PEREMPUAN, PORNOGRAFI, DAN MESIN TIK

Ada batasan yang nyata antara memperjuangkan nasib kaum perempuan dengan pornografi. Dalam karya-karya sastra, perjuangan kaum perempuan di Indonesia agaknya berbaur dengan pemaparan mereka tentang seks secara vulgar. Para budayawan dan kritikus sastra menyorot beberapa pengarang perempuan, antara lain, Djenar  Maesa Ayu dan Stefany Hidayat. Mereka dianggap kebablasan ketika memaparkan soal-soal seks dalam berkarya. Sedangkan dari sisi lain, justeru karena karya mereka berani dan vulgar, mereka kadang dianggap lebih liberal dan egaliter dalam memperjuangkan hak-hak perempuan.

Yang terakhir ini tentu saja salah kaprah. Memaparkan soal seks secara vulgar melalui media, walau dalam karya sastra, tidak berarti mereka memperjuangkan kebebasan dan persamaan, apalagi khusus untuk hak-hak kaum perempuan. Hal ini mengaburkan masalah yang sebenarnya. Perjuangan kaum perempuan sangat jauh dan bahkan tidak berkaitan sama sekali dengan kemampuan mereka dalam mengungkapkan kehidupan seksual manusia.

Ada tiga revolusi besar yang mengubah wajah dunia, revolusi industri, revolusi Perancis (1789), dan revolusi Bolshevik di Rusia (1917).  Tiga revolusi ini telah merubah tatanan ekonomi, politik, dan budaya dunia. Dan, dari sekian perubahan itu, di antaranya, perubahan perilaku kaum perempuan. Sejak revolusi industri, ketika tenaga-tenaga manusia digantikan tenaga-tenaga mesin, banyak kaum lelaki menganggur. Pada saat itu, ketika nilai tenaga laki-laki turun, kaum perempuan mulai ke luar rumah. Mereka menjadi buruh dengan upah murah. Perempuan, dengan demikian, bukan bekerja untuk menuntut emansipasi, melainkan karena kaum lelaki sudah tak berdaya (jual). Biaya mereka terlalu mahal ketimbang biaya mesin. Karena itu, berbicara secara vulgar tentang seks dalam sastra tidak dapat dianggap sebagai bagian perjuangan kaum perempuan.

Ada batasan yang nyata antara memperjuangkan nasib kaum perempuan dengan pornografi. Perjuangan kaum perempuan memang sama sekali tidak berkaitan dengan kemampuan dalam mengungkapkan kehidupan seksual, namun perjuangan mereka sangat terkait erat dengan mesin ketik. Mesin ketik pertama yang diproduksi ribuan buah adalah Remington. Para pencipta mesin tik pertama yang praktis itu agaknya tidak pernah berpikir, mesin itu telah berperan penting dalam membebaskan perempuan-perempuan golongan miskin dan menengah dari status rendah mereka dalam kehidupan keluarga di Inggris.

Dengan menawarkan kebebasan lewat pekerjaan yang dibayar, juru tik dapat memperjuangkan emansipasi mereka lebih dari segala pergerakan, organisasi, dan publikasi yang menuntut persamaan bagi kaum perempuan. Pada tahun 1885, Pangeran Leo Tolstoy menjadi pengarang Eropah pertama yang menggunakan mesin tik. Ia menyuruh anak gadisnya mengetik dengan mendiktekan kepadanya sebagian besar pekerjaan dan seluruh surat-menyuratnya. Anak gadis Tolstoy adalah juru tik perempuan Eropah pertama, pelopor kaum perempuan yang memperoleh karier yang bebas pada papan tombol mesin tik. Sejak 1880-an itu, hampir tidak seorang pun perempuan terlihat di pusat-pusat perdagangan di kota besar, mereka tidak pernah mengunjunginya. Kini, mereka melebihi jumlah laki-laki di antara pegawai-pegawai perdagangan dan administrasi. Mesin tik itu sendiri adalah faktor utama yang membawa perubahan sosial yang penting pada kaum perempuan ketimbang menggunakannya untuk menghasilkan karya-karya pornografi. ***

 

1 comment for “PEREMPUAN, PORNOGRAFI, DAN MESIN TIK

  1. santisasono
    August 21, 2012 at 08:51

    Bapak, cerita ini lucu, aku suka. Tapi benar, orang salah kaprah mengartikan emansipasi sebagai keberanian mengungkap sensualitas keperempuanan sebagai simbol kebebasan dan pemberontakan atas kultur dominan yang berlaku. Tapi, di lain pihak, aku juga menghargai kejujuran bersikap dan berperilaku. Artinya, tidak menjalani/mengikuti apa yang dijalani/diikuti mayoritas dalam upaya introspeksi itu jauh lebih penting dari sekadar memberontak…

Comments are closed.