HOMOSEKS

Ibu: Bisa bantu, nggak, Pak? Anak saya kemarin bilang, entah bagai mana, ia mulai tertarik dengan sesama sejenisnya.

Wah, agak susah juga masalah ini. Apakah sebelumnya keluarga ibu atau keluarga suami ibu ada yang begitu?

Ibu: Tidak ada, Pak. Setahu saya tidak ada. Kenapa?

Tidak apa-apa. Hanya untuk menyakinkan saya bahwa anak ibu ini benar-benar tertarik dengan sesama jenis bukan karena masalah genetik, melainkan memang soal life style aja. Soal lingkungan.

Ibu: Oh, kalau genetik memangnya kenapa?

Ya, suntik hormon saja. Sekarang kan banyak yang begitu, kalau soal life style, ibu harus segera bertindak.

Ibu: Bertindak gimana?

Anak ibu sekarang di mana?

Ibu: Di asrama, Pak. Dia masih sekolah dan tinggal di asrama sekolahnya.

Sejak kapan dia ibu masukkan ke asrama?

Ibu: Dia tinggal di sana sejak kelas 3 SD, sekarang udah tamat SLTP dan baru mulai SLTA-nya. Jadi, ya udah sekitar enam tahun lebih lah, Pak.

Baik, kalau begitu, ia harus segera ibu pindahkan dari asrama. Dia sebaiknya tinggal kembali bersama ibu di rumah.

Ibu: Lho, memangnya karena tinggal di asrama dia menjadi begitu? Di sana walau sesama laki-laki, mereka tidur dipisah, Pak. Asramanya tertib.

Bukan begitu. Kalau pun tidak di asrama, ya tetap saja saya sarankan pindah. Ia harus diberi lingkungan yang baru, yang lebih baik pergaulannya. Paling tidak, setelah itu, ia baru bisa diatasi secara klinis. Kalau sekarang, ya percuma aja ditangani, lingkungannya masih tidak berubah.

Ibu: Apa itu diatasi secara klinis? Sebesar apa faktor lingkungan ini mempengaruhi ketidaknormalan anak saya?

Diatasi secara klinis artinya anak ibu memerlukan terapi. Ia secara teratur akan saya terapi. Sedangkan soal faktor lingkungan, kalau sekarang tamat SLTP, jelas anak ibu berusia sekitar lima belasan. Dalam masa perkembangan ini, faktor lingkungan sangat besar pengaruhnya, kecuali nanti kalau sudah di atas 30 tahun, faktor personal akan mulai menguat. Karena itu, sebaiknya anak ibu segera dipindah dan kembali sekolah secara wajar. Lagi, pula, sudah waktunya ia mulai kembali menerima pengaruh-pengaruh dan interaksi bersama orangtuanya di rumah. Ada kontrol yang lebih kuat dari ibu dan ayah, nanti akan lebih mudah ditangani secara klinis. Mumpung dia masih remaja dan kepribadiannya masih berkembang.***

10 comments for “HOMOSEKS

  1. aida maqbulah
    September 13, 2012 at 23:08

    untuk mengatasi orang-orang yang sudah berumur 20thn dan menyukai sesama jenisnya gimana pak? saya sampai sempat mikir apa teman saya suka lawan jenisnya atau tidak yah? orang yang sudah seperti ini apakah mereka mau menikah dengan lawan jenis mereka?

    • Mohammad Fauzy
      October 10, 2012 at 01:29

      Pertama, orang itu harus benar-benar menyadari bahwa dirinya “keliru” dan karena itu mau merubah diri menjadi “sembuh”. Tanpa kesadaran ini, tidak akan ada motif kuat dari orang tersebut dan proses semakin sulit. Artinya, jika dia sudah mau berubah, terapi secara klinis, walau makan waktu, baru dapat dilakukan. Kedua, dapat saja mereka benar-benar mau menikah dengan lawan jenis jika didukung. Beberapa di antara mereka ada yang pindah ke Belanda untuk menikah karena memperoleh dukungan pemerintah secara legal.

  2. Normalina Adinda
    September 25, 2012 at 18:03

    Saya mempunyai teman yang homoseksual. Sewaktu dia kecil, dia pernah mengalami pelecehan seksual oleh tetangganya. Waktu itu kira-kira dia masih TK. Namun keluarganya tidak ada yang mengetahui hal tersebut.Beranjak dewasa, dia bergaul dengan wanita-wanita. Jarang sekali dia mempunyai teman lelaki. Dari SMA teman dekat dia wanita. Tidak pernah main bola, tidak suka olahraga, ataupun kegiatan lelaki normal lainnya. Yang dia suka justru hal-hal yang wanita suka. Sewaktu SMA dia mengakui menyukai kakak kelas, dan tentu saja sebagai homoseksual yang dia suka adalah kakak kelas lelaki.
    Sampai sekarang saya dan teman-teman saya masih bingung menghadapi dirinya.
    Sekarang dia semakin parah dan rasanya sulit merubahnya menjadi lelaki normal karena faktor lingkungan dia serta lifestyle-nya sekarang membuat dia semakin parah.
    Yang ingin saya tanyakan, apa pengaruh masa lalu dia sehingga dia menjadi homo? dan bagaimana cara terbaik agar mengubahnya menjadi lelaki normal?

