Mengenal Berita 2: Beda Berita dan Artikel

B. Beda Berita dan Artikel

Saudara telah mengenal berita. Agar lebih mengenal lagi, bandingkan komponen-komponen berita pada tulisan “Apa itu Berita?” dengan komponen-komponen artikel. Sekarang, baca artikel berikut. Setelah itu, perhatikan fisik tulisan ini sebagai mana pada tulisan pertama.

Apa yang Sudah Dicapai Setelah 25 Tahun EYD?

Oleh Harimurti Kridalaksana

PERESMIAN ejaan baru oleh Presiden Soeharto pada tanggal 16 Agustus 1972 merupakan peristiwa besar bagi perkem-bangan bahasa Indonesia. Se-pintas lalu tampaknya peresmian apa yang terkenal sebagai Ejaan Yang Dise-mpurnakan (EYD) itu hanyalah menyangkut perubahan peng-gunaan huruf dj menjadi j (mis djati -> jati), j menjadi y (mis. jakin -> yakin), nj menjadi ny (mis. njata -> nyata), sj menjadi sy (mis. sjukur -> syukur), tj menjadi c (mis. tjita -> cita), dan ch menjadi kh (mis. chusus -> khusus).
Beberapa hari kemudian Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mashuri, SH. dalam pen-jelasannya di depan Dewan Perwakilan Rakyat menyatakan bahwa perubahan ejaan itu hanyalah merupakan salah satu program pembakuan bahasa. Yang lain menyangkut pem-bakuan istilah dan pembakuan tata bahasa. Salah satu kejadian yang bersangkutan dengan pembaruan ejaan itu tetapi yang tidak terlalu dibesar-besarkan ialah bahwa pembaruan ejaan itu menyangkut pula penyeragaman ejaan dengan negara tetangga yang berbahasa seasal, Malaysia. Tujuannya tentu saja adalah agar pada satu saat nantinya kedua negara itu kembali menggunakan bahasa yang seluruhnya sama – tidak seperti ketika itu, masing-masing meneruskan tradisi yang menyimpang karena mempunyai perjalanan sejarah yang berlainan.
Setelah 25 tahun ada baiknya kita membuat evaluasi, apakah tujuan pembakuan itu sudah terlaksana seluruhnya? Apa saja yang belum dan apa yang menjadi sebab?
…………………………………………………………………………………………………………
Dalam perkembangannya selama 25 tahun terakhir ini banyak yang dicapai oleh bahasa nasional kita, tetapi ternyata banyak juga masalah yang belum kita selesaikan. Peresmian EYD tahun 1972 itu menyadarkan masyarakat bahwa masalah bahasa bukan hanya urusan ahli bahasa dan guru bahasa saja, melainkan juga semua pengguna bahasa yang merasa memiliki bahasa nasional itu. Perubahan ejaan ketika itu disadari bukan hanya semata-mata menyangkut perubahan kebiasaan baca-tulis saja, melainkan juga melibatkan masalah pembinaan bahasa secara keseluruhan, bukan hanya bahasa Indonesia, juga bahasa daerah dan bahasa asing. Banyak di antara masalah-masalah itu hingga kini masih diperdebatkan.
…………………………………………………………………………………………………………

Setelah 25 tahun peresmian EYD nampak bahwa masalah bahasa di Indonesia makin kompleks: bagaimana mengembangkan bahasa Indonesia agar tetap berguna sebagai alat komunikasi modern dan sekaligus menjadi jati diri bangsa (yang dalam era globalisasi yang akan datang bukannya setiap bangsa harus meleburkan identitas kebangsaannya ke dalam kebudayaan “internasional”, tetapi sebaliknya malah dituntut agar kepribadiannya makin mantap dan makin berperan); bagaimana melestarikan bahasa daerah agar tetap dapat mendinamisasikan kehidupan budaya daerah; dan bagaimana memanfaatkan bahasa-bahasa asing untuk menyerap kemajuan bangsa lain demi kemajuan bangsa kita.
…………………………………………………………………………………………………………

Di tengah-tengah dinamika politik dan ekonomi bangsa kita, bahasa nasional kita tetap menjadi pokok pegangan dalam menghadapi segala jenis perubahan pada masa-masa mendatang ini.

(* Harimurti Kridalaksana, guru besar Universitas Indonesia.)

