IDIOT, TAPI INDIGO

Anak perempuan itu hanya dapat duduk. Walau sudah berusia 13 tahun, tubuhnya masih kecil. Makanannya hanya susu Dancow. Baru sebulan ini dia mulai dipaksa makan nasi. Ia tidak mampu melihat, tidak mampu mendengar, dan bahkan tidak mampu berbicara. Ibu anak itu menjelaskan, menurut dokter dan psikolog, anak perempuan itu idiot.

Idiot gimana?

Ibu: Bodoh. Terkebelakang, Pak.

Hm, apa betul? Ia tampak sehat, kok. Sini, Lies, kenalan sama Om.

(Anak itu memukul-mukul kepalanya.)

Ibu: Nah, begitu dia, Pak. Suka memukul diri sendiri. Kenapa, ya?

Maaf, boleh saya memegang dia?

Ibu: Silakan, Pak.

Ayo, kenalan sama, Om. Tenang, tenang, ya.

(Anak itu diam beberapa saat.)

Ibu: Wah, jarang-jarang dia mau dipegang orang asing. Apa lagi jadi diam begitu.

Nah, tenang begini, ya. Udah makan belum?

(Mendadak anak itu menatap tajam dengan matanya yang buta.)

Ibu, lihat, tampaknya dia cukup mengerti. Ia tidak tuli.

Ibu: Tuli, kok, Pak. Menurut dokter, ia tuli, bisu, dan buta.

Lihat, saya lepaskan tangan saya. Saya akan pindah tempat sekarang. Lies, udah, makan belum? Tenang, ya. Tenang.

Ibu: Lho, kok ia bisa terus menatap ke arah, Bapak?

Ia tahu ke arah mana saya pergi. Ia memang tidak melihat, tapi ia memahaminya. Ia memang tidak mendengar apa yang saya katakan, tapi ia memahami apa yang saya maksudkan. Lihat, dia tersenyum. Dia memang tuli, tapi ia mendengar.

Ibu: Maksud, Bapak?

Anak ibu ini memiliki ketajaman batin yang luar biasa. Bisa jadi dia memang idiot. Dengan cara skolastik, IQ-nya tidak lebih dari 67, tapi saya yakin kecerdasan intrapersonalnya sangat tinggi melampaui IQ orang normal yang rata-rata berkisar 97 sampai 110. Walau ia bertubuh cacat, buta, tuli, dan bisu, ia mengetahui apa-apa yang terjadi di sekitarnya.

Ibu: Pantesan, tadi pagi kakeknya jatuh di WC. Ia memukul-mukul tembok sehingga orang terbangun dan tahu kakeknya jatuh. Rupanya ia tahu kakeknya jatuh?

Ada pengalaman lainnya?

Ibu: Oh, iya. Sebelum neneknya meninggal, ia menarik-menarik kabel televisi seperti mengamuk dan menjatuhkannya. Dan, ia tidak mau dipegang oleh sembarang orang. Dia tahu orang-orang jahat dan orang-orang yang berkelakuan buruk. Dan, beberapa orang terkadang, minta kode darinya untuk pasang nomer.

Kalau begitu, perlakukan anak ibu seperti anak-anak normal lainnya. Rawat dia baik-baik dan sering-sering dipeluk, dielus, dipegang tangannya, dan selalu diajak bicara. Ia memang buta, tuli, dan bisu, tapi tubuhnya masih mampu merasakan sentuhan ibu. Anak ini masih cerdas secara kinestetik. ***