    Normalina Adinda

  3. Rama Uganda Winata
    October 9, 2012 at 20:53

    Saya pikir gejala penyakit homoseks ini berawal dari mata. Menurut saya, ada daya tarik tersendiri dari mata yang bisa menular. Jadi, penyakit ini bisa dibilang menular lewat mata. Bagi anak remaja yang berkembang, yang terkena penyakit ini masih bisa diselamatkan naluri kelelakiannya. Karena benar apa yang diungkap di atas, faktor orangtua untuk menarik anaknya dari lingkungan yang rentan. Remaja yg berkembang masih bisa diubah cara pandangnya dengan persepsi-persepsi lewat komunikasi ke dalam pikiran.

    Tetapi, bagi yang sudah diatas 20 tahun mungkin beda lagi gejala awalnya. Bisa saja karena dia sering dipermainkan oleh wanita atau bisa jadi dia di intimidasi oleh teman main sekitarnya sehingga membuat ia bermain dengan wanita. Ini diluar dari unsur genetik. Dan agak susah, karena memang benar, ketika diatas 30 tahun sudah menguat dari personalnya. Yang jelas, hindari kontak mata langsung dengan orang yang sejenis homo atau gay. Karena itu tadi, menurut saya bisa menular.

  4. Ru__suck
    October 10, 2012 at 04:14

    Saya seorang mahasiswa, dan kadang secara tidak langsung saya jumpai pribadi-pribadi homoseks seperti ini dilingkungan pergaulan saya di kampus. Sebagai pihak luar (teman/keluarga/kerabat) dari diri si pribadi (homoseks) ini. Apa yang bisa saya lakukan untuk menumbuhkan kesadaran bahwa dirinya “keliru” dan karena itu mau merubah diri menjadi “sembuh”.
    Adakah cara/pendekatan tertentu tuk menumbuhkan kesadaran ini. Sehingga tindakan lebih lanjut seperti terapi secara klinis bisa dilakukan?

    Dan masih sebagai pihak luar (teman/keluarga/kolega) dari diri si pribadi homoseks ini, bagaimana langkah-langkah yang bisa di lakukan tuk mencegah pribadi homoseks ini semakin kuat dan sampai membuat keputusan tuk meyakini dirinya bahwa dia adalah pribadi homoseks? Adakah identifikasi yg lebih jelas perihal pribadi homoseks ini baik dari segi prilaku dan kepribadian yang lebih objektif?

    • Mohammad Fauzy
      October 10, 2012 at 06:30

      Untuk menumbuhkan kesadaran bahwa itu keliru, sungguh sangat sulit sekarang ini. Pertama, homoseks sekarang tidak dianggap penyakit, tapi “perubahan orientasi seksual”. Malah menjadi seorang homosek adalah pilihan, harus diakui Hak Asasi Manusia (HAM)-nya dan diterima masyarakat.Dari segi ini, malah homoseksual tidak harus ditentang atau disembuhkan.Biasanya para pendukung “faham” ini baru sadar dan bingung kalau keluarga atau orang dekatnya terkena homoseksual. Karena itu, langkah pertama, adalah mengeluarkan pelaku homoseksual dari lingkungan yang mendukungnya.

      Kedua, menyalurkan hasrat seksual adalah keadaan menyenangkan. Pada saat “kecanduan”, sangat sulit menyadarkan pelaku homoseksual. Karena itu, menumbuhkan kesadaran pada homoseksual, hanya menunggu saat paling tepat, saat ia menderita. Rasa “penderitaan” ini umumnya baru muncul ketika terjadi konfrontasi internal dengan keyakinan agama dan norma keluarga.

      Ketiga, pencegahan paling efektif dari homoseksual adalah cepat-cepat menikah dengan lawan jenis.

      Tidak ada identifikasi yang paling obyektif, kecuali perilaku homoseksual itu sendiri. Subyektif pelaku, pengakuannya, biasanya bersifat terbatas.

  5. Lintangsewu
    October 11, 2012 at 17:17

    Pak Fauzy

    HOMOSEX Bukan “perubahan orientasi seksual” tetapi lebih pada “PILIHAN ORIENTASI SEKSUAL” ya itu benar.
    Oleh Depkes sudah dinyatakan bukan Penyakit termasuk Lesbian, Beseksual, Trans.

