Sosiologi Jurnalisme Brian McNair

Tak jemu-jemu mendengar cerita yang seolah tak kenal putus dari ujung bibir para mantan wartawan dan fotografer yang sempat mengenyam kehidupan kewartawanan di era Soeharto. Kalau mereka bertemu di salah satu pojok ruangan rehat di Kampus Jurusan Teknik Grafika dan Penerbitan, Politeknik Negeri Jakarta (PNJ), dan cuaca lagi baik, biasa turut bergabung seorang mantan wartawan Suara Pembaruan, mantan fotografer Jakarta-Jakarta dan di Editor, mantan wartawan Sarinah, mantan wartawan Anita Cemerlang, dan beberapa mantan wartawan lain, bahkan seorang mantan pemimpin redaksi. Belum lagi kalau turut bergabung para akademisi komunikasi dan publisistik yang dulu pernah disergap training keras jurnalistik di IISIP Jakarta. Generasi jurnalis waktu itu mereka sebut sebagai generasi tanpa televisi swasta dan hanya TVRI sebagai corong propaganda pemerintah. Televisi swasta baru mulai muncul di tahun 1990 dengan tampilnya RCTI.

Oplah media-media cetak tempat mereka bekerja kala itu umumnya ratusan ribu, baik yang terbit pagi, sore atau terbit seminggu sekali. Perputaran uang tentu begitu pesat di industri media cetak saat itu. Secara sosial pun, posisi wartawan begitu terpandang di masyarakat yang belum mengenal hape, yang pantas jika sebuah grup musik qasidah yang berbasis di Semarang kala itu pun secara khusus menghadiahkan satu lagunya yang berkisah peran wartawan yang dipadankan bak ratu dunia. “Apa saja kata wartawan mempengaruhi pendapat orang”. Begitu kira-kira penggalan lagunya. Kenapa ratu, hanya tebakan saja mungkin saat itu sedang ramainya orang membicarakan kiprah ratu-ratu dunia. Icon paling jelas adalah mendiang Putri Diana yang terus dikuntit para juru potret di manapun dan berita serta gambarnya sampai ke tangan pembaca Indonesia.

Deretan nostalgia indah para jurnalis era itu tertuang dalam cerita yang silih berganti sembari ditingkahi tarian kepulan asap-asap rokok dan hitamnya kopi buatan seorang office boy langganan. Terurailah satu demi satu cerita, mulai dari lika-liku dan polah tingkah wartawan hingga cara wartawan bersiasat menghadapi rezim breidel. Tak lupa mereka juga menyelipkan cerita lucu; ada salah satu wartawan dari salah satu media besar yang rajin membawa mesin ketik kalau sedang liputan. Ada juga cerita yang harus berhadapan dengan Kodim dan disekap gara-gara dituduh subversif ketika meliput kecelakaan di depan gedung Kodim. Ada wartawan yang dekat dengan kalangan jendral, sehingga membantunya dalam menggali berita seputar sepak terjang tentara di negeri ini dan juga kisah seorang wartawan yang ingin mewawancarai konglomerat nomor wahid negeri ini dengan menyaru sebagai sopir seorang pengusaha rekanan konglomerat. Seorang fotografer kala itu juga harus saling dorong hanya untuk merebut angle gambar yang kadang hanya diberi waktu dua menit oleh protokoler istana. Wartawan-wartawan dari media besar lebih diutamakan dalam liputan oleh pihak narasumber ketimbang wartawan-wartawan dari media tanggung, apalagi media kecil.

Secara jumlah, banyaknya wartawan kala itu tidaklah sebanyak sekarang, yang ditaksir saat itu mungkin baru lima ribuan saja jumlahnya di seluruh Indonesia. jumlah asosiasi wartawan juga diatur oleh kekuasaan dan hanya mengizinkan berdirinya Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Karena itu di antara mereka lebih mudah untuk saling mengenal satu sama lain, karena sering jumpa dalam event-event liputan. Berbeda dengan sekarang yang jumlahnya mungkin telah mencapai ratusan ribu, sebab ditambah wartawan televisi dan juga online. Jumlah asosiasi yang menghimpun mereka yang dulu kerap tersemat di dada profesi mereka sebagai “kuli tinta” itu juga bejibun. Selain PWI, lalu kini muncul Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Aliansi Jurnalis Televisi Indonesia (AJTI) dan seterusnya. Saking banyaknya wartawan dan asosiasi yang menghimpun mereka, kemungkinan saling kenal satu sama lain semakin tipis. Bahkan salah seorang mahasiswa jurnalistik yang baru saja magang di salah satu portal berita online baru-baru ini berkisah dirinya seperti “diasingkan” dalam sebuah liputan oleh para jurnalis dari media-media yang telah mapan.

Mendengar kisah-kisah nostalgia para wartawan itu membuat saya, yang hanya pernah mengenyam dunia jurnalistik sekolah, lalu kampus, pernah memegang sebuah majalah internal selepas kuliah, dan hampir saja deal untuk menjadi redaktur di sebuah harian baru yang tumbuh bak cendawan di musim hujan awal Reformasi dan yang kini sudah menghilang, seperti mengurai kembali bagaimana tergila-gilanya dengan koran dan segala terbitan majalah. Koran dan majalah itu kadang beli, pinjam atau hanya membaca di perpustakaan. Masih ingat saya terkena “damprat” seorang penjaga perpustakaan gara-gara saya tidak segera mengembalikan Majalah Tempo edisi baru kala itu. Di Jawa Timur, harian Jawa Pos begitu melegenda. Kompas dan Suara Karya tergolong di bawah Jawa Pos dalam distribusinya. Suara Pembaruan juga menjadi incaran di kala petang bersaing dengan Surabaya Post. Bukan hanya Majalah Tempo yang menarik untuk ditunggu kehadirannya, majalah remaja seperti Hai dan Aneka Cemerlang juga begitu menyeruak dan merangsek masuk ke kalangan remaja di kota-kota kecil di Jawa Timur. Tidak adanya alternatif media informasi selain TVRI membuat media cetak baik terbitan industri besar maupun terbitan lokal, termasuk mading di sekolah dan kampus banyak yang membaca. Tentu kawan segenerasi saya yang pengelola mading masih ingat betapa kewalahannya kita menjelang deadline, yang harus dikerjakan hingga larut malam.

