNAL DINAMIKA HAM, Volume I, No. 01 Mei-Oktober 1997, Kerja sama Pusat Studi Hak Asasi Manusia, Universitas Surabaya dengan PT Gramedia Pustaka Umum.

14 comments for “Hak Asasi Manusia dan Asas Negara (1)

  1. jodhzz
    April 29, 2013 at 15:41

    menarik pak.

  2. Raras Anindyati
    April 30, 2013 at 10:55

    Hak Asasi Manusia yang selama ini saya tau adalah hak untuk hidup, berekspresi dalam pikiran, dituangkan ke dalam karya atau pun berkomentar. Namun, dalam pelaksanaannya tentu terdapat norma-norma yang harus diindahkan.
    Kebebasan berpikir dan menuangkan isi pikiran juga terdapat pada pembukaan Kode Etik Jurnalistik.
    Kode etik tersebut bukan dibuat untuk membatasi hak manusia, tetapi malah menjaga agar tidak keluar dari haluan.
    Pak, tulisan ini sangat bagus, saya jadi banyak tahu soal pelaksanaan Hak Asasi Manusia dan mendapat ilmu baru.
    Sebagai manusia saya menjunjung tinggi hak saya dan dalam perwujudannya mudah-mudahan akan seimbang dengan kewajiban saya.

    Terimakasih

  3. April 30, 2013 at 15:26

    Artikel ini menjadi acuan dalam penerapan di kehidupan sehari-sehari dan dalam hukum. Bagus untuk dibaca sebagai pengetahuan.

  4. Nurul Hikmah
    April 30, 2013 at 15:34

    Artikel mengenai HAM dan Asas Negara sangat bagus. Karena, banyak kalangan masyarakat terutama kalangan mahasiswa yang belum mengerti dengan jelas mengenai HAM dan Asas negara. Ini sangat membantu baik dalam pengetahuan maupun dalam kehidupan sehari-hari. Dengan artikel ini, kita juga dapat mengetahui dan dapat menempatkan porsi-porsi mengenai Hak kita dalam bermasyarakat.

  5. April 30, 2013 at 15:37

    Berbicara soal teroris yg terjadi di indonesia yang mengatasnamakan kepentingan jihad, apakah mereka termasuk orang-orang yang melanggar HAM? Lantas, bagaimana menyikapi orang-orang yahudi yang membinasakan banyak kaum muslim hanya karena untuk memperluas wilayahnya, sementara masyarakat tidak banyak yang merespon atau hanya sekedar jadi perbincangan ‘anget2 tai ayam’ tidak seperti perbincangam teroris di indonesia.

  6. Teguh nak lestarie
    April 30, 2013 at 15:45

    Saya ingin mengomentari soal sub bab hak asasi manusia yang paling asasi. manusia memang lebih tinggi derajatnya dari
    sekelompok hewan, tapi bagaimana jika manusia tersebut memiliki kelakuan yang lebih hina dari hewan ternak. hal ini saya dasari dari dalil alquran “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). MEREKA ITU SEBAGAI BINATANG TERNAK, BAHKAN MEREKA LEBIH SESAT LAGI. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS. Al A’raaf 179). sebab banyak kita jumpai pada media2 saat ini banya kejadian2 yang memang tidak sepatutnya dilakukan oleh orang yang memang hakikatnya memiliki akal, budi, pikiran, nirani dsb. pertanyaannya,apakah orang yang melakukan tindakan2 seperti membunuh anak sendiri, memperkosa, dll itu masih bisa dikatakan manusia?

    • Mohammad Fauzy
      May 6, 2013 at 05:32

      Tetap manusia juga secara jasmaniah. Tapi, secara hakikat, mereka sama dengan binatang.

  7. Iqbal Amrulloh
    April 30, 2013 at 15:50

    menurut saya artikel tentang Pelaksaan Hak Asasi Manusia cukup bagus, karena di artikel ini di jelaskan tentang apa yang telah manusia dapatkan sejak ia din lahirkan ke bumi. Hak asasi manusia juga merupakan sebuah anugrah yang dapat di manfaatkan dengan baik untuk diri seseorang, antar sesama manusia dan alam, dari anugrah tersebut dapat menhasilkan hubungan dan interaksi yang harmons antar sesama makhluk hidup.

  8. Tri Sanjaya
    April 30, 2013 at 15:57

    Dari artikel ini, bisa menjadi jelas perbedaan kodrat manusia dengan hewan tidak disertai peralatan rohani. Bila tidak ingin disamakan dengan hewan, manusia harus menggunakan peralatan rohani dengan baik. Artikel ini haruslah naik ke publis karena artikel ini sangat bermanfaat untuk khalayak sehingga manusia tidak berbuat semaunya yang bisa mengancam ketentraman HAM antar sesama yangmana telah terjadi kekacauan lantaran tidak memperdulikan hak yang lain.

  9. muhammad aziz
    April 30, 2013 at 16:39

    saya ingin mengomentari soal sub bab hak asasi manusia yang paling asasi. manusia memang lebih tinggi derajatnya dari
    sekelompok hewan, tapi bagaimana jika manusia tersebut memiliki kelakuan yang lebih hina dari hewan ternak. hal ini saya dasari dari dalil alquran “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). MEREKA ITU SEBAGAI BINATANG TERNAK, BAHKAN MEREKA LEBIH SESAT LAGI. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS. Al A’raaf 179). sebab banyak kita jumpai pada media2 saat ini banya kejadian2 yang memang tidak sepatutnya dilakukan oleh orang yang memang hakikatnya memiliki akal, budi, pikiran, nirani dsb. pertanyaannya,apakah orang yang melakukan tindakan2 seperti membunuh anak sendiri, memperkosa, dll itu masih bisa dikatakan manusia?

  10. Indah Primadanti
    April 30, 2013 at 18:50

    Hak asasi manusia yang didapatkan semenjak manusia lahir memang sudah suatu ketetapan atau kodrat. Manusia memiliki kebebasan untuk memutuskan sendiri perbuatannya. Disamping itu, untuk mengimbangi kebebasannya tersebut manusia memiliki kemampuan untuk bertanggung jawab atas semua tindakan yang dilakukannya.
    Dengan adanya tulisan bapak, para pembaca menjadi semakin mengetahui hakikat dan penempatan hak asasi manusia dalam bersosialisasi di masyarakat.

  11. Nurul Hikmah
    April 30, 2013 at 20:15

    Persamaan antara HAM dengan Pembukaan Kode etik Jurnalistik yakni pembukaan kode etik jurnalistik memuat mengenai kemerdekaan mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan sebagaimana diamanatkan oleh pasal 28 UUD 1945. Kemerdekaan mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan merupakan salah satu bagian dari HAM seseorang. Dimana mengeluarkan pendapat secara lisan maupun tulisan merupakan Hak seseorang yang sudah sejak lahir didapat berupa HAM.

  12. Kartika Ayu Afriliany
    April 30, 2013 at 21:08

    Sebagai makhluk sosial kita harus mampu mempertahankan dan memperjuangkan HAM kita sendiri. Di samping itu kita juga harus bisa menghormati dan menjaga HAM orang lain jangan sampai kita melakukan pelanggaran HAM. Jangan sampai pula HAM kita dilanggar dan dinjak-injak oleh orang lain. Jadi, dalam menjaga HAM kita harus mampu menyelaraskan dan mengimbangi antara HAM kita dengan orang lain.

    Setiap individu memang mempunyai keinginan agar HAM-nya terpenuhi, tapi satu hal yang perlu kita ingat jangan pernah melanggar atau menindas HAM orang lain.

  13. Rezi Febrian
    April 30, 2013 at 21:54

    Saya setuju dengan pendapat bapak dalam artikel di atas, Pak. Seseorang sudah memiliki Hak Asasi tentu dari lahir bukan Pak, tetapi ketika seseorang sudah dewasa dan tahu mana baik dan buruk, ia punya tolak ukur untuk berpikir dan menuangkan isi pikiran. Dalam hal ini, kita juga punya hak mutlak untuk berekspresi, tetapi tentu ada batasan-batasan, maka dibuat norma-norma yang harus ditaati manusia. Kesamaan antara pembukaan Kode Etik Jurnalistik dengan Hak Asasi Manusia adalah kesamaan semua orang dalam mengeluarkan pikiran, lisan, dan tulisan yang sebagaimana diamanatkan dalam pasal 28 Undang-Undang Dasar 1945 yang wajib dihormati oleh semua pihak dan tentunya bertanggung jawab serta mematuhi norma-norma yang berlaku.
    Yang saya simpulkan dari tulisan bapak, Hak Asasi Manusia tidak dibatasi, tetapi harus menghargai hak asasi manusia lain juga.

    Terimakasih.

Comments are closed.