Perhatikan tulisan yang dikutip dari Kompas, Selasa, 21 Oktober 1997 itu. Penyusunan tulisan berjudul Apa yang Sudah Dicapai Setelah 5 Tahun EYD? itu terdiri dari enam komponen yang dikemukakan secara berurutan, yaitu:

a. Judul:
Apa yang Sudah Dicapai Setelah 25 Tahun EYD?

b. Nama Penulis:

Harimurti Kridalaksana

c. Lead/Teras:
PERESMIAN ejaan baru oleh Presiden Soeharto pada tanggal 16 Agustus 1972 merupakan peristiwa besar bagi perkembangan bahasa Indonesia. Sepintas lalu tampaknya peresmian apa yang terkenal sebagai Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) itu hanyalah menyangkut perubahan penggunaan huruf dj menjadi j (mis djati -> jati), j menjadi y (mis. jakin -> yakin), nj menjadi ny (mis. njata -> nyata), sj menjadi sy (mis. sjukur -> syukur), tj menjadi c (mis. tjita -> cita), dan ch menjadi kh (mis. chusus -> khusus).

d. Body/Tubuh:
Beberapa hari kemudian Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mashuri, SH. dalam pen-jelasannya di depan Dewan Perwakilan Rakyat menyatakan bahwa perubahan ejaan itu hanyalah merupakan salah satu program pembakuan bahasa. Yang lain menyangkut pem-bakuan istilah dan pembakuan tata bahasa. Salah satu kejadian yang bersangkutan dengan pembaruan ejaan itu tetapi yang tidak terlalu dibesar-besarkan ialah bahwa pembaruan ejaan itu menyangkut pula penyeragaman ejaan dengan negara tetangga yang berbahasa seasal, Malaysia. Tujuannya tentu saja adalah agar pada satu saat nantinya kedua negara itu kembali menggunakan bahasa yang seluruhnya sama – tidak seperti ketika itu, masing-masing meneruskan tradisi yang menyimpang karena mempunyai perjalanan sejarah yang berlainan.
Setelah 25 tahun ada baiknya kita membuat evaluasi, apakah tujuan pembakuan itu sudah terlaksana seluruhnya? Apa saja yang belum dan apa yang menjadi sebab?
……………………………………………………………………………………………………….
Dalam perkembangannya selama 25 tahun terakhir ini banyak yang dicapai oleh bahasa nasional kita, tetapi ternyata banyak juga masalah yang belum kita selesaikan. Peresmian EYD tahun 1972 itu menyadarkan masyarakat bahwa masalah bahasa bukan hanya urusan ahli bahasa dan guru bahasa saja, melainkan juga semua pengguna bahasa yang merasa memiliki bahasa nasional itu. Perubahan ejaan ketika itu disadari bukan hanya semata-mata menyangkut perubahan kebiasaan baca-tulis saja, melainkan juga melibatkan masalah pembinaan bahasa secara keseluruhan, bukan hanya bahasa Indonesia, juga bahasa daerah dan bahasa asing. Banyak di antara masalah-masalah itu hingga kini masih diperdebatkan.
…………………………………………………………………………………………………………

Setelah 25 tahun peresmian EYD nampak bahwa masalah bahasa di Indonesia makin kompleks: bagaimana mengembangkan bahasa Indonesia agar tetap berguna sebagai alat komunikasi modern dan sekaligus menjadi jati diri bangsa (yang dalam era globalisasi yang akan datang bukannya setiap bangsa harus meleburkan identitas kebangsaannya ke dalam kebudayaan “internasional”, tetapi sebaliknya malah dituntut agar kepribadiannya makin mantap dan makin berperan); bagaimana melestarikan bahasa daerah agar tetap dapat mendinamisasikan kehidupan budaya daerah; dan bagaimana memanfaatkan bahasa-bahasa asing untuk menyerap kemajuan bangsa lain demi kemajuan bangsa kita.

e. Ending/Penutup

Di tengah-tengah dinamika politik dan ekonomi bangsa kita, bahasa nasional kita tetap menjadi pokok pegangan dalam menghadapi segala jenis perubahan pada masa-masa mendatang ini.

f. Keterangan Mengenai Penulis
(* Harimurti Kridalaksana, guru besar Universitas Indonesia.)

Tulisan pertama disebut berita, tulisan kedua disebut artikel. Bila komponen-komponen kedua tulisan itu dibandingkan, dapatlah dilihat persamaan dan perbedaan antara berita dengan artikel. Coba perhatikan secara cermat:

Komponen Berita                                            Komponen Artikel

  1. Judul                                                        1. Judul
  2. Dateline                                                    2. Nama penulis
  3. Lead                                                         3. Lead
  4. Body                                                         4. Body
  5. Ending                                                      5. Ending
  6. Initial penulis                                             6. Keterangan mengenai penulis

Jadi, persamaan antara berita dengan artikel ialah sama-sama memiliki judul, lead, body, dan ending. Perbedaannya, berita memiliki dateline dan penulis berita hanya dicantumkan initialnya. Sedangkan artikel tidak memiliki dateline, tapi penulis artikel dicantumkan namanya secara jelas dan keterangan mengenai dirinya juga disertakan. (Bersambung)

Leave a Reply