KELUAR RUMAH DICARI, DI RUMAH DIDIEMIN

“Saya sudah wanti-wanti, sebelum jam delapan malam, Ryan harus sudah di rumah. Kenyataannya, setiap kali di-sms, HP-nya selalu dimatikan!” cerocos Bu Reny sambil memainkan jemarinya di atas keyboard quartley BB-nya, “Alasannya, jika Pak Edy mau tahu, ia butuh BB. Katanya, biar lebih mudah dihubungi,” lanjutnya dengan tonasi meninggi. Sesekali terlihat kilatan sinar mata Bu Reny, menunjukkan rasa jengkel.

“Saya bilang padanya…,” lanjutnya sembari menjawab pesan yang masuk ke BB-nya, “Pakai HP biasa saja emoh ngebalas, mana Mama mau ngasih kamu BB?” sergahnya sambil menatap mata Ryan yang duduk di sebelah kirinya.

Ryan membuang muka, seolah ia tidak sedang berada di ruang konsultasi.

Melihat sikap Ryan, Bu Reny menatapku sambil menggeleng-gelengkan kepala, “Begitulah dia, Pak Edy,” katanya mencoba meyakinkan.

Kemudian ia kembali menatap muka Ryan, “Bukannya BB pernah Mama belikan dan katamu hilang ketinggalan entah di mana?”

“Sudah sudah, Ma! Omongan yang itu itu terus ‘kan tak perlu diulang di depan Pak Edy!” tiba-tiba Pak Zulhen, suami Bu Reny, yang dari tadi berdiam diri, memotong pembicaraan, “Begini, Pak Edy. Pernah saya menjemput Ryan ke sekolah gara-gara ia mematikan HP. Padahal sudah jam sembilan malam. Di sana saya lihat, ia masih bersama sekelompok orang. Anehnya, mereka bukan teman sekolahnya. Saya kenal beberapa di antara mereka mahasiswa. Padahal, ia ‘kan masih kelas satu SMA? Langsung saya gandeng tangannya ke arah mobil. Saya paksa pulang,” jelas Pak Zulhen.

“Apa yang Pak Zulhen percakapkan dengan Ryan ketika sedang besama-sama berada di dalam mobil menuju rumah?” tanyaku.

“Saya diam menahan amarah. Segini, Pak!” jawab Pak Zulhen sambil mengepalkan tangan di depan jakunnya.

“Apa yang kamu rasakan waktu itu, Ryan? Kamu tidak berusaha menjelaskan situasimu?” tanyaku kepada Ryan.

“Om, aku ini suka yang seni-seni. Aku suka sekali performing art, Om. Aku beberapa kali sempat nongol di teve dengan karya koreografiku. Aku memang banyak ngegaul ama kakak-kakak mahasiswa yang mendampingi kami di sekolah. Mereka ditunjuk oleh pihak sekolah,” tuturnya sambil beberapa kali menghela nafas panjang. Beberapa kejap nampak matanya berkilat menandakan emosi ketidakpuasannya.

“Om, lebai nggak, Papa Mama aku ini, Om? Mana aku even dituduh nge-drug ama kakak-kakak mahasiswa? Papa pernah memaksa aku ke lab buat periksa urin? Nyatanya, apa? Urinku bersih, Om!” katanya sambil memukul meja keras-keras.

Kedua orangtuanya pucat karena kaget.

“Dari tadi Ryan belum jawab pertanyaan Om. Apa yang kamu rasakan ketika kamu ditarik dari teman-temanmu dan berada di mobil bersama Papa kamu?”

“Sebel banget. Tak tahu apa maunya orangtua aku ini. Kalau di luar rumah dicari-cari. Kalau sudah di rumah diceramahin, dimarahin, terus didiemin. Dan, setiap kali tiba di rumah, Mama? BB-an. Papa? BB-an. Adikku yang masih penakut itu? Di kamar ngerjain PR.

Children need your presence, more than just a physical presence. (ES)

***Edy Suhardono adalah seorang doktor psikologi, psikolog, dan konsultan senior pada IISA Visi Waskita, Assessment, Consultancy, and Research Centre.

27 comments for “KELUAR RUMAH DICARI, DI RUMAH DIDIEMIN

  1. Hari Sudibyo
    September 13, 2012 at 22:41

    Cerita Ryan hampir sama dengan yang saya alami. Kelakuan saya juga hampir sama dengan yang dilakukan Ryan di luar rumah, hanya berbeda dengan keadaan yang Ryan alami sewaktu di rumah.