Sebenarnya bagaimana bedanya jurnalistik Indonesia sebelum era internet dan setelah era internet. Tentulah jawabannya semua mengetahui. Setelah internet marak, muncullah produk-produk media massa non cetak. Namun dunia jurnalisme belum berubah, masih seperti yang dipotret McNair (1998) yang menuliskan seperti berikut. Journalism is any authored text, in written, audio or visual form, which claims to be (i.e. is presented to its audience as) a thruthful statement about, or record of, some hitherto unknown (new) feature of the actual, social world (p.4). Kalau secara bebas menangkap pernyataan McNair tersebut jurnalisme sampai sekarang masih belum banyak beranjak fungsinya untuk menyampaikan pernyataan, ataupun catatan yang dapat dipertanggunjawabkan dan yang belum diketahui (oleh publik).

Masih lanjut McNair, di mana letak sosiologis dari jurnalisme itu sendiri. Menurutnya, jurnalisme itu mengambil tempat di tengah perdebatan antara dua cara pandang tentang bagaimana dunia sosial ini terorganisir dan bagaimana pengaruh media dalam melestarikan keteraturan tersebut. Traditionallya, the sociology of journalism has taken the form of a debate between two ways of looking at how social world is organized and the role of the media in sustaining that organization (p. 19).

Akan tetapi, untuk siapa sih sebenarnya para jurnalis itu berkiprah dengan kemampuan tulis menulis, kecekatan analisis dan menentukan angle baik berita maupun foto? Kalau meminjam pikiran kalangan kiri seperti dalam pikiran Ed Herman dan Noam Chomsky, media jurnalistik bekerja untuk lebih melayani kelas penguasa saja, khususnya dalam konteks masyarakat barat. Kutipannya seperti berikut, the journalistic media work more or less directly in the service of the ruling classes of western society.

Bahkan secara lebih tajam Chomsky menengarai bahwa media massa itu hadir lebih untuk melayani kepentingan kekuasaan negara dan korporasi yang kedua-duanya saling berjejaring satu sama lain. Penting bagi mereka untuk membingkai laporan dan analisis para jurnalis untuk mendukung kedudukan mereka dan sedapat mungkin membatasi perdebatan atas isu yang menyinggung mereka. Bagi Chomsky, media mainstream bukan hanya bahkan mengijinkan untuk pemelintiran berita untuk kepentingan negara, mereka juga menerima permintaan negara bahkan tanpa pertanyaan. Berikut keterangan kalimat lengkap Chomsky yang dikutip Mcnair.

The media serve the interests of state and corporate power, which are closely linked, framing their reporting and analysis in a manner supportive of established priviledge and limiting debate and discussion accordingly…. The mainstream media not only allow the agendas of news to be bent in accordance with state demand and criteria of utility, they also accept the presupposition of the state without question (Chomsky, 1985 p. 5)

Tidak berlebihan memang, dunia jurnalistik hampir sulit terlepas dari pertaliannya dengan pemilik kuasa. Ia harus bermain-main dengan kekuasaan politik yang ada dalam genggaman penguasa dan kekuasaan ekonomi yang ada di tangan korporasi. Jika kembali menyimak cerita para mantan wartawan di atas, pada eranya betapa mereka bisa sangat dekat dengan kalangan penguasa dan pengusaha. Bahkan hampir pasti dunia jurnalistik sekarang pun tidak banyak berubah. Bagaimana para jurnalis itu dapat memburu berita berita dari lingkungan pembuat kebijakan, yaitu pemerintah dan kalangan pelaku pasar, yakni para pebisnis.

Standpoint ini sepertinya penting diketahui kalangan mahasiswa yang bergelut di bidang komunikasi, terutama jurnalistik. Bahwa nanti para jurnalis itu akan bersinggungan langsung dengan para pembuat kebijakan dan para pelaku usaha. Hubungan timbal balik pun bukan barang aneh. Penguasa dan pengusaha membutuhkan wartawan untuk mempopulerkan agenda-agenda propaganda mereka, sementara sebaliknya kalangan jurnalis membutuhkan berita untuk diketahui publik luas. Di sinilah pastinya para calon-calon jurnalis dituntut pandai-pandai menempatkan diri setelah nanti benar-benar menjadi jurnalis.

Namun, jurnalisme penuh curiga di mata Chomsky bukanlah satu-satunya analisis dalam memandang dunia jurnalistik. Kalangan yang lebih netral seperi McNair masih melihat peran mulia yang dijalankan para jurnalis. Berikut kutipan dari McNair,

Journalism is a key element in shaping the cognitive environment within which we all live, which is simply to say that we think and act on the basis of what we believe to be true. Journalism is an important (though by no means the only) source of what we (think we) know about the world, so of course it affect us (p. 34)

Jika dimaknai secara bebas, menurut McNair, jurnalisme masih merupakan elemen penting dalam terbentuknya lingkungan kognitif atau pengetahuan tempat di mