RESTORASI BUKU DI INDONESIA

Buku merupakan salah satu bentuk media untuk menyebarkan pikiran dan perasaan, menyebarkan kebudayaan. Semakin lama ia bertahan dan luas jangkauannya, semakin banyak pembacanya. Semakin banyak pembacanya, semakin besar kemungkinan isinya bertahan dalam alam pikiran dan perasaan pembacanya. Hanya dengan restorasi secara digital, buku-buku akan lama bertahan dan luas jangkauan khalayaknya. Buku menjadi mudah dicari, diakses, dan dibaca. Karena itu, sebagai salah satu strategi kebudayaan, Indonesia sudah harus memikirkan restorasi buku-buku, secara khusus, buku-buku para pendiri dan pemikir  negeri ini. Restorasi dengan kata lain adalah perang kebudayaan.

Inspirasi Project Gutenberg

Project Gutenberg sebuah upaya  Michael  Hart untuk  merestorasi  buku-buku teks, novel, puisi, dan tulisan-tulisan yang sudah tidak lagi memegang copyright menurut ketentuan hukum Amerika Serikat (terdapat perbedaan kebijakan mengenai bebas copyright antara negara).  Hal ini dilakukan almarhum Hart pada 1971 karena ia memperoleh kesempatan menggunakan super computer di Laboratorium Penelitian Material, Universitas Illinois. Mengetahui ia menjadi seorang yang beruntung, Hart berpikir bagaimana cara membalas kebaikan tersebut. Satu jam empat puluh tujuh menit setelah ia memperoleh kesempatan menggunakan komputer seharga $100,000,000 yang dinamai Xerox Sigma V  itu, ia mengumumkan, nilai terbesar yang diciptakan komputer bukan mengkalkulasi, namun sebagai media penyimpanan, pemanggilan data, dan pencarian file-file yang telah disimpan di perpustakaan.

Hart segera menuliskan kembali Declaration of Independance dan mendistribusikannya ke seluruh jaringan internet. Aksi ini dikenal sebagai “Internet Virus”. Premis Michael Hart yang melandasi Project Gutenberg: segala sesuatu yang dapat dimasukan ke sebuah komputer dapat diproduksi kembali secara  terus-menerus. Disebut sebagai Replicator Technology – sejak sebuah buku atau bentuk lain (termasuk foto-foto, suara-suara, dan benda-benda 3D dapat disimpan dalam sebuah komputer), semakin banyak pula duplikasi yang dihasilkannya. Setiap orang di dunia atau bahkan bukan yang berasal dari dunia ini (asal mempunyai transmisi satelit) dapat memiliki duplikasi sebuah buku yang telah dimasukan ke dalam sebuah komputer yang terhubung dengan jaringan internet.

Dengan begitu, Electronic Text (Etexts) yang dihasilkan Project Gutenberg dibuat sesederhana dan semudah mungkin untuk digunakan dalam segala bentuk. Kesederhanaan dan kemudahan ini membuat informasi, buku-buku, dan bentuk material lain dapat diakses masyarakat umum dalam bentuk komputer sehingga orang mudah membaca, menggunakan, mengutip, dan melakukan pencariannya. Biaya Etexts haruslah serendah mungkin hingga tak ada seorangpun yang peduli berapa besar biayanya. Dan Etexts haruslah menemuhi standar media penyimpanan pada saat dibuat. Etexts harus juga mudah digunakan hingga tak ada seorangpun yang membutuhkan keahlian khusus saat menggunakan, membaca, mengutip, dan mencari informasi.

Pada Agustus 1997, jumlah konversi buku elektronik 1.000 judul, Mei 1999, menjadi 2.000 judul, dan bertambah seribu di akhir tahun 2000. Oktober 2001, tercatat telah 4.000 judul buku yang terkonversi menjadi buku elektronik. April 2002, Project Gutenberg telah mempublikasi 5.000 judul buku secara online dan mencapai 10.000 di bulan Oktober 2003, dilakukan bersama-sama oleh 1.000 sukarelawan dari berbagai belahan dunia yang mengkonversi 350 buku setiap bulan. Sepuluh ribu judul buku tersebut dapat dimiliki siapa saja dalam bentuk DVD seharga USD $1 (khusus wilayah Amerika Serikat). Michael berharap di tahun 2015, koleksi mencapai satu juta judul buku.

