PERSEPSI (Bagian 1)

Pengalaman sehari-hari mengenai dunia visual mungkin tampak biasa dan jelas. Namun, ketika seseorang membandingkan pengalamannya (sebuah dunia yang obyeknya tetap stabil dan konstan) dengan pengamatannya melalui penginderaan dalam bentuk rangsang secara fisik (suatu keadaan mendekati perubahan yang kontinyu),  pengalamannya mengenai dunia visual seolah-olah melibatkan dua ‘dunia’ yang sangat berbeda. Para ahli psikologi menggunakan istilah sensasi dan persepsi untuk membedakan dua ‘dunia’ ini. Sensasi merujuk ke pengalaman-pengalaman yang merupakan hasil terpaan rangsang secara fisik (misal, sinar atau suara) ke berbagai organ indera (misal, mata dan telinga). Persepsi merujuk ke cara pengorganisasian dan penafsiran informasi sensoris yang datang untuk memungkinkan seseorang membentuk  ‘gambaran  dalam’  mengenai dunia luar.

Bab ini memperhatikan beberapa dasar gejala pengamatan visual dan cara persepsi visual diorganisir. Perhatian pada penglihatan ini bukan mengesampingkan indera lain. Karena penglihatan adalah modalitas indera yang dominan pada manusia. Banyak hal telah diketahui mengenai persepsi dalam modalitas penginderaan ini daripada modalitas penginderaan lain (Eysenck, 1993). Banyak prinsip-prinsip yang mengatur persepsi visual manusia diungkapkan, pertama kali  oleh murid-murid sebuah ‘sekolah’ pemikiran psikologi German yang menyebut diri Ahli Psikologi Gestalt. Bab ini mempelajari kontribusi mereka pada pengetahuan mengenai persepsi visual.

2.1.  Psikologi Gestalt dan Persepsi Visual

Sepanjang 1890, filsuf German Ehrenfels mengklaim, banyak kelompok stimuli  memerlukan suatu  susunan sifat  yang melampaui dan mengatasi jumlah dari bagian-bagian stimuli itu. Sebuah persegi, contoh,  lebih dari pada sebuah kumpulan sederhana garis-garis. Ia mempunyai ‘kepersegian’. Ehrenfels menyebut ini ‘sifat emergent’  Gestalt qualitat (atau kualitas bentuk). Awal abad ini, ahli psikologi Gestalt (paling dikenal, Max Wertheimer, Kurt Koffka, dan Wolfgang Kohler) berusaha menemukan prinsip-prinsip penafsiran informasi sensoris. Mereka berargumen, seperti menciptakan sebuah pengalaman perseptual yang koheren, lebih dari pada jumlah bagian-bagiannya, otak melakukan hal ini  dengan cara teratur dan dapat diprediksi. Prinsip-prinsip pengorganisasian ini sebagian besar ditentukan pembawaan sejak lahir.

2.2. Persepsi Bentuk

Bila seseorang hendak menstrukturkan informasi sensoris yang masuk,  saat itu, ia harus mempersepsi obyek-obyek sebagai hal yang terpisah dari rangsang lain dan memiliki bentuk yang bermakna.

2.2.1. Figur dan Latar

Tugas pertama pengamatan seseorang ketika dikonfrontasi dengan sebuah obyek (atau figur) ialah mengenal obyek. Untuk melakukannya, ia harus mengamati obyek sebagai sesuatu yang berbeda dari hal-hal di sekeliling obyek (atau latar). Keakraban  seseorang dengan suatu obyek berperan menentukan apakah obyek diamati sebagai figur atau latar. Namun, bagaimanapun, bentuk-bentuk asing dan bahkan yang paling tidak bermakna,  juga terlihat  sebagai  figur-figur, sebagaimana di gambar 1.1.

Hal ini mengilustrasikan bahwa keakraban penting untuk mempersepsi bentuk, tidak diperlukan. Bila begitu, seseorang akan memperoleh kesulitan untuk mengamati  obyek-obyek  yang belum pernah ia lihat (Carlson, 1987). Satu dari penentu-penentu terkuat figur dan latar ialah sekelilingnya. Area-area yang tertutup kontur secara umum tampak sebagai figur, sebaliknya area yang mengelilingi secara umum tampak sebagai latar. Penelitian menunjukkan ukuran, orientasi, dan kesimetrisan juga memainkan peran dalam pemisahan figur-latar.