    Saya memang jarang di rumah, terkadang sampai tidak pulang. Mungkin kegiatan ini sudah menjadi kegiatan para remaja di Jakarta. Apa yang saya lakukan di luar rumah sebenarnya positif.

    Memang lebih banyak “nongkrong” dengan teman-teman SMA dan teman-teman kuliah. Tetapi diluar itu saya juga mempunyai kegiatan nge-band dan memiliki usaha clothing. Dan kedua orang tua saya pun mengetahui itu semua karena memang saya selalu cerita ketika mereka menanyakan apa yang saya lakukan diluar rumah.

    Namun karena saya jarang atau hampir tidak pernah memberi kabar ke orang tua di rumah untuk pulang jam berapa sehingga saya sering ditelepon atau di sms. Dan karena hal itu pula saya suka dicuekin sementara kalau sudah sampai di rumah.

    Hari Sudibyo,
    Mahasiswa Teknik Grafika dan Penerbitan, Politeknik Negeri Jakarta.

  2. September 14, 2012 at 10:48

    Dear Mas Hari,

    Terima kasih atas tanggapan dan sharing Anda.

    Keberkomunikasian memang tidak dapat dilakukan secara bertepuk sebelah tangan. Sebelum ini terjadi, yang perlu diretas ialah prasangka-prasangka dari satu pihak tentang pihak lain.

    Terima kasih

    Edy Suhardono

  3. Sri Eka Lestari
    September 14, 2012 at 22:33

    Cerita ini serupa dengan yang saya alami. Saya selalu dilarang berpergian jauh kalau bukan urusan kuliah, orang tua saya berfikir saya akan melakukan hal yang negatif, padahal mereka tahu saya selalu ingin berpergian hanya untuk berlibur dengan teman kuliah.

    Jangankan untuk berpergian jauh yang mengharuskan untung menginap, pulang malam saja saya tidak boleh, selalu di telpon, dimarahin disuruh cepat pulang, tapi sesampainya dirumah ya seperti tidak terjadi apa-apa, kalau saya sedang berada dirumah ya kami masing-masing.

    Sri Eka Lestari

    • September 19, 2012 at 08:42

      Mbak Sri eka,

      Tidak hanya ada satu cara mengatasi suatu masalah sebagaimana yang Mbak ceritakan dan kebetulan sejajar dengan yang saya narasikan. Sangat baik bila Mbak bersedia berbagai tentang langkah apa yang Mbak kerjakan untuk memutus rangkaian antara “keluar rumah” dan “kena marah” itu. Saya dan pembaca lain menunggu sharing Anda; dan saya sebagai salah satu pembaca akan memberikan masukan sejauh yang saya pahami.

      Lebih baik janagan hanya bertahan dalam situasi itu, tetapi atasi situasi itu; dan saya akan belajar banyak dari apa yang Mbak alami dan atasi.

      Salam dalam keterilhaman,

      Edy Suhardono

  4. Emylia Indah Mentari
    September 18, 2012 at 19:39

    cerita diatas mirip dengan kejadian yang dialami sepupu saya, dia seorang anak lelaki yang duduk dikelas 2 SMP, tetapi seperti halnya cerita diatas, dia selalu telat pulang sekolah, setiap ditanya oleh mama nya, dia selalu mengalihkan pembicaraan .pernah sewaktu ketika, waktu itu saya sedang berkunjung kerumahnya sembari berbincang dengan mamanya. tiba-tiba mamanya mendapat telpon dari guru sekolahnya dan mengabarkan kalo si anak itu sudah seminggu tidak sekolah,tersentak mamanya kaget mendengar berita itu padahal mama nya selalu melihat dia berangkat sekolah tiap harinya. yang ingin saya tanyakan, bagaimana cara menghadapi anak seperti itu pak ?masalahnya jika ayahnya mendengar berita itu, dia pasti langsung marah dan begitu dia pulang dari pekerjaannya sebagai seorang nahkoda kapal pasti si anak itu langsung dipukuli menggunakan suatu benda .
    dan juga bagaimana caranya agar anak ini terhindar dari pergaulan yang negatif mengingat kejadian seperti berikut ?

    terima kasih

    Emylia Indah Mentari,

    • September 22, 2012 at 10:26

      Dear Mbak Emyllia,

      Yang bermasalah sang bapak. Tanyakan kepadanya, dari mana ia belajar tentang kecemasannya itu. Jawabannya menentukan masa depan relasi dengan anaknya.

      Salam dalam keterilhaman,

      Edy Suhardono

  5. Zulfy Ramadhony
    September 18, 2012 at 21:57

    Cerita tentang si ryan diatas banyak menyerupai cerita dari anak anak kebanyakan, menurut saya pada dasarnya sikap anak tertutup seperti ryan banyak juga dilakukkan oleh anak lain karena kurangnya komunikasi dengan orangtua dimana orang tua cenderung terlalu sibuk dengan dunianya sehingga melupakan anaknya sendiri.

    saya juga hampir sama mengalami hal yang sama dengan apa yg dialami oleh ryan, sewaktu masa masa SMK dulu setiap kali saya belum sampai dirumah pada saat malam hari orangtua saya selalu menelpon dengan nada marah dan segera menyuruh pulang kerumah, saya sering dituduh meminum minuman keras karena pulang terlalu larut. sampai suatu ketika saya menjelaskan apa yg saya lakukkan jika saya pulang larut, orang tua saya pun mulai melonggarkan saya dan membebaskan saya untuk pulang larut. pada dasarnya semua butuh komunikasi sehingga tidak ada kesalah pahaman.

    • September 22, 2012 at 10:24

      Mas Zulfy,

      ….dan untuk berkomunikasi butuh saling percaya. Karenanya, harus dicari letak masalahnya. Jika salah satu pihak sulit percaya, tanyakan, ada apa dengan dia. Kalau salah satu tidak dapat meyakinkan bahwa dirinya dapat dipercaya, ada apa pula dengan dia.

      Salam dalam keterilhaman,

      Edy Suhardono

  6. Ade Sabarudin
    September 18, 2012 at 23:38

    Cerita Ryan sama seperti cerita teman saya, ia seorang perempuan anggap saja bernama “Aminah”. Kegiatan sehari-harinya adalah bekerja. Dia adalah anak satu-satunya dikeluarganya tetapi, dia tidak pernah mendapatkan kebahagiaan ataupun kasih sayang dari orang tuanya dikarenakan kedua orang tuanya sibuk dengan pekerjaanya masing-masing. Karena itu Aminah pun berusaha untuk mencari kesibukan diluar entah itu positif atau tidak Aminah tidak perduli karena dia sudah terlalu kesal dengan kedua orang tuanya. Sudah sering sekali dia selalu dimarahi ketika dia keluar dari rumah tanpa izin mau pergi kemana dan selalu dicari-cari oleh orang tuanya terkadang ditelpon, itu karena dia tahu kalau dia izin dia tidak akan dibolehkan untuk keluar rumah. Dirumah pun ia hanya didiamkan saja karena kedua orang tuanya sibuk dengan urusannya masing-masing, terkadang pada saat dia dirumah kedua orang tuanya selalu saja bertengkar, bisa dikatakan broken home karena hampir tiap dia di rumah, orang tuanya hanya bertengkar saja. Oleh karena itu cerita ryan sama dengan cerita teman saya.

    Ade Sobarudin

    • September 19, 2012 at 09:03

      Dear Sdr. Ade,

      Terima kasih tambahan ceritanya.

      Jika satu masalah ternyata punya banyak kemungkinan untuk memecahkannya, dan di antara banyak kemungkinan itu ada satu cara yang lebih tepat untuk dilakukan, maka kita perlu belajar dari cara yang lebih tepat ini.

      Ketika satu ragam masalah itu kebetulan dialami oleh sekian banyak orang sebagaimana Anda sampaikan; maka dapat diduga bahwa cara yang lebih baik itu belum ditemukan dan harus ditemukan.

      Kenapa? Faktanya, setiap pelaku yang terlibat dalam masalah lebih sering menjadi “bagian dari masalah” itu sendiri.

      Pemahaman diri tentang sejauh mana sang pelaku menjadi bagian dari masalah antar-pelaku kiranya menjadi bahan data utama untuk menemukan pemecahan yang lebih berkelanjutan dan tidak sekadar “gencatan senjata sementara”.

      Salam dalam keterilmahan,

      Edy Suhardono

  7. Fadri Pamungkas
    September 21, 2012 at 21:40

    Menurut saya setiap anak pasti mengalami hal seperti ini, setiap orang tua pasti menghawatirkan anaknya kalo anaknya ngga ada di rumah dan cara mereka menghawatirkan dan memperhatikan anaknya berbeda-beda.