8 comments for “IDIOT, TAPI INDIGO

  1. Millaty
    September 18, 2012 at 23:10

    Setiap hari, terdengar suara anak tetangga sebelah rumah saya berteriak diikuti dengan suara benturan benda keras seperti pintu atau jendela yang dibanting. Dia adalah anak lelaki berusia 6 tahun yang sangat aktif. Beberapa kali saya bertemu dengannya, dia terlihat seperti ingin mengajak saya bermain. Sampai saya telah masuk ke dalam rumahpun, dia masih duduk di depan rumah saya, menunggu saya keluar rumah. Maklum, rumah saya dimata anak ini adalah rumah yang tidak ditinggali, karena memang anggota keluarga yang sering meninggalkan rumah. Anak ini mempunyai keterbatasan dalam berbicara dibanding anak-anak seusianya. Walaupun begitu, ia sangat senang bernyanyi, dan berteriak. Dia sangat senang menegur orang yang lewat di depan rumahnya, dengan sikapnya yang berlebihan, tidak jarang orang segan dengan sikapnya. Sebenarnya ia memiliki rasa ingin tahu yang besar. Saya mengetahuinya dari beberapa kasus. Dia sengaja melempar mainannya ke pekarangan rumah saya. Melihat ada mainan anak itu jatuh, saya kembalikan lagi ke rumahnya, saya letakkan di atas tembok perbatasan antara rumah saya dan rumahnya. Hampir setiap hari anak itu melakukan hal yang sama, seakan penasaran kenapa mainan yang ia lempar kembali dengan sendirinya. Tidak jarang pula dia melempar mainannya, kemudian dia mengambilnya sendiri dengan masuk ke pekarangan runah saya, sambil menunjukan wajah ingin bermain, begitu yang saya lihat dari balik jendela ketika dia mengambil mainannya. Tidak hanya mainan, anak ini juga pernah membuang sampah mainannya di tempat sampah yang berada di dalam rumah saya seakan ingin melihat reaksi dari si pemilik rumah. Dari sikapnya yang hiperaktif. Tidak jarang orang tuanya mengganti pengasuh tiap bulan, bahkan tiap beberapa minggu sekali.
    Yang ingin saya tanyakan, apa anak ini dapat dikategorikan normal untuk anak-anak seusianya? Bagaimana sikap kita saat berinteraksi dan berkomunikasi dengan anak tersebut ?

    • Mohammad Fauzy
      November 4, 2012 at 16:26

      Saya tidak memiliki informasi yang cukup dari cerita Anda untuk mengatakan perilaku-perilaku anak tersebut normal atau tidak untuk anak seusia enam tahun. Dari cerita dan pertanyaan Anda, saya tahu bahwa Anda juga ragu dengan perilaku anak tersebut normal atau tidak. Yang jelas, kita memang harus berhati-hati menilai orang. Jadi, yang dapat saya tekankan pada Anda hanya, bersikaplah yang wajar, proporsional, dalam berhubungan dengan anak tersebut. Berkomunikasilah secara “normal”, tidak menunjukkan Anda tidak menyukainya. Perlakuan anak tersebut sebagai mana layaknya orang-orang yang “normal”. Dengan demikian, Anda sudah sangat membantu diri anak itu secara sosial. Terimakasih.

  2. Delia Fitri Sarah
    October 14, 2012 at 04:11

    Saya Delia Fitri Sarah. Menurut saya, cerita berjudul “Idiot, tapi Indigo” sangat benar untuk perkembangan psikologi anak tersebut. Meskipun anak itu idiot, anak yang cacat fisik dan keterbelakangan mentalnya, bahkan anak itu tidak bisa melihat, mendengar, dan berbicara, ia harus tetap diperlakukan seperti anak normal lainnya. Apalagi bila ia diperlakukan dengan baik dan lembut, pasti ia dapat meresponnya dengan baik pula. Memang biasanya anak-anak seperti itu diberikan kelebihan oleh Tuhan, yang tidak biasanya dapat diperoleh anak normal. Meskipun ia cacat, tapi ia dapat merasakan lingkungan sekitarnya dengan sangat baik. Itulah yang disebut anak indigo. Dalam cerita ini, ia idiot, tapi ia juga indigo. Anak yang mempunyai kelebihan dibandingkan anak normal lainnya.

    Seharusnya ibunya dan orang-orang terdekatnya jangan sampai membedakannya atau menjauhinya, hanya karena anak itu berbeda dengan anak normal lainnya. Ia harus sering diajak bicara, agar ia dapat merasakan orang-orang tidak menjauhinya. Apalagi intrapersonalnya sangat baik, ia pasti dapat merasakan dan mengetahui bagaimana keadaan lingkungan di sekitarnya.

    Pertanyaan saya, apakah sebelumnya ibu anak itu atau pun orang-orang di dekatnya memperlakukannya dengan tidak baik atau bahasa lainnya dengan kasar? Sehingga membuat anak itu sering memukul-mukul dirinya sendiri. Apakah teman-temannya mengejeknya karena ia idiot dan cacat? Dan satu lagi, apa yang dimaksud dengan cerdas secara kinestetik?