 Pada beberapa kasus, sebelumnya, mungkin tidak terdapat cukup informasi dalam suatu pola yang dapat mempermudah seseorang untuk membedakan figur dan latar. Sebuah contoh bagus tampak pada gambar 1.2. Dalmatian (figur),  anjing tutul-tutul,  sulit dibedakan dari latar karena, dari sejumlah ‘kontur anjing’ yang ia miliki, hanya sedikit yang dapat dilihat. Hasilnya, dalmatian itu kelihatan memiliki bentuk yang tidak lebih berbeda dari pada latarnya (dan ini, tentu, merupakan prinsip yang mendasari kamuflase)

Pada kasus lain, sebuah figur mungkin memiliki kontur-kontur yang jelas, namun dapat diamati dalam dua cara yang sangat berbeda. Karena,  tidak jelas  bagian rangsang yang merupakan figur dan bagian rangsang yang merupakan latar. Hal ini dikenal sebagai pembalikan figur-latar. Sebuah contoh paling terkenal adalah vas, pot bunga Rubin (Rubin, 1915) di  gambar 1.3. Pada pot bunga Rubin, hubungan gambar-latar secara terus-menerus mengalami pembalikan sehingga pot itu diamati sebagai sebuah pot putih dengan latar hitam atau dua profil hitam pada latar putih. Bagaimanapun, rangsang selalu diorganisir ke dalam sebuah figur yang tampak pada sebuah latar, dan pembalikan mengindikasikan rangsang yang sama dapat memicu lebih dari satu persepsi.

 2.2.2. Pengelompokan

Sekali seseorang mendiskriminasi figur dari latar, figur dapat diorganisir ke dalam sebuah bentuk yang bermakna. Ahli psikologi Gestalt yakin bahwa obyek-obyek diamati sebagai gestalten (telah diterjemahkan secara bervariasi sebagai keseluruhan pengorganisasian, konfigurasi-konfigurasi, atau pola-pola) dari pada kombinasi-kombinasi, sensasi-sensasi yang terisolasi. Ketika seseorang membawa pesan ke sensasi-sensasinya dan coba memberi bentuk, ia menggunakan ‘hukum-hukum’ tertentu untuk mengelompokkan rangsang bersama-sama. Ahli psikologi Gestalt mengindentifikasi sejumlah ‘hukum-hukum’ tentang organisasi persepsi yang menggambarkan pandangan mereka bahwa pengamatan keseluruhan pada suatu obyek  lebih dari  pada  jumlah  bagian-bagiannya.

Hukum ini dapat diringkas di bawah satu judul, hukum pragnanz, menurut pernyataan: ‘organisasi psikologis akan selalu sama ‘utuh’ dengan kondisi-kondisi umum yang mengijinkan. Dalam definisi ini, ‘utuh’ tidak didefinisikan (Koffka, 1935). Menurut Attneave (1954), ‘utuh’ dapat didefinisikan sebagai memiliki suatu taraf  redudansi (kelebihan) internal yang tinggi, yaitu, struktur sebuah bagian yang tidak dapat dilihat sangat dapat diprediksi dari bagian-bagian yang dapat dilihat. Secara sama, menurut  prinsip minimum Hochberg (1978), bila terdapat lebih dari satu cara mengorganisir rangsang visual tertentu, orang yang kemungkinan besar mengamati adalah orang yang memerlukan jumlah informasi paling sedikit untuk  mengamati  rangsang. Dalam praktek, cara ‘terbaik’ mengamati sesuatu adalah melihatnya secara simetrik, seragam dan stabil, dan ini dicapai dengan mengikuti  hukum-hukum pragnanz. [1] Hukum ini terdiri dari  tujuh  ketentuan:

1. Kedekatan

Elemen-elemen yang muncul berdekatan satu sama lain dalam ruang atau waktu cenderung diamati bersama-sama, sehingga perbedaan jarak titik-titik menghasilkan empat  garis vertikal atau empat garis horizontal:

● ● ● ●             ● ● ● ● ●
● ● ● ●             ● ● ● ● ●
● ● ● ●             ● ● ● ● ●
● ● ● ●             ● ● ● ● ●

Sebuah contoh auditif mengenai kedekatan, seseorang akan mempersepsi serangkai notasi musik sebagai sebuah melodi karena notasi-notasi itu segera tiba setelah satu notasi lain pada waktunya.