    Saya juga mengalami kejadian seperti ini, dulu kalo maen ga pernah dibolehin keluar malem, kalo maen malem pasti dicariin, ditelponin terus sampe akhirnya diem-diem keluar rumah waktu semua tidur terus pulang sebelom semua bangun. Tapi kalo saya lagi ada dirumah ya semua biasa aja, nonton tv masing-masing, makan masing-masing, saya lebih sering didalem kamar.

    Tapi sekarang udah boleh keluar malem, maen sampe malem, mungkin mereka udah percaya ama saya. Kalo lagi pulang malem ya cukup ngasih kabar aja, harus tetep ada komunikasinya ama orang tua.

    Terimakasih

    Fadri Pamungkas

    • September 22, 2012 at 10:20

      Mas Fabri,

      Terima kasih sharingnya. Dari sharing Anda saya belajar bahwa kepercayaan tak datang dari satu pihak. Pihak yang kita inginkan untuk percaya kepada kita kememerlukan garansi bahwa kita layak dipercaya.

      Salam dalam keterilhaman,

      Edy Suhardono

  8. hahif ibadurrahman
    September 26, 2012 at 09:53

    Cerita ryan di atas sedikit mirip dengan pengalaman saya..

    kalau cerita di atas ryan yang di cariin tapi kalo kisah saya yang di caiin motor yang saya pakai.. hadoooh ..

    menurut bapak apakah saya dicariin di rumah ?

    • October 16, 2012 at 10:49

      Mas Hafif,

      Dengan fakta bahwa yang dicariin bukan diri Anda, tetapi malahan motor yang Anda pakai, nampaknya wajar kalau saya menilai bahwa pendekatan komunikasi yang dipraktikkan ortu Anda kepada anak2nya cenderung bersifat pragmatik-legalistik dan (maaf) materialistik. Pragmatik-legalistik, karena motor (taruhlah) dengan nomor polisi B 1234 BLABLABLA mudah dicari lewat “jasa” penegak hukum yang berlabel “polisi”. Materialistik, karena nampaknya motor lebih bernilai dibanding pribadi dan nyawa yang mengendarainya.

      Jika kedua pendekatan komunikasi ini dikunci menjadi satu perkara, Anda dapat membayangkan kemungkinan yang sangat spektakuler, di mana Anda berkemungkinan dikeroyok sebagai seorang “curanmor” hanya berdasar fakta bahwa Anda mengendarai dengan kecepatan tinggi, tanpa membawa SIM, dan nama Anda tak tertera dalam STNK. Dan jika hal ini benar terjadi pada Anda, kemudian saya ditanya tentang “siapa yang bersalah dan harus bertanggungjawab”, saya akan menunjuk ortu Andalah yang bersalah dan harus mempertanggungjawabkan perbuatan.

      Betapa pun, pelajaran yang saya dan Anda peroleh ialah bahwa SEMUA KEJADIAN TERPULANG PADA AWAL PEMIKIRANNYA. Jika pemikiran kita berjangka pendek dan abai terhadap konsekuensi yang bakal terjadi atau yang diakibatkannya, suka atau tidak suka kita harus menanggungnya. Dan APABILA KEJADIAN YANG LOGIS TERJADI ITU KENYATAANNYA TIDAK TERJADI, NAH ITULAH KEBERUNTUNGAN Anda. Pelajarannya, Anda beruntung bahwa keberadaan Anda akhirnya diketahui tanpa harus disertai keroyok massa. Bersyukurlah! Dan yang lebih membuat Anda bersyukur, Anda mendapatkan pembalajaran yang sangat baik dari pemikiran keliru ortu Anda, yakni bahwa Anda belajar tentang kebaikan justru dari kejadian yang kurang baik. Anda tidak perlu mendendam dan mengumpat atas kebodohan ortu Anda, sebab kesempatan mengumpat Anda sudah digantikan dengan keberuntungan Anda. Dari sini, sekali lagi, Anda belajar tentang nilai kebaikan dalam hidup yang penting untuk bekal Anda menjadi ortu bagi anak-anak Anda kelak.

