Kecerdasan Intrapersonal dan Pembentukan Kekuatan Batin

Kecerdasan intrapersonal merupakan kemampuan seseorang dalam “berelasi” dengan diri sendiri. Ia mahir melihat ke dalam diri, memahami perasaan, motivasi, dan tujuannya. Ia dapat melakukan introspeksi dan mencari penjelasan-penjelasan tentang diri. Ia tahu kelemahan dan kekuatannya. Hal ini sering disebut cerdas secara intrapersonal. Biasanya sangat intuitif, introvert, dan paling pandai belajar sendiri.

Semua kepiawaian orang yang memiliki kecerdasan intrapersonal secara prinsip bersumber dari kekuatan batin mereka. Orang-orang yang berkecerdasan intrapersonal tinggi memiliki kekuatan batin yang lebih besar dari pada orang kebanyakan. Mereka mampu mempengaruhi orang lain, berpotensial sebagai “pemimpin”, dan “sulit dikendalikan”. Beberapa di antara mereka malah memiliki kemampuan supra.

Beberapa hal yang membuat mereka memiliki kekuatan batin yang besar, antara lain, sebagai berikut.

  1. Orangtua mereka sangat mengharapkan kehadiran mereka. Mereka merupakan anak-anak yang diinginkan. Anak-anak yang kelahirannya diharapkan kedua orangtua memiliki intrapersonal yang lebih tinggi ketimbang anak-anak yang tidak diharapkan orangtua mereka. Mereka telah diharapkan, diinginkan, dan telah dihadirkan sebelum kehamilan. Ibu biasa berhenti kerja lebih dahulu untuk atau sebelum hamil.
  2. Ibu mereka menerima kehamilan tanpa beban (dalam kurun waktu relatif sembilan bulan). Kehadiran calon bayi, antara lain, tidak dianggap sebagai penghalang karir, penyebab kehilangan pekerjaan, anak tidak diinginkan, atau kecelakaan. Karena itu, memiliki pikiran aborsi saat hamil dapat menurunkan kekuatan intrapersonal anak. Anak-anak yang diterima kehadirannya, terutama oleh ibu, memiliki intrapersonal yang lebih tinggi ketimbang anak-anak yang kehadirannya dianggap sebagai beban.
  3. Ibu mereka menyusui mereka lebih lama (dalam kurun waktu relatif dua tahun). Menyusui bayi secara lama akan mendekatkan relasi ibu dengan bayi. Menyusui bayi secara lama tidak hanya meningkatkan imunitas bayi secara medik, melainkan juga meningkatkan sentuhan ibu. Anak-anak yang memperoleh sentuhan cukup oleh ibu memiliki intrapersonal yang lebih tinggi ketimbang anak-anak yang kehadirannya kurang memperoleh sentuhan ibu mereka.
  4. Ibu mereka merawat mereka (dalam kurun waktu relatif sampai akil balik (11 sampai 13 tahun). Anak-anak yang memperoleh perawatan ibu mereka secara langsung, jauh lebih memiliki intrapersonal yang lebih tinggi ketimbang anak-anak yang diasuh oleh orang lain, antara lain, pembantu dan atau keluarga mereka, misal nenek atau sepupu.
  5. Anak-anak yang mulai menjalankan ritual agama mereka memiliki intrapersonal tinggi dari pada anak-anak yang cenderung meninggalkan ibadah-ibadah agama mereka. Religiusitas mereka sangat berpengaruh pada perjalanan kehidupan mereka sampai usia sekitar 40 tahun ketika “otak religius” manusia mulai berhenti berkembang.

Memperhatikan lima perkembangan tersebut yang berlangsung secara simultan, bersamaan dan terus-menerus, para calon ibu perlu merancang karir pekerjaan dengan mempertimbangkan, antara lain, usia menikah dan  waktu memiliki anak. Menikah lebih awal, sekitar 24 atau 25 tahun, adalah lebih baik dari pada di atas usia tersebut. Jika hamil dan merawat anak, mereka masih memiliki kesempatan untuk memperoleh pekerjaan kembali pada usia yang masih relatif muda, sebelum 30 tahun.

1 comment for “Kecerdasan Intrapersonal dan Pembentukan Kekuatan Batin

  1. October 22, 2013 at 10:18

    Fauzy,

    Saya tidak melihat kelima hal sebagai sebuah rangkaian kausalitas (sebab-akibat), tetapi sebagai sebuah rentetan “koinsidensi”. Bahwa seorang ibu “beriman penuh” atas bakal kehadiran sang bayi, itu pun tidak sekadar bertumpu pada rasionalitas murni, tetapi juga pada “kuasa” dan “rahmat” yang datang secara transendental. Saya menemukan dari sesi-sesi konsultasi beberapa implikasi dari kelima hal:

    1. Kehamilan yang semula ditolak tapi akhirnya dimaknai sebagai “bonus”, perlakuan dan pasangan yang sangat menyakitkan namun akhirnya dimaafkan, dan banyak contoh kejadian “transformasi personal-spiritual” lain yang dialami seorang perempuan hamil ; kesemuanya menjadi “infrastruktur” dari intrapersonal sang anak. Sebaliknya, kegagalan transformasi biasanya berujung dengan kehadiran anak ADD, ADHD, down-syndrome, hyperactive dan sejenisnya.

    2. Kematangan batin seorang perempuan yang sedang melewati masa kehamilan bersumbang baik terhadap kadar maupun kualitas intrapersonal anak. Hal ini dapat ditilik dari ketajamannya melakukan prioritisasi/penjenjangan atas apa yang SEBENARNYA SESUATU dan BUKAN SESUATU, juga atas yang ESSENSIALLY VALUABLE dan yang JUST ORNAMENTAL dalam kerangka hidup dalam arti seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya.

    3. Kulitas dan ketercukupan masa menyusui sendiri menunjukkan tingginya derajat kebahagiaan dan rendahnya kecemasan sang ibu serta sambutan sang bayi ketika keduanya berinteraksi. Dalam modus ini tidak hanya terjadi kontak fisik, tetapi juga pandangan mata, dialog kata, resonansi denyut nadi, dan pembelajaran kode-kode emosi. Ini juga merupakan proses “penyapihan yang pertama” setelah anak terlepas dari tubuh ibunya yang sebelumnya melalui putusnya tali pusar.

    4. Perawatan adalah satu paket dengan perhatian, penghormatan/respek, dan pengintegrasian antara tanggungjawab dan hak seorang ibu dan ayah atas anaknya. Keseiringan di antara keempatnya menjadi keutamaan. Ketiadaan salah satu dari keempat hal menjadi ruang yang harus saling diisikan dalam kesepakatan kasih antara sang ayah dan sang ibu.

    5. Peletakan fundamen infrastruktural dari poin 1 hingga 4 akan sinambung dengan kehidupan relijiusitas anak, meski lebih sering saya temui bahwa anak kemudian menunjukkan pendirian dan kedirian yang lebih besar dari pada orang kebanyakan dalam ikhwal beribadah keagamaan. Cermatanmu benar, yakni bahwa mereka mampu mempengaruhi orang lain, berpotensi sebagai “pemimpin”, dan “sulit dikendalikan”, terutama melalui pertanyaan-pertanyaan nakal mereka mengenai praktik keagamaan.

    Semoga tambahan ini lebih memperkaya cermatanmu dan lebih menginspirasi pembaca untuk mempertimbangkan hal-hal “unthinkable” yang selama ini cenderung diabaikan.

    Salam dalam keterilhaman,

    Edy Suhardono

Comments are closed.