BERMAIN MUSIK, BUKAN BACA PARTITUR!

“Dion, Mama ingin kamu les piano, ya! Mama sudah dapat gurunya,” kata bu Erni saat menjemput Dion, anak semata wayangnya, di suatu siang usai jam sekolah.

“Aku ngga’ suka piano, Ma. Aku mau belajar drum aja,” sanggah Dion.

“Mama kamu ‘kan main piano? Lagi pula, di rumah kita ada piano bagus. Papamu sangat suka lihat kalau Mama main piano. Apa kamu ngga’ pengin?” cecar ibunya.

Meski ogah-ogahan, akhirnya Dion dileskan piano kepada seorang guru piano privat. Bu Evelyn namanya. Selama enam bulan, Bu Evelyn mencobakan beberapa buku, mulai dari Schaum, Williams, Alfred d’Auberge, Bastien, John Thompson, dan Glover; tapi tak satu pun buku-buku itu dikuasai Dion, sementara Bu Evelyn yakin, Dion sangat musikal.

Memasuki bulan ketujuh, Bu Evelyn mengaku angkat tangan, tak sanggup mendampingi Dion. Satu hal yang paling membuatnya gusar dan penasaran, hanya dalam dua kali pengulangan, Dion hampir selalu bisa memainkan lagu yang dilatihkan; dengan catatan, Dion mampu memainkan setelah ia memberikan contoh, yakni dengan memainkan setiap lagu secara utuh di depan Dion.

Sebagai guru piano yang terakreditasi Depdikbud, ia tak mau keluar dari jalur yang sudah digariskan dalam buku-buku piano yang metodik-didaktiknya disusun oleh ahli-ahli piano, ternama, seperti: Schaum, Williams, Alfred d’Auberge, Bastien, John Thompson, atau Glover.

Siang itu, setelah janjian lewat “booking” jadual kantor, Bu Erni dan suaminya, Pak Arka, datang berkonsultasi dan mengajak Bu Evelyn. Mereka bertiga menyoal, kenapa pada Laporan Pemetaan Kecerdasan Dionisius Arga Digda yang diterima sebulan lalu tertulis bahwa Dion memiliki talenta untuk menjadi seorang pianist dan harpaist handal, sementara kalau diajari terkesan sangat “mbambet”.

“Maaf, sebelumnya, Pak Edy, apakah Pak Edy secara khusus belajar alat musik?” tanya Bu Evelyn setelah Bu Erni memperkenalkan siapa dia.

“Lebih banyak secara informal, Bu Evelyn. Memang saya pernah hinggap di Akademi Musik Indonesia, Yogyakarta, sebelum berganti nama menjadi ISI (Insitut Seni Indonesia). Instrumen mayor saya waktu itu biola, dan jurusan yang saya masuki Musik Sekolah,” aku menjawab.

“Bagaimana Pak Edy dapat tahu bahwa Si A lebih cocok pegang Violin, Si B alto saxophone, Si C harpa? What is your reason?” lanjutnya.

“Utamanya saya mempelajari pola kecerdasan dari para musisi teman-teman saya, selain belajar dari pengalaman pribadi. Tadi saya sebut, pertama kali instrumen yang saya pegang biola. Sekarang saya dapat memainkan dengan baik beberapa instrumen, mulai dari alto saxophone, flute, blues harmonica, mandolin, banjo, gitar, dan piano. Saya berkesimpulan, sebesar apa pun bakat musik seseorang, jika ia tidak dipertautkan dengan instrumen yang pas untuk pertama kali pada saat ia berda dalam “masa pekanya”, ia justru berkemungkinan punya “hatred feeling” pada musik. Gilirannya, ia mungkin emoh mengembangkan musikalitasnya,” jelasku, agak mendominasi pembicaraan.

“Faktanya, ternyata Pak Edy meleset tentang Dion. Saya rasa ia sangat “mbambet” kalau diajari piano, instrumen yang Bapak rekomendasikan sebagai instrumen pertama itu. Bagaimana ia dapat bermain piano, kalau untuk membaca partitur saja ia kesulitan berat? Bagaimana Pak Edy menjelaskan kondisinya?” lanjut Bu Evelyn dengan pertanyaan-pertanyaan yang menohok langsung.

Kupandang mereka bertiga. Kukuatkan daya empatiku guna melawan dorongan keras dari dalam diriku untuk jatuh ke dalam perasaan tersinggung atas pertanyaan-pertanyaan yang sudah dibuka dengan kata “maaf” itu.

“Bu Evelin, Bu Erni, Pak Arka…boleh saya tanya sesuatu?” aku coba melakukan “ice-breaking”.

“Silahkan saja, Pak. Yang penting kami mendapat jawaban yang sekaligus merupakan pertanggungjawaban profesional Bapak,” Pak Arka menanggapi.

“Ibu Bapak semua kenal Stevie Wonder  atau John Felicano?” aku bertanya.

“Sangat kenal, Pak. Meski saya menekuni klasik, saya sesekali bermain lagu-lagu dengan genre jazz” sahut Bu Evelyn.

“Menurut Bu Evelyn, apakah mereka berdua bisa membaca partitur?” aku bertanya pendek.

“Sudah jekas tidak!” sahut Bu Evelyn ketus.

“Mangapa, Bu?” tanyaku lagi.

“Keduanya buta! Mana mungkin mereka mampu baca partitur?” tegas Bu Evelyn.

“Jadi, apakah Ibu masih harus mempersoalkan kondisi Dion yang dapat menirukan, dan mungkin saja secara lebih sensual, lagu-lagu yang Ibu latihkan kepadanya?” pertanyaanku konklusif.

Secara serentak mereka bertiga menghela nafas sembari menarik kursi tempat duduk mereka menjauhi meja konsultasi.

“Luar biasa penjelasan Pak Edy. Saya insighted sekali!” ucap Bu Evelyn sambil berdiri dan menyalami tanganku erat sekali.

“Sangat sportif, dikau..” aku juga membatin menyaksikan responnya yang spontan.

“Satu lagi, Pak. Bapak belum menjelaskan, kenapa Dion sulit membaca partitur?” tanya Bu Evelyn. Sementara itu, aku lihat Pak Arka dan Bu Erni saling memandang dengan mata berninar. Entah mereka sedang mengomunikasikan isi pikiran apa.

“Bu Evelyn, Bu Erni, Pak Arka. Marilah kita simak lagi laporan pola kecerdasan Dion. Ia 97 di Logika Matematika, 86 di Spasial, 75 di Kinestetik, 95 di Musik, 78 di Intrapersonal, dan 92 di Naturalistik; sementara ia 18 di Logika Bahasa, 24 di Interpersonal dan 26 di Eksistensial,” jelasku sembari membaca peta kecerdasan Dionisius Arga Digda.

“Rendahnya kecerdasan Logika Bahasa bertanggungjawab terhadap kesulitannya membaca partitur. Ia lebih mudah menyerap infomasi dengan mengombinasikan kepekaan Numerik-Auditorik-Visual-Motorik, sebaliknya ia sulit menyerap ungkapan simbolik atau codik; apalagi ia merasa kurang klik dengan pribadi tutor yang mendampingi, terlebih kalau sang tutor juga pelit pujian” jelasku. (ES)

***Edy Suhardono adalah seorang doktor psikologi, psikolog, dan konsultan senior pada IISA Visi Waskita, Assessment, Consultancy, and Research Centre.

7 comments for “BERMAIN MUSIK, BUKAN BACA PARTITUR!

  1. Lindra Putri Miranti
    October 14, 2012 at 18:43

    Nama: Lindra Putri Miranti

    komentar:
    seharusnya orang tua tidak memaksakan kehendaknya sendiri, dan merasa apa yang baik untuk mereka juga baik untuk anaknya. dilihat dari tulisan di atas, karena orang tua memakskan kehendaknya, dion menjadi males-malesan untuk belajar piano, karena sebetulnya keinginan dion adalah berlatih drum.
    menurut saya, jika orang tua mendukung keinginan dari anak, anak akan membuktikan bahwa dia mampu memberikan yang terbaik atas apa yang dia pilih.
    dan seharusnya orang tua bahkan guru sekali pun, melihat juga kemampuan dari sang anak, anak tersebut berkompeten dalam hal apa, jadi orang tua, bahkan guru tidak memaksakan apa yang diinginkannya kepada anak.
    jika dipaksakan, akan berakibat buruk bagi psikolog anak, anak bisa saja terkekang, karena tidak bisa memilih jalan yang dia inginkan.

