Salah Pilih Jurusan

Berapa nilai untuk seorang mahasiswa yang tidak menguasai materi tugas akhir? Pertanyaan ini muncul setelah hampir satu jam saya bersama seorang penguji lain mengajukan pertanyaan terhadap seorang mahasiswa, tapi ia tidak fokus. Konsentrasinya hilang. Ia kadang minta kami mengulang pertanyaan dan baru lama bisa menjawab. Itu pun terbata-bata.

Ketika kami selesai bertanya, saya menetapkan, ia pantas dapat nilai “C+” saja. Nilai terendah di formulir. Tapi, pada detik akhir sidang itu, rekan saya menguji bertanya pada mahasiswa tersebut, “Dulu kamu cita-citanya apa, sih?”

Mahasiswa itu diam sejenak dan menjawab dengan isak tangis. Setelah didesak, ia mengaku, sebenarnya ia tidak bercita-cita kuliah di program studi Jurnalistik. Selama tiga tahun ini, ia tidak suka mempelajari ilmu tersebut. Hanya karena paksaan orangtua, ia terus melanjutkan kuliah. Dia mengaku benar-benar tersiksa.

Ketika ia kami suruh menunggu di luar, kami hitung rata-rata nilai kami berdua, mahasiswa itu memperoleh nilai “B-“. Saya diam sejenak. Rekan saya menguji itu bertanya, mau dikasih berapa?

Saya katakan, beri saja “B”. Untung rekan saya sepakat saja. Bayangkan, dalam situasi sangat tertekan, mahasiswa itu masih dapat mempelajari ilmu Jurnalistik dan menyelesaikan tugas akhirnya dengan nilai B-. Hal ini tentu luar biasa. Ia mahasiswa hebat. Pantaslah dapat “B”. Paling tidak, “ketersiksaan” dirinya selama tiga tahun ini telah kami hitungkan juga.***

6 comments for “Salah Pilih Jurusan

  1. October 6, 2013 at 18:21

    Setelah membaca artikel ini, saya terkesan dengan perjuangan mahasiswa tersebut. Bayangkan, dia melakukan kegiatan yang dia tidak sukai. Disaat dia melakukan hal yang tidak dia sukai, dia bisa melakukannya apalagi jika dia melakukan hal yang benar-benar dia sukai dan tanpa paksaan dari orang tuanya. Beberapa kasus dari teman-teman saya pun kebanyakan pastinya salah masuk jurusan, tapi mereka semua alhasil mencoba menjalani apa yang tidak dipilih dirinya dan yang dari 100 orang kemungkinan 3 sampai 5 orang yang terpaksa mundur karena tidak bisa dan tidak kuat dengan program studi yang tidak dia sukai. Nah, untuk kasus ini menurut bapak harus seperti apa kita menanggapinya? Apakah terus jalankan atau berhenti sebelum menyiksa diri walaupun sudah terlalu jauh masuk ke dalah hal yang tidak disukainya ini ?
    Terimakasih

    Eko Bambang Susanto

  2. June 25, 2014 at 02:00

    saya mau tanya pak, pernahkah bapak bertemu dengan anak yang kompleks?

    • Maya Aksara
      July 9, 2014 at 03:02

      Maaf, saya tidak begitu jelas dengan kata “kompleks” dalam pertanyaan Saudara. Mohon dikemukakan saja tindakan anak tersebut secara konkret, Terimakasih.

      • July 13, 2014 at 08:38

        cara berpikirnya yang berbelit-belit dan kurang dipahami orang lain, dan anak tersebut lebih sering mengatakan apa yang ingin orang dengar dibanding mengatakan apa yang ia rasakan

  3. October 15, 2014 at 20:13

    salah ga sih kalau usia dini sudah dimasukan banyak ilmu pengetahuan, apakah saat sudah besar nanti ia akan fokus sama skill individunya?

    • Maya Aksara
      January 29, 2015 at 00:15

      Kasus yang pernah saya temui, jika dimasukkan banyak ilmu pada usia dini adalah terjadi trauma untuk belajar pada usia selanjutnya. Anak malah menjadi lamban dalam menyerap pelajaran. Tidak berhubungan secara langsung apakah ia akan fokus atau tidak sama skill-nya. Terimakasih.

Comments are closed.