      Salam dalam keterilhaman,

      Edy Suhardono

  9. Dimas Hadi Satria
    October 1, 2012 at 11:44

    Artikel di atas mirip dengan yang pernah saya alami. Dulu memang kalau saya tidak keluar rumah pasti semua akan sibuk dengan hal-halnya masing-masing tapi ketika saya sudah mulai kenal yang namanya nongkrong, orang tua pasti sudah sibuk sms-in, teleponin kata pertama yang muncul pasti “dimana?” selanjutnya “lagi apa?”. Padahal sebelumnya saya sudah bilang mau kemananya. Saya sadar, orang tua itu khawatir akan anaknya tapi orang tua juga butuh mengerti bahwa manusia itu butuh bersosialisasi namun kenapa harus terlihat khawatirnya atau sayangnya pada hal yang bukan dengan kebiasaan yang dilihatnya? kenapa tidak dimunculkan rasa khawatirnya atau sayangnya pada kebiasaan yang dilakukan. Diibaratkan, kenapa harus ada yang hilang dulu baru tersadar bahwa dia merasa kehilangan

    Terimakasih,

    Dimas Hadi Satria

    • October 16, 2012 at 11:06

      Mas Dimas,
      Saya kira Anda tak perlu meratapi kejadian Anda seperti itu. Anda tak perlu merasa depresif, mengasihani diri, apalagi harus membodohkan ortu Anda.

      Seperti yang saya jawabkan kepada Mas Hafif, SEMUA KEJADIAN TERPULANG PADA AWAL PEMIKIRANNYA. Jika pemikiran ortu Anda berjangka pendek dan abai terhadap konsekuensi yang bakal terjadi atau yang diakibatkannya, suka atau tidak suka ortu Anda harus harus menanggungnya, meski dalam banyak kasus sang korban—dalam hal ini Anda—yang lebih menanggungnya.

      Kenyataannya, KEJADIAN YANG LOGIS TERJADI ITU TIDAK TERJADI. ITULAH KEBERUNTUNGAN Anda. Dan Anda beruntung sekali! Anda mendapatkan pembalajaran yang sangat baik dari pemikiran keliru ortu Anda. Anda tidak perlu mendendam dan mengumpat atas kebodohan ortu Anda, sebab kesempatan mengumpat Anda sudah digantikan dengan keberuntungan Anda.

      Dari sini, Anda belajar tentang nilai kebaikan dalam hidup yang penting untuk bekal Anda menjadi ortu bagi anak-anak Anda kelak. Anda justru harus berterima kasih kepada ortu Anda karena mendapatkan kejadian yang menjengkelkan itu. Sebab tak pernah ada kebijaksanaan yang hanya diperoleh dari kata-kata. Kebijaksanaaan adalah saripati dari pengalaman buruk yang disyukuri melalui perhatian kepada diri sendiri dan diri-diri yang lain agar tidak mengulangi kesalahan yang sama sebagaimana dilakukan kebanyakan orang.

      Salam dalam keterilhaman,

      Edy Suhardono

  10. Hamidah Ahmad
    October 14, 2012 at 10:15

    Artikel di atas bisa dibilang juga merupakan pengalaman banyak orang. begitu juga yang dialami adik saya. Dia masih SMP masih sangat labil. saat dia belum di rumah, ayah saya dan saya akan mencari dia. tlp berkali-kali, sms dan sebagainya. tapi bedanya saat dia sudah di rumah, saya bukannya sengaja mendiamkan dia, tapi dia sendiri yang mengunci diri ki kamar. dan jujur cukup sulit untuk memasuki dunianya.
    Pak Edy yang baik, di sini saya ingin bertanya. sebagai seorang kakak saya merasa bertanggung jawab atas adik saya, terlebih mama saya sudah berusia senja. bagaimana agar adik saya bisa betah di rumah, dan mau terbuka terhadap saya? apa yang sebaiknya saya lakukan untuk menghadapi sikapnya yang bisa dibilang sedang labil-labilnya? semoga bapak berkenan menjawabnya.
    dari: Hamidah Ahmad

  11. Risna Safitri
    October 14, 2012 at 22:35

    cerita tersebut sama dengan yang saya alami dirumah.
    saya merasa seperti anak kecil yang kemana-mana pasti dicari oleh orang tua padahal umur saya sudah termasuk dewasa dan saya juga tidak berbuat apa2 diluar sana. nanti, kalau sudah dirumah, semua sibuk sendiri-sendiri dan saya sering diomeli hanya karena hal kecil. kadang saya iri dengan teman-teman seumuran saya yang bebas melakukan semua yang mereka suka.

    iya orang tua memang seharusnya begitu pada anak-anaknya, tapi yang saya butuhkan juga kepercayaan mereka terhadap saya. bagaimana cara mendapat kepercayaannya?

    trimakasih 🙂

    • October 16, 2012 at 12:15

      Mbak Risna,

      Terima kasih atas sharing Anda. Anda benar-benar ingin dipercaya? Silahkan simak ulasan dan saran saya berikut.