    • October 2, 2013 at 14:42

      Sdri. Lindra,

      Saya sepakat dengan Anda bahwa orang tua seharusnya tidak memaksakan kehendak, meski pemaksaan itu terkait yang mereka anggap baik bagi anak-anak mereka. Meskipun benar bahwa orangtua hanya menginginkan yang terbaik bagi anak-anak mereka atau mendorong anak-anak untuk menjadi lebih baik di bidang dimana mereka memiliki keterampilan, tetapi hal itu tidak seharusnya dibatasi hanya pada urusan memenuhi impian orang tua. Memiliki gairah pada bidang tertentu dapat menjadi jaminan untuk memastikan bahwa anak akan menjadi pekerja keras, lebih cepat dan lebih baik untuk memahami dan mengembangkan keterampilan sehingga lebih membantu mereka berhasil.

      Namun perlu dicatat hal sebaliknya. Ketika orangtua sangat mengokang bakat anak sehingga anak cenderung menjadi puas diri dan kurang berusaha untuk mempelajari lebih lanjut, hal ini malahan bukan merupakan kebaikan. Pujian dan dorongan perlu diarahkan agar anak belajar dan mengembangkan diri lebih lanjut, termasuk mengambil risiko, berani membuat kesalahan dan belajar dari kesalahan.

      Dapat disebut sebagai “pemaksaaan yang baik” jika orangtua menanamkan nilai kerja keras sebagai alat untuk membuat mereka tetap termotivasi dan terus-menerus berjuang untuk mencapai keunggulan, sebab bakat saja tidak cukup.

      Salam dalam keterilhaman,

      Edy Suhardono

  2. Albert Parsaoran
    October 19, 2012 at 11:04

    Saya setuju dengan artikel ini karena hal semacam ini saya alami sendiri.
    Saya memang berbakat dalam bidang musik, namun kendalanya adalah saya tidak bisa membaca not balok, tabulator, atau sejenisnya. Saya mempelajari lagu-lagu hanya berdasarkan pendengaran. Bahkan untuk tuning (nyetem) gitar saya pun saya hanya mengandalkan pendengaran saya saja, sementara kebanyakan orang melakukannya dengan tuner. Saya lebih percaya dengan pendengaran saya ketimbang tuner itu.

    Selama tiga tahun mempelajari seni musik di SMA, saya tidak pernah mampu untuk membaca not-not balok. Tapi saya lebih mampu dalam mempraktekannya. Alhasil nilai teori dan praktek saya sangat jauh berbeda.

    Bagi saya, musik bukan teori. Meskipun ada teori-teori yang perlu dipelajari.

    Banyak orang yang mengatakan bahwa musisi otodidak akan lebih mahir dibanding musisi “anak les-an”. Lantas yang menjadi pertanyaan saya, mengapa mereka perlu les musik jika ternyata nantinya mereka akan kalah mahir dengan musisi otodidak?

    Albert Parsaoran

    • October 2, 2013 at 14:35

      Sdr. Albert,

      Kata Aristoteles, “setiap seni dan pendalamannya, juga setiap tindakan dan pilihan untuk menggelutinya, bertujuan baik, sehingga karena alasan ini selalu ada yang lebih baik dan lebih benar sesuai dengan tujuan yang dipancang”.

      Membaca partitur/not balok dalam musik merupakan hasil pembelajaran dari segenap orang yang kampiun di dunia musik ini. Kadang keinginan untuk “menjadi seperti seseorang” lebih mengedepan daripada untuk “menjadi diri sendiri”. Para penerus dan pembelajar hampir selalu mengacu pada model , pun ketika mereka menangani para calon pendatang baru yang ingin menekuni dunia mereka.

      Satu hal yang diabaikan oleh umumnya para pembelajar ialah bahwa mereka tidak selalu belajar melalui sebuah proses pengajaran, tetapi mereka “belajar dari diri sendiri” dan untuk “menjadi diri sendiri”.

      Melalui cerita tersebut, saya tidak bermaksud untuk menafikkan perlunya bahkan pentingnya membaca partitur/not balok bagi para pecinta musik, tetapi lebih menekankan perlunya kita mengedepankan tujuan sembari keluwesan cara untuk mencapai tujuan menguasai suatu keahlian tertentu dengan “belajar dari diri sendiri”. Jadi, mengapa orang perlu les musik jika ternyata nantinya mereka akan kalah mahir dengan musisi otodidak?

      Saya tidak menekankan bahwa orang harus les, tetapi lebih menekankan pada perlunya pembelajar musik untuk belajar simbol yang memungkinkan mereka melakukan kolaborasi dan koneksi dengan para musisi pada era sebelumnya melalui harmonisasi musikal yang dipermudah dengan penguasaan simbol2. Anda dapat membayangkan, manusia abad ini tidak akan mengenal karya2 Mozart jika tak seorang pun menguasai simbol musik yang pernah dibuat oleh Mozart.