2. Kesamaan

Bila figur-figur mempunyai kesamaan satu sama lain, seseorang cenderung mengelompokkan mereka bersama-sama. Jadi, segitiga-segitiga dan lingkaran-lingkaran di bawah ini lebih dilihat sebagai kolom-kolom dari bentuk-bentuk yang sama ketimbang dilihat  sebagai baris-baris dari bentuk-bentuk berbeda.

▲  ●  ▲  ●  ▲
▲  ●  ▲  ●  ▲
▲  ●  ▲  ●  ▲
▲  ●  ▲  ●  ▲

Ketika seseorang mendengar seluruh suara yang terpisah dalam suatu koor sebagai suatu kesatuan, prinsip kesamaan beroperasi.

3. Kesinabungan

Seseorang cenderung mengamati bentuk, pola-pola berkesinabungan dari pada sebuah pola terputus-putus. Pola di bawah dapat dilihat sebagai rangkaian setengah-lingkar yang bertukar-tukar, namun cenderung diamati sebagai sebuah garis bergelombang (A) dan sebuah garis lurus (B).

Musik dan suara diamati sebagai sesuatu yang berkesinabungan dari pada serangkai bunyi-bunyi yang terpisah.

4. Penutupan

Hukum penutupan mengatakan, seseorang sering mensuplai informasi yang hilang untuk menutup sebuah figur dan memisahkannya dari latar. Dengan mengisi bagian yang hilang tersebut, ilustrasi di bawah ini dilihat lebih sebagai sebuah lingkaran.

5. Hubungan Bagian-Keseluruhan

Sama seperti ilustrasi kesinambungan dan kedekatan, tiga figur di bawah mengilustrasikan prinsip bahwa keseluruhan lebih besar dari pada jumlah bagian-bagiannya. Setiap pola disusun dari 12 tanda silang, namun secara keseluruhan pola-pola itu berbeda, meski  sama bagian bagiannya.

Notasi-notasi dalam suatu skala musik yang skalanya ditinggikan menghasilkan bunyi yang sangat berbeda dibandingkan dengan notasi-notasi yang sama, yang skalanya direndahkan. Dan,  melodi yang sama dapat dikenal ketika disenandungkan, dibisikan atau dimainkan dengan  instrumen dan di dalam kunci-kunci (notasi) yang berbeda.

6. Kesederhanaan

Menurut hukum ini, sebuah pola rangsang akan diorganisir ke dalam komponen-komponennya yang paling sederhana. Figur di bawah biasa diamati sebagai sebuah segi empat dengan sebuah segitiga yang melengkapi dari pada sebagai sebuah bentuk geometri  yang rumit dan tidak bernama.

7. Gerak bersama-sama

Elemen-elemen yang terlihat bergerak bersama-sama diamati sebagai elemen milik bersama. Hal ini menjelaskan mengapa sekelompok orang yang berlari pada arah yang sama muncul menyatu dalam tujuan mereka.

2.3.  Evaluasi Sumbangan Gestalt

Paling tidak, sebuah filsafat besar yang mempengaruhi psikologi Gestalt adalah fenomenologi. Sepanjang menyangkut persepsi, fenomenologi melihat stabilitas dan koherensi dunia (yaitu, dunia yang dialami sehari-hari) sebagai pusat  perhatian. Koffka, contoh, meyakini bahwa pertanyaan terpenting untuk dijawab para ahli psikologi persepsi ialah ‘Mengapa melakukan sesuatu terlihat seperti yang mereka lakukan?’ dan bagi Kohler: ‘Tampaknya menjadi satu titik awal bagi psikologi, tepatnya seperti bagi semua ilmu lain: dunia seperti kita menemukannya, kekanak-kanakan dan tidak kritis’.