Restorasi Buku di Indonesia

Semenjak booming internet di era 1990-an, Project Gutenberg berubah menjadi skala internasional.  Tahun 2004, restorasi multi-bahasa menjadi sasaran utama Project Gutenberg. Michael Hart, pergi ke Eropa, mengunjungi Paris, Brussels, dan Belgrade. Memberi kuliah terbuka di kantor UNESCO, Paris, 12 Februari 2004. Seminggu kemudian, ia menemui Parlemen Eropa di Brussels. Kemudian di Belgrade, Michael menemui tim proofreader Eropa (Project Ratsko) dan Project Gutenberg Eropa yang diresmikan awal Januari 2004.

Tujuan jangka panjang Project Gutenberg ialah agar setiap negara memiliki perpustakaan digital sendiri (menurut batasan-batasan hak cipta negara tersebut), dengan jaringan antar benua dan jaringan global (di seluruh planet), menghadirkan literatur-literatur yang digemari agar setiap orang di bumi dapat membacanya. Sudah barang tentu, negara-negara yang terlibat dalam Project Gutenberg, secara tidak langsung sedang mensosialisasikan kebudayaannya melalui literatur yang mampu diakses oleh seluruh orang di dunia.

Karena itu, setiap orang di seluruh dunia, kini berpeluang untuk menikmati karya-karya literatur pemikir-pemikir terkenal, orang-orang dengan amat mudah membaca karya-karya klasik Plato, Aristoteles, maupun Bertrand Russel. Dari sudut kepentingan Indonesia, sebaliknya, orang-orang, dan bahkan kita sendiri sangat sulit menemukan karya-karya anak bangsa dalam bentuk digital. Kita sulit, misal, menemukan buku-buku Soekarno, Hatta, Takdir Alisyahbana, dan pemikir lain dalam bentuk digital yang mudah diakses dan gratis. Selain karena yang berharga murah tidak ada, memang kalaupun mau dibeli, buku-buku anak bangsa itu memang belum tersedia dalam bentuk digital. Tidak dapat dipungkiri, dalam kurun waktu satu dasa warsa ke depan,  kita semakin sulit membendung percepatan  faham-faham  Kapitalisme, liberalisme, individualistik. Sebaliknya kita semakin sulit menemukan  faham-faham  indegenous, asli Indonesia,  yang mengajarkan kearifan lokal.

Berdasar Koleksi Digital situs resmi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, ada 13 macam kategori koleksi.

Berdasar data di tabel kanan, boleh dibilang pemerintah Indoensia telah melakukan upaya restorasi.  Hanya, yang dikoleksi, paling banyak adalah kategori Kebijakan Pemerintah, 69%. Buku (Elektronik dan Langka) hanya  0,41%!. Karena itu, ke depan, bangsa ini hanya mampu menemukan tumpukan kebijakan-kebijakan pemerintah saja dalam sejarah perbukuannya, bangsa Indonesia kehilangan sejarah pemikiran para pendiri, para ilmuwan pemikir, dan para sastrawannya! Secara menyeluruh, bangsa ini telah kalah dalam merencanakan strategi kebudayaannya.

Saya tidak mampu mendapatkan data dari Arsip Nasional Republik Indonesia untuk menganalisis lebih jauh. Hanya yang menarik, di situs Dokumentasi Sastra Indonesia dan Nusantara, di bawah kendali PNRI, ada sebuah artikel yang menceritakan terdapat upaya menterjemahkan 10 karya sastra Indonesia ke dalam bahasa Inggris melalui seri buku “Modern Library of Indonesia”. Jadi, masih diperlukan juga upaya lebih gigih untuk merestorasi karya sastra maupun literatur di Indonesia. Pemerintah berkewajiban melestarikan literatur dan buku-buku bagi generasi mendatang.

