ORANG YANG BERPENGARUH POSITIF (2)

Pak direktur: Mungkin perlu diperjelas karakteristik enam orang tersebut. Saya ingin sekali mengetahui ciri-ciri karyawan yang kurang produktif dan apakah mereka mengganggu pekerjaan di kantor ini?

Ciri utama mereka ditandai dengan ketidakmampuan menyelesaikan pekerjaan secara tepat waktu. Kemampuan-kemampuan dasar karyawan Bapak sebenarnya cukup bagus, namun tidak semua mampu menyelesaikan kerja tepat waktu. Ciri kedua, mereka jarang menepati janji. Pernah berjanji pada saya jam delapan pagi, muncul pada pukul satu siang. Begitu juga janji-janji mereka dengan sesama karyawan dan tamu-tamu perusahaan. Dan, yang luar biasa, umumnya mereka selalu terlambat dalam menghadiri pertemuan-pertemuan maupun undangan tanpa memberi kabar. Yang ketiga, berdasar pengamatan dan pembicaraan dengan beberapa karyawan, dapat disimpulkan, karena banyaknya janji-janji yang tidak ditepati, kepercayaan orang terhadap mereka menurun. Omongan mereka sulit dipegang.

Pak direktur: Menurut Bapak, apa yang menyebabkan mereka menjadi seperti itu?

Pertama, secara khusus, ketidakmampuan mereka menyelesaikan pekerjaan secara tepat waktu adalah, kecerdasan matematika mereka rata-rata rendah. Artinya, bukan mereka tidak mampu berhitung,  berhitung adalah dasar, deduktif, melainkan mereka tidak memiliki strategi dalam bekerja.  Nah, strategi ini sifatnya induktif. Orang boleh saja tidak masuk bekerja atau terlambat, namun pekerjaan harus selesai tepat waktu.  Sejauh pengamatan saya, orang-orang dan sejumlah rekan yang mampu profesional dengan pekerjaannya hingga level internasional, ya pada ketepatan waktu ini. Tidak ada yang mampu bertahan tanpa memiliki ketepatan waktu ini.

Yang kedua, kecerdasan interpersonal mereka kurang begitu berkembang sehingga sulit memahami orang lain, mereka tidak tahu apakah orang menyenangi mereka atau sebaliknya. Mereka kesulitan dalam menilai seseorang. Empati mereka rendah. Sering salah baca orang. Akibatnya, sering yang mereka lakukan adalah hal-hal yang bertentangan dengan kepentingan dan kebutuhan orang lain.

Ketiga, kecerdasan intrapersonal mereka juga kurang berkembang. Padahal, ini merupakan kekuatan batin seseorang. Kekuatan orang yang mempengaruhi perilaku dan pikiran orang. Ibu yang memiliki pengaruh positif itu memiliki intrapersonal yang luar biasa kuat, ia tidak “memerintah orang dengan mulutnya”, tapi ia ” memberikan perintah dengan perilakunya”.

Pak direktur: Bagai mana memperbaiki kinerja mereka?

Mereka dapat di tempatkan di antara  orang-orang yang berpengaruh positif. Mereka perlu diposisikan selalu bekerja sama dalam kurun waktu yang terus-menerus, khusus dengan ibu tadi. Seseorang bila sering bermain dengan tukang minyak, tentu akan kecipratan minyak. Kalau minyak wangi, orang itu ikut menjadi wangi juga, hanya bila  minyak  goreng, ya ikut kecipratan panasnya.

Pak direktur: Iya. Iya. Tapi, apa bukannya malah yang positif dapat menjadi negatif?

Memang bisa saja, namun di kantor Bapak ini, jumlah orang-orang yang positif jauh lebih banyak. Dalam beberapa kasus, ketika salah seorang dari enam orang yang negatif berhasil mempengaruhi ibu yang positif tadi, memang situasi kerja mendadak menjadi tidak nyaman. Keputusan ibu tadi mendadak inkonsisten.

Pak direktur: Bisa juga terjadi demikian?

Ya, tapi tidak lama. Biasanya, keesokan harinya, pengaruh ibu yang positif tadi segera bekerja kembali. Memang tidak ada yang sempurna.

Pak direktur: Bisa Bapak jelaskan kelemahan ibu yang berpengaruh positif itu?

Orang-orang yang memiliki intrapersonal begitu kuat biasanya memiliki musuh makanan. Makan yang banyak dapat menurunkan kepekaan mereka. Karena itu, ibu itu kalau tidak mampu menjaga makanan, jenis kualitas maupun jumlahnya, ia dapat diserang penyakit perut.  Bila staminanya menurun, ia mulai sulit membaca situasi.

Pak direktur: Dapatkah Bapak menunjukkan kekuatan dari enam karyawan saya yang kurang produktif tadi?

Bahasa. Rata-rata mereka memiliki logika bahasa yang tinggi.  Mereka juga memiliki kemampuan spasial yang sangat baik. Mereka dapat memperbaiki kinerja mereka bertolak dari kekuatan mereka ini. Logika bahasa yang baik dan diasah, artinya digunakan dan ditempa semaksimal mungkin, juga mampu meningkatkan logika matematika mereka secara induktif. Kemampuan spasial yang dimaksimalkan, dapat membuat orang “memetakan masalah” secara baik.

Pak direktur: masalahnya?

Mereka masih lebih suka melihat rumput tetangga. Karena, rumput tetangga memang selalu terlihat lebih indah.***

***Mohammad Fauzy adalah seorang magister psikologi, konsultan pada IISA Visi Waskita, Assessment, Consultancy, and Research Centre [http://visiwaskita.com/].

2 comments for “ORANG YANG BERPENGARUH POSITIF (2)

  1. Farida Yasribi
    December 1, 2012 at 07:08

    Saya suka dengan materi dalam bentuk percakapan. Lebih mudah dipahami. Menarik. Yang saya tangkap dari “Orang Yang Berpengaruh Positif” di antaranya, yang menyebabkan enam karyawan tersebut tidak mampu menyelesaikan pekerjaan secara tepat waktu ada 3 ( kecerdasan matematika mereka rata-rata rendah, kecerdasan interpersonal dan intrapersonal mereka kurang begitu berkembang).
    1. Yang ingin saya tanyakan adalah selain kecerdasan matematika mereka rata-rata rendah, kecerdasan interpersonal dan intrapersonal mereka kurang begitu berkembang, adakah faktor lain yang dapat menyebabkan seseorang tidak mampu menyelesaikan pekerjaan tepat waktu?
    2. Lalu mengenai makan yang banyak dapat menurunkan kepekaan. Selain itu, hal apa saja yang dapat menyebabkan kepekaan seseorang dan kecerdasan intrapersonal seseorang menurun?
    3. Bagaimana cara untuk meningkatkan kepekaan dan kecerdasan intrapersonal (selain menjaga makanan) ?
    4. Memaksimalkan kemampuan spasial dapat membuat seseorang “memetakan masalah” secara baik. Selain memaksimalkan kemampuan spasial, adakah cara lain agar mampu memetakan masalah dengan baik?
    Terima kasih
    Farida Yasribi

  2. Lely Natalia
    December 2, 2012 at 22:50

    Menurut saya keenam pekerja bapak itu termasuk orang yang kurang amanah. Sehingga kepercayaan orang ke mereka memudar dikarenakan omongan mereka yang kurang bisa dipegang. Saya mau bertanya apakah lingkungan yang buruk bisa mnejadi salah satu indikator dari buruknya kinerja keenam karyawan tersebut? Lantas apa mereka bisa disembuhkan dari “penyakit”nya itu?

Comments are closed.