      Namun demikian soal urutan dan tahapan dapat Anda kerjakan secara lebih luwes. Anda tidak harus membaca notasi baru menguasai komposisi musiknya, sebaliknya Anda dapat menguasai suatu lagu dengan sempurna baru kemudian membaca atau menuliskannya ke dalam notas (termasuk merekamnya) agar karya Anda mengabadi.

      Salam dalam keterilhaman,

      Edy Suhardono

  3. Tamara Wulandari
    October 20, 2012 at 21:47

    kejadian pada Dion mungkin terjadi juga dengan diri saya. dua tahun terakhir saya menggeluti alat musik tiup. basicly saya di ajarkan membaca partitur, tapi saya cenderung lebih suka untuk menghafal apa yang dinyanyikan oleh mentor.
    ada juga yang bilang, kalau bermusik yang penting feelingnya kuat. tapi saya sendiri masih belum bisa selihai itu meniupkan nada nada random secara harmoni.
    yang ingin saya tanyakan, apa sebenarnya jiwa saya bukan pada alat musik, mengingat membaca partitur saya kurang mahir bahkan cenderung malas dan feelingnya pun tidak bermain? tapi in other side, saya senang sekali memainkan alat musik tiup tersebut tanpa memperdulikan skill basic saya? thanks before.

    Tamara Wulandari

  4. Timorianti Br. Marpaung
    November 4, 2012 at 19:55

    Saya setuju dengan artikel ini karena seharusnya orang tua tidak memaksakan kehendaknya sendiri demi untuk kepentingan pribadi, apalagi memaksakan hal yang tidak disuka oleh anaknya sendiri, terlebih anak semata wayang. Sesuatu yang dipaksakan pasti tidak akan berjalan sesuai keinginannya. Dan hal itu akan percuma apabila dipaksakan terus demikian, terbukti Dion menjadi males untuk belajar piano, karena sebetulnya keinginan dion adalah berlatih drum.
    Menurut saya, jika orang tua selalu egois dan tidak memberikan dukungan kepada keinginan anaknya sendiri, maka itu akan berakibat buruk sehingga membuat anaknya semakin sulit untuk menentukan arah hidupnya dan itu juga akan sangat mengganggu masa perkembangan anaknya. Padahal sebenarnya dengan mendukung keinginan anak, maka itu sudah membuktikan betapa orangtua yang sangat sayang dan selalu mendukung apapun keinginan anaknya. Selain itu orangtua dan guru harus bisa mengenal dan mengetahui pola kecerdasan anaknya agar bisa membantu perkembangan anaknya dan tidak asal menentukan pilihan tanpa melihat pola kecerdasan itu.

    Saya mau bertanya. Sebenarnya sejak kecil saya sangat suka bermain gitar, tetapi saya tidak bisa memainkan itu. Saya meminta kepada orangtuaku untuk les gitar tetapi tidak diijinkan. Selain itu ketika lulus SMA, saya berkeinginan untuk masuk kuliah jurusan pariwisata, tetapi keduaorangtauku tidak mengijinkan itu dan aku disuruh masuk jurusan penerbitan. Disaat itu saya berpikir kalau penolakan orangtauku itu adalah jalan terbaik untukku. Apakah tindakan yang aku lakukan itu sudah benar? Apakah dengan mengikuti keinginan orangtuaku itu aku bisa menemukan jati diriku sendiri? Terimakasih

    Timorianti Br. Marpaung

  5. September 29, 2013 at 00:01

    dilihat dari kasus diatas, menurut saya faktor yang menjadi permasalahan si anak adalah ketertarikannya yang berbeda dengan keinginan orang tua, dan hal ini berdampak ke sikap anak dalam pembelajarannya yang menjadi kurang maksimal. menanggapi dari segi musik, karya stevie wonder dan john felicano sudah tak diragukan memiliki karya yang luar biasa dan ya, tanpa membaca partitur. kemampuan memainkan alat musik tanpa menghafal atau membaca partitur sebuah lagu menjadikan seseorang lebih peka dalam menemukan nada atau chord.
    lalu apakah kecerdasan logika bahasa perlu ditingkatkan sehingga dapat merubah dan mengembangkan kemampuan (membaca partitur misalnya)? atau hanya dapat mengembangkan logika yang sesuai dengan minat?

Comments are closed.