Kendala paling depan dalam proses restorasi secara hukum adalah masalah hak cipta dan royalti. Pertama, memastikan buku sudah tidak dicetak ulang lagi oleh penerbitnya. Kedua, harus menghubungi keluarga-keluarga penulis untuk meminta izin menerbitkan kembali dalam bentuk digital. Proses tersebut membutuhkan waktu panjang dan juga disusul kesadaran masyarakat Indonesia untuk membantu biaya-biaya proses restorasi digital, baik secara sukarelawan maupun dermawan. Proses restorasi pada Project Gutenberg, misal,  dilakukan dengan cara memindai buku-buku yang telah bebas hak cipta, kemudian hasil pemindaian diperiksa dan dikoreksi dua orang sukarelawan hingga memiliki tingkat keakuratan sebesar 99%. Terkadang, Hart dan para sukarelawan harus menuliskan kembali lembar demi lembar karena  buku tersebut sudah terlalu tua untuk dipindai oleh mesin.

“Project Hatta”

Pada 6 September 2011, Hart berpulang. Kontribusinya pada literatur patut diapresiasi. Project Gutenberg  telah menjadi organisasi besar dalam mempublikasikan karya-karya bebas hak cipta secara digital. Di Indonesia, restorasi buku-buku ke dalam bentuk digital tampaknya juga harus dilakukan. Hanya, belum ada organisasi yang mengupayakannya. Pemerintah, melalui Perpustakaan Nasional, perlu mengambil inisiatif dalam restorasi buku-buku ini,  misal, dengan merestorasi  buku-buku Mohammad Hatta , proklamator Indonesia.

Penerbit Maya Aksara, sejak medio September 2011, telah berupaya merestorasi salah satu karya Mohammad Hatta, Pengantar ke Jalan Ilmu dan Pengetahuan ke dalam format  electronic Publication (ePub). Project ini tidak berbeda dengan Project  Gutenberg, sebuah langkah merestorasi buku-buku para tokoh di Indonesia ke dalam format ePub.  Kendalanya, berdasar UU 19-2002 tentang Hak Cipta, sebuah buku dianggap bebas hak cipta setelah 50 tahun penciptanya meninggal. Mohammad Hatta meninggal 14 Maret 1980,  berarti 32 tahun lalu. Jadi, baru 18 tahun lagi (pada tahun 2030) bukunya bebas hak cipta. Karena itu, kita harus menghubungi keluarga Hatta untuk meminta izin menerbitkan bukunya dalam format digital.

Hal  ini tentu bukan hal mudah jika berhubungan dengan ratusan tokoh pemikir Indonesia. Karena itu, perlu revisi undang-undang tentang hak cipta secara menyeluruh agar dari segi budaya, ekonomi, dan politis tidak merugikan bangsa Indonesia sendiri maupun para penulis secara pribadi. Sebab itu, dalam kondisi seperti sekarang, walau beberapa keluarga penulis tidak meminta, diperlukan pula biaya pembayaran royalti yang tidak kalah besar dari pada ongkos produksi digitalnya. (MK)

Referensi:

 

***Mike Kurniawan adalah Direktur Maya Aksara.

1 comment for “RESTORASI BUKU DI INDONESIA

  1. Ru__suck
    October 10, 2012 at 04:46

    Saya sangat mengapresiasi pemikiran Bapak didalam artikel dan berterimakasih untuk pembelajaran informasinya yang berharga ini.

    Dalam hal ini saya lebih berfokus terhadap buku-buku dalam negeri.
    Dan memang benar, kendala terbesar adalah menumbuhkan kesadaran masyarakat umum yang nantinya bisa dilanjutkan dengan mendobrak kesadaran pemerintah perihal restorasi buku ini. Karena jika hanya secara pribadi atau kelompok kecil saja, tidak mudah sepertinya memberi kesadaran pemerintah tentang revisi undang-undang.
    Saya pribadi pernah dan terkadang terpikirkan kembali niatan saya merestorasi buku-buku pemikir bangsa ini yang sudah jelas dari segi fisik sudah sangat rapuh namun dari segi nilai dari buku tersebut masih sangat berharga.
    Namun pemikiran tersebut selalu terhenti dengan keraguan dant ketidaktahuan saya tentang kebijakan restorasi buku dari sudut pandang peraturan pemerintah. Agak konyol rasannya, jika saya merestorasi sebuah buku pemikir bangsa dengan niat mempublikasikan dan semata-mata melestarikan buku tersebut. Tapi justru malah bisa diperkarakan secara hukum yang berkaitan dengan hak cipta dan royalti.

    best regard,

    Rendi Utoyo

Comments are closed.