      Sebagian besar anak, termasuk Anda, sebenarnya tumbuh bersama orangtua mereka yang narsis. Secara sosiologik, orangtua2 narsis dicirikan dengan kepindahan dari rumah masa kecil (sebagai pendatang), kecemasan mengejar karir, dan akhirnya menikah dan memulai kehidupan keluarga. Kondisi ini membuat mereka sulit memperlakukan Anda sebagai orang dewasa yang sepenuhnya independen. Ciri psikologik dari para orang tua narsistik antara lain:

      1. Terlalu banyak memberi saran yang tidak diinginkan. Para orangtua ingin Anda menjalani hidup Anda sesuai dengan naskah mereka. Mereka tidak memiliki ide lain tentang bagaimana seharusnya tindakan Anda, kecuali Anda harus mengikuti jalan setapak mereka: ke sekolah yang menjadi impian mereka atau menolak berpacaran selagi sekolah.

      2. Suka mengganggu dan mengintip. Mereka suka menerobos masuk tanpa pemberitahuan, atau menelepon setiap hari dan berbicara panjang lebar, mengintip ke dalam laci atau menelusuri surat keluar Anda. Dalam pikiran mereka, mereka tidak perlu izin karena mereka adalah orang tua Anda!

      3. Mencegah-tangkal atau bereaksi berlebihan jika Anda keluar rumah. Mereka mungkin akan cuek-bebek dan tidak mengakui bahwa Anda mungkin punya masalah.

      4. Menawarkan terlalu banyak informasi. Orangtua narsis akan membahas hal-hal yang bagi anda paling pribadi. Mereka berisiko saling menyalahkan atas masalah mereka dan mencoba menjadikan Anda sebagai pihak yang tidak punya kesalahan yang sebelumnya dipunyai baik oleh ayah maupun ibu Anda.

      5. Bertindak sia-sia seolah tak berdaya. Mereka percaya, cara terbaik untuk mendapatkan perhatian anak-anak mereka adalah dengan menciptakan situasi di mana anak-anak tampaknya membutuhkan bantuan dalam jumlah yang banyak sekali.

      Keluar dari situasi di mana Anda dibesarkan oleh orangtua narsis merupakan pekerjaan seumur hidup. Tanpa menafikkan mereka tetap sebagai orang tua Anda, sementara Anda harus hidup terus dan melestarikan identitas dan integritas Anda, berikut saya sampaikan beberapa cara agar Anda dapat menghadapi orangtua narsis Anda tanpa menyakiti sekaligus memperoleh kepercayaan dari mereka, antara lain:

      1. Dengarkan. Jangan buang napas seolah Anda tidak ingin mendengar masukan mereka. Biarkan mereka tahu Anda mendengar keprihatinan dan pendapat mereka dan bahwa Anda akan mempertimbangkan mereka. Kemudian lakukan saja apa yang Anda putuskan meski berseberangan dengan mau mereka.

      2. Buat “tanda demarkasi” dari privasi Anda. Jangan menunjukkan persetujuan ketika orang tua Anda melanggar batas-batas Anda. Jika mereka mengganggu Anda dengan segala larangan dan keharusan, biarkan mereka tahu Anda sedang sibuk melakukan apa, di mana, dan sampai berapa lama. Jika tetap mengganggu, terima tilponnya, biarkan mereka berbicara, dan baru Anda jawab kembali ketika Anda merasa nyaman.

      3. Mintalah informasi dan berikan informasi yang Anda nilai perlu saja, jangan sama sekali tak mau tahu tentang informasi yang mereka siarkan selama 24 jam atau Anda tidak memberikan informasi apa pun. Mereka tidak perlu tahu setiap detail kehidupan Anda. Makin banyak mereka tahu, terutama tentang hal-hal yang mereka tidak setuju, makin mereka akan mengungkapkan kecemasan mereka dan menawarkan nasihat yang tidak Anda inginkan. Anda akan mengalami gangguan pencernakan dan sakit maag karena menahan rasa sebal.

      4. Konsultasikan orangtua Anda ke pihak ketiga ketika orangtua Anda mengalami penuaan membutuhkan bantuan. Intinyaa, sebelum Anda melakukan sesuatu yang drastis, berbicaralah dengan ahlinya: pekerja sosial geriatri, dokter, perencana keuangan, pengacara, psikolog, atau orang-orang yang di mata orangtua Anda sebagai sosok berwibawa.

      Semoga membantu Anda. Pikirkan, Anda harus lebih matang dan dewasa dibanding orangtua Anda. Semakin Anda mengeluhkan tentang mereka, mungkin kesempatan Anda untuk dewasa sedang dicuri oleh keluhan dan umpatan Anda.

      Salam dalam keterilhaman.

      Edy Suhardono

  12. Anissa Libraniansyah
    October 14, 2012 at 23:52

    banyak anak remaja yang mengalami hal seperti yang Ryan alami. sampai sekarang pun saya tidak tau mengapa orang tua selalu tidak mengerti apa yang anaknya inginkan. tidak jarang mereka mencurigai anaknya. padahal keluar malem itu belom tentu ke arah yang negative. dan yang paling nyebelin adalah, waktu di telponin buat disuruh pulang dan sampe rumah cuma dicuekin. kirain mau ada acara pindah rumah gitu sampe harus nelepon buru-buru pulang.

    pertanyaan saya, jika org tua terlalu parno dengan apa yg namanya kebebasan, kemudian apakah pengekangan dapat membuat anaknya menemukan jati dirinya?atau malah hanya menjadi cerminan diri yang diinginkan org tua?
    terimakasih pak.

    • October 16, 2012 at 12:17

      Mbak Annisa,

      Jawaban saya sama dengan jawaban untuk Mbak Risna.

      Salam dalam keterilhaman,

      Edy Suhardono

  13. October 15, 2012 at 07:47

    Kisah Ryan diatas sediktnya mengingatkan saya pada apa yang terjadi pada saya dulu. Saya termasuk anak yang dikekang. Pulang harus tepat waktu, ikut eskul yang aneh sedikit dilarang, kerja kelompok disamperin, ngga boleh main, bila hape mati dalam jangka waktu 2 jam mungkin saya akan dilaporkan ke polisi. Itu sangat berlebihan.
    sejujurnya saya sangat jengah dengan perlakuan seperti itu. Saya anak biasa pada umumnya yang ingin dibebaskan berekspresi. Maka dari itu, saya sering kali kabur, keluar rumah diam-diam. Saya pun tak jarang melewatkan family gathering dan memilih untuk main.
    Namun, lambat laun semua berubah. Sekarang saya bebas main kemanapun dan pulang jam berapa pun dalam taraf waktu yang wajar. Mereka terlihat lebih percaya dan membebaskan saya.
    Mungkin dulu kami hanya salah paham. Mereka yang terlalu khawatir pada anaknya dan saya yang tak suka dikekang. Tapi pada dasarnya kita membutuhkan perhatian seperti itu. Semua itu akan jadi menyenangkan asal diberikan dalam porsi yang pas.

    Putri Ayu Lestari

    • October 16, 2012 at 12:21

      Mbak Putri,

      Terima kasih sharing Anda. Anda sudah melewati krisis dengan baik. Cuma Anda perlu mencermati bagaimana perubahan itu terjadi.

      Jawaban saya untuk Mbak Risna (silahkan dibaca) semoga juga membantu Anda memahami situasi Anda waktu itu, dan lebih mempertajam penerapan cara yang efektif untuk mempertahankan perkembangan yang membaik sebagaimana sekarang Anda rasakan.

      Salam dalam keterilhaman,

      Edy Suhardono

  14. Mega Bayoe Putri
    November 7, 2012 at 17:36

    Kejadian tersebut pasti sering dialami oleh anak-anak kebanyakan. termasuk saya salah satunya. Terkadang kekhawatiran orang tua memang sangat berlebihan. Sikap memarahi karena pulang terlalu larut malam tanpa mau mendengarkan apa alasan sang anak melakukan itu. Kalau pun ada yang mau mendengarkan dan mereka memberi alasan malah orang tua tidak percaya, mereka selalu menuduh hal-hal negatif kepada anaknya. Ketika anak sampai rumah malah semakin dimarahin, dan didiemin. malahan disaat saya tidak kemana-mana malah dimarahin karena hanya berdiam diri di rumah. Jadi seolah apa yang dilakukan anak selalu saja salah.