Bagi banyak ahli psikologi, psikologi Gestalt telah memiliki suatu pengaruh besar dalam pemahaman mengenai proses-proses pengamatan. Menurut Roth (1986), laporan paling komperhensif mengenai pengelompokkan perseptual tetap diberikan ahli-ahli Gestalt. Dan, dalam pandangan Gordon (1989), temuan-temuan mereka ‘sekarang telah menjadi bagian dari pengetahuan permanen kita tentang persepsi’, dan kebanyakan ahli psikologi akan menyetujui, para ahli Gestalt  telah benar  tentang banyak hal.

Namun, banyak peneliti kontemporer telah membantah, seperti dikemukakan semula, beragam ‘hukum’ yang diajukan para ahli Gestalt, paling baik hanya bersifat deskriptif dan yang paling buruk adalah kekaburan, ketidaktepatan, dan sulit untuk mengukur  (hal apa, contoh,  yang membuat sebuah lingkar atau segi empat merupakan sebuah figur ‘yang utuh’? (Greene, 1990). Beberapa studi (contoh, Pomerantz dan Garner, 1973; Navon, 1977) telah berupaya menyebut berbagai kritik yang dibuat dari hukum-hukum Gestalt.

Data yang dilaporkan Navon dan temuan-temuan beberapa kajian lain memberi dukungan pada pernyataan-pernyataan yang dibuat para ahli Gestalt. Namun, hukum-hukum Gestalt sulit diterapkan untuk persepsi mengenai obyek-obyek padat (seperti dilawankan dengan gambar 2-D). Mata manusia dirancang untuk melihat obyek-obyek 3-D dan ketika susunan-susunan 3-D dikaji, hukum-hukum Gestalt tidak dapat ditegakkan secara konsisten (Eysenck, 1993). Lagi pula, para ahli psikologi Gestalt sangat menekankan obyek-obyek tunggal; padahal dalam dunia yang mengelilinginya manusia, manusia dihadapkan dengan ‘keseluruhan’ kancah di mana obyek-obyek tunggal merupakan ‘bagian-bagian’ (Humphreys dan Riddoch, 1987). Hasilnya, banyak pertunjukan-pertunjukan psikologi Gestalt memiliki validitas lingkungan sangat rendah, tidak merepresentasikan hal-hal yang disebut Gordon (1989) ‘obyek-obyek dan peristiwa-peristiwa yang harus dihadapi organisme untuk bertahan’.

(Bersambung)

[1] Catatan: Seluruh hukum Gestalt bekerja untuk menciptakan kemungkinan bentuk paling stabil, konsisten, dan sederhana dalam suatu susunan visual tertentu. Ahli psikologi Gestal menyebut proses ini  Hukum Pragnanz yang menyatakan,  organisasi susunan visual ke dalam obyek-obyek pengamatan akan selalu sama ‘utuh’ dengan kondidi-kondisi umum yang mengijinkan. Di sini, makna utuh mencakup konsep-konsep seperti keteraturan, kesederhanaan, dan kesimetrisan. Hukum Pragnanz merupakan juga sebuah cara mengatakan bahwa sistem-sistem pengamatan bekerja untuk menghasilkan suatu dunia pengamatan yang  menyampaikan ‘esensi’ dunia nyata, yaitu memastikan informasi mengenai dunia nyata ditafsir secara tepat. Kenyataan, kata Jerman Pragnanz  secara tepat berarti  “menyampaikan esensi dari sesuatu.” Karena kondisi-kondisi yang berlaku kadang kala tidak ideal, seperti dalam gambar-gambar garis atau pada malam berkabut, esensi dapat menjadi lebih baik dari pada realitas. Melihat pola-pola kontur yang komplek sebagai obyek-obyek pengamatan membuat pemprosesan selanjutnya mengenai susunan vas dari informasi pada imej retina lebih sederhana dan lebih cepat. (Baca Coren, Ward, dan Enns dalam Sensation and Perception,  Harcourt Brace College Publisher, Florida, 1994: 382).