    Jangan dikatakan Penyakit dan keliru, dari segi kesehatan itu adanya kelebihan Gen. Jadi tidak perlu ada kekuatiran yang berlebih.

    seperti yang dapat saya sampaikan, ada teman dekat saya yang sejak kecil sudah merasa aneh dengan dirinya, SMP, SMA dilalui tetapi ketertarikan itu tidak pada laki-laki condong pada teman perempuannya (bukan tidak laku nikah ya). Semuanya dia coba sampai dia juga berhubungan dengan seorang Gay …… tetap tidak ada kecocokan. Keputusan ini adalah PILIHAN karena memang dia benar-benar tidak tertarik dengan laki-laki. Demikian pula sebaliknya Homoseksual, Gay dan sejenisnya.

    Kalau dikatakan disakiti perempuan kemudian menjadi Homoseksual aneh sekali ya Pak, kalau begitu Lesbian dan sejenisnya juga donk. Saya kira tidak Pak, karena sejak dari awalnya sudah dia miliki PILIHAN itu, hanya saja karena keinginan orang tua dia TERPAKSA MENIKAH.

    Apa hasilnya?

    Pak Fauzy menuliskan :

    Pertama, orang itu harus benar-benar menyadari bahwa dirinya “keliru” dan karena itu mau merubah diri menjadi “sembuh”. Tanpa kesadaran ini, tidak akan ada motif kuat dari orang tersebut dan proses semakin sulit. Artinya, jika dia sudah mau berubah, terapi secara klinis, walau makan waktu, baru dapat dilakukan.

    Pak, ini bukan berubah dan bukan sadar ya Pak. Saya akan sambung lagi Senin depan, menunggu Bapak menjawab atau meluruskan jawaban saya.

    GBU
    Lintangsewu

  6. Muhammad Fahmi Faturahman
    October 14, 2012 at 20:32

    Saya mahasiswa. Saya setuju dengan pendapat Bapak Fauzy. Faktor lingkungan lah yang paling berpengaruh terhadap seseorang untuk menjadi seorang homoseks. Tapi, masih ada hal lain yang dapat mempengaruhi seseorang menjadi homoseks yaitu dorongan seksual yang sangat tinggi, mungkin masih banyak lagi yang dapat mempengaruhinya.

    Saya ingin bertanya kepada Bapak Fauzy. Apakah faktor orang tua dapat mempengaruhi seorang anak untuk menjadi seorang homoseks? Kalo iya, mengapa itu terjadi?

    Saya bertanya bukan karena saya homoseks, tentu saja saya lelaki normal yang suka terhadap lawan jenis. Saya mempunyai seorang kekasih dan itu wanita pastinya saya menyayanginya. Saya bertanya Karena saya hanya ingin tau.
    Trimakasih.

  7. Niko
    June 21, 2014 at 07:37

    Saya seorang yg hampir memasuki usia 30 th. Akhir akhir saya menyadari klo sebenarnya saya seorang Gay. Selama ini saya telah berusaha untuk mengalihkan dan memperbaiki orientasi seks saya tetapi hasilnya nihil malahan ketertarikan akan sesama semakin tinggi. Terkadang timbul keinginan untuk mengakui keadaan yg sebenarnya kepada lingkungan sosial untuk diakui eksistensi tetapi di sisi lain ada rasa takut akan tuhan dan rasa bersalah terhadap keluarga dan keluarga karena merasa telah menjadi aib bagi mereka. Pergumulan rasa itu memberikan dorongan untuk mati agar dpt menyelamatkan nama baik keluarga. Tlg masukan dari bapak agar saya mampu keluar dari pergolakan batin ini pak. Trims

    • Maya Aksara
      July 9, 2014 at 02:54

      Saudara, saya faham dengan perasaan Saudara, dengan kesakitan dan pergumulamn Saudara dalam bertempur dengan hawa nafsu. Karena itu, saya tegaskan, Saudara telah berada di jalan yang benar karena masih takut dengan Tuhan dan lingkungan Saudara. Ini adalah pertahanan terakhir bagi orang yang berusia 30 tahun seperti Saudara. Hanya, Saudara tidak boleh mati. Pertama, penderitaan Saudara sama saja dengan laki-laki “normal” yang tidak mampu mengatasi atau menyalurkan dorongan seksual. Kedua, psikologi lebih sering gagal daripada berhasil dalam mengatasi kesulitan Saudara. Saya tidak tahu agama Saudara. Namun, apa pun agama Saudara, ini adalah alternatif yang baik dalam mengatasi orientasi seksual Saudara. Pergilah kepada ulama-ulama atau pemuka agama Saudara. Tuturkan masalah Saudara. Ingat, Saudara mengalami cobaan ini tentu karena ada “hadiah” besar menanti Saudara jika mampu mengatasinya. Tidak semua dan tidak banyak orang mengalami gangguan orientasi seks ini. Untuk sementara, hindarilah lingkungan yang dapat merusak orientasi seksual Saudara. Semoga bermanfaat. Terimakasih.

Comments are closed.