    Anak-anak yang tadinya ingin melakukan hal positif seperti hobi atau kegiatan-kegiatan di sekolah malah menjadi terhambat. Anak-anak pun jadi sulit menemukan jati diri mereka dan membuat ruang kebebasan anak terbatas. Kurangnya komunikasi antara orang tua dan anak adalah masalah utamanya, anak dan orang tua harus saling bisa mendengarkan pendapat dan perasaan mereka. Mulai dari situ mereka harus saling mengerti.

    Cuma yang sampai sekarang saya bingung adalah bagaimana cara membuat orang tua percaya memeberi kebebasan kepada kita?

  15. Retina Qalbuddina
    September 28, 2013 at 11:23

    Cerita diatas pasti sangat umum sekali dialamin oleh anak-anak yang sudah beranjak remaja. Saya sebagai anak mengerti tentang ke khawatiran sebagai orang tua yang memiliki anak terkesan liar dengan pulang malam dan sebagainya, namun menurut saya pada situasi ryan posisi orang tuanya sangat berlebihan. Banyak unsur yang menyebabkan anak membangkang atau tidak mendengarkan orang tua, salah satunya disini kurangnya rasa pengertian dan kepercayaan orang tua terhadap anaknya.

    Menurut saya hubungan orang tua dengan anaknya sama halnya dengan hubungan antar manusia yang harusnya saling mengerti. Namun kebanyakan orang tua yang berpegang teguh dengan “surga dibawah telapak kaki ibu” justru lebih menerapkan bahwa “anak harus tunduk pada orang tua”, sehingga tidak ada rasa mengerti orang tua terhadap pencarian jati diri yang sedang anaknya alami.

    Yang saya tidak mengerti mengapa ke khawatiran orang tua terhadap anaknya justru malah memberi kesan menuduh yang berakibat si anak tidak dapat menjelaskan atau justru termakan emosi sehingga menimbulkan ketidak harmonisan dalam hubungan anak dan orang tuanya, bagaimana mengatasi situasi ini?

    Terimakasih

  16. September 29, 2013 at 12:32

    orang tua tidak menginginkan buah hatinya mendapatkan hal2 yg tidak diinginkan.. di satu sisi, anaknya memang sedang menikmati masa-masa indah diusia mudanya tanpa kenal waktu. dan tanpa menyadari bahwa orang tua mereka menghawatirkannya.

    yang saya lihat cerita diatas, anak trsbt si ryan mengabaikan perhatian orang tuanya.. membuat orang tuanya menjadi cemas, akhirnya membuat orang tua ryan menjadi tidak percaya kepadanya. walaupun si ryan keluar rumah tidak melakukan hal2 yang negatif, seperti tuduhan orang tuanya..

    ryan seharusnya pintar membicarakan bahwa dia keluar rumah tidak macam2, dan kalo bisa sesekali membawa temannya untuk datang kerumahnya agar orang tuanya juga tau.. dan orang tuanya juga harus memberikan kepercayaan kepada anaknya.

    seperti kisah saya, dulu waktu saya sedang gila bermain game. sampai-sampai saya harus menginap di warnet. waktu itu kali pertama saya akan menginap diwarnet untuk main paket “Happy hour” hal tersebut membuat orang tua saya tidak setuju, alasannya karena berbuat yang macam-macam seperti buka situs porno, merokok dsb. tapi saya menjelaskan bahwa saya tidak akan seperti itu, kalau perlu pasang cctv di kepala saya untuk memantau saya.. akhirnya dengan berat hati orang tua saya mengijinkan.. lambat laun, karena saya bisa menjaga kepercayaan orang tua saya.. sayapun bebas pulang pergi untuk menginap di warnet, namun saya sudah meninggalkan kebiasaan buruk tersebut…

    menurut saya, ketika sebuah kepercayaan memang harus sangat dibutuhkan. memberikan sebuah kepercayaan merupakan bentuk apresiasi yang tak ternilai harganya.. jadi kita yang sudah diberikan kepercayaan harus menjaganya sebaik mungkin agar bisa tetap dipercaya.. dan menjaga sebuah kepercayaan itu merupakan hal yg sulit, perlu adanya sikap perilaku dan komunikasi yang baik.

  17. Vania Dwi Febriyani
    October 6, 2013 at 10:23

    Artikel dan cerita dari kakak Hamidah diatas hampir sama dengan kejadian yang saya alami terhadap adik saya. Saya sulit sekali merangkul ia dan masuk ke dalam dunianya, seperti ada yang ditutupi olehnya.
    Bagaimana cara saya menghadapinya dan dapat merangkul ia ?

    Terimakasih

Comments are closed.