  3. Febrisiwi Rizka Andini
    October 18, 2012 at 17:37

    Saya Febrisiwi Rizka Andini.
    Saya sering mendengar istilah anak indigo. Anak-anak yang mempunyai kelebihan dibandingkan anak pada umumnya. Biasanya jika saya melihat siaran televisi dan media sejenisnya, anak indigo lebih diibaratkan dengan kemampuan melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh orang pada umumnya. Namun saya masih kurang mengerti dengan artikel di atas. Ketika saya membaca artikel tersebut, saya berfikiran bahwa anak itu seperti anak autis bukan indigo. Mungkin makna indigo itu bisa lebih diperdalam lagi karena saya masih kurang paham, termasuk tentang cerdas secara kinestetik. Namun dari banyak artikel yang saya baca di sini mengenai psikologis anak, saya bisa mengerti bahwa seharusnya perilaku orang tua memang harus bisa disesuaikan dengan kepribadian anaknya. Banyak orang tua yang tidak mengerti mengatasi anak yang mempunyai kelebihan atau kepribadian khusus yang berakhir kepada tingkah buruk sang anak tersebut.

  4. Siti Rahmiyah
    October 21, 2012 at 12:46

    Saya Siti Rahmiyah. Setiap orang itu diciptakan berbeda dengan yang lainnya. Meskipun kembar, pasti ada perbedaan di antara mereka. artikel di atas, mengisahkan anak yang unik dan istimewa. Unik pada seseorang itu adalah hal yang wajar dan memang kata-kata unik ini tepat disandingkan untuk melihat orang yang satu dengan yang lainnya. Anak istimewa dalam cerita di atas maksudnya, si anak berbeda dari anak-anak normal pada umumnya. Berbeda cara kita memberikan pelayanan dan memperlakukannya, berbeda cara menghadapinya, dan berbeda cara memahaminya. Karena anak istimewa seperti ini sangat membutuhkan perlakuan khusus, maka dari sinilah disebut istimewa.
    Setiap kelemahan manusia, pasti ada kelebihan yang dimilikinya. Seperti “Lies” dalam cerita di atas. Ia terlahir sebagai anak tuna ganda. Ia buta, tuli, dan bisu, namun perasaanya tidak cacat. Ia di anugerahi hati yang bisa mendeteksi dan menangkap rangsangan yang diberikan padanya, sehingga ketika ada seseorang yang dengan lembut memperlakukan dia, dia bisa merasakannya dan mengekspresikannya lewat raut wajah dan mimik muka yang ceria.
    Sebagai seorang ibu harusnya tidak langsung memberikan label pada anaknya. Seperti ibu “Lies” men-just anaknya idiot. Dengan keadaan yang dialami si anak saja sudah cukup dirasakan berat, apalagi jika ditambah perlakuan orang tua yang semena-mena, itu bisa mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangannya secara psikologis.
    Dari cerita di atas, saya ingin menanyakan apa ciri-ciri idot dan indigo sebenarnya? Dan apa yang dimaksud cara skolastik?
    Terima kasih

  5. Mutia Avrinanda
    November 29, 2012 at 19:32

    Sebagai ibu seharusnya menyayangi anaknya apapun kekurangannya. Walaupun dia memiliki keterbelakangan tapi disitulah ia memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh anak normal lainnya. Namun, terkadang jika melihat anak yang memiliki keterbelakangan mereka tidak ingin dekat-dekat atau justru menjauhinya.

    Saya ingin bertanya,

    Bagaimana caranya agar lingkungannya dapat menerima kekurangan dan kelebihan anak tersebut?

  6. Farida Yasribi
    November 30, 2012 at 08:51

    Saya Farida Yasribi. Saya cukup sering mendengar istilah anak indigo. Bagaimanapun kondisi anak, seorang ibu harus tetap merawat, mengasihi dan menyayanginya. Karena di balik kekurangan seseorang, pasti ada kelebihan atau keistimewaannya.
    Artikel di atas menyebutkan, secara skolastik IQ “Lies” tidak lebih dari 67. Tetapi, kecerdasan intrapersonalnya mampu melampaui IQ orang normal (97-110).
    Yang ingin saya tanyakan apakah semua atau rata-rata anak indigo / idiot itu pasti memiliki kecerdasan intrapersonal yang sangat tinggi?
    Apakah anak-anak “istimewa” sudah pasti memiliki ketajaman batin luar biasa?

  7. November 30, 2012 at 20:58

    Subhanallah.
    Memang manusia tidak ada yang sempurna. Sekalinya ber-IQ tinggi,tetapi terlahir seperti itu. Sekalinya sehat, tetapi hanya bisa membuang-buang waktu.

    Apakah sampai dewasa anak itu akan tetap seperti itu pak?
    Tidak berdaya seperti itu atau bisa berubah? Misalnya bisa berdiri?
    Terus, apa fisiknya akan tetap kecil?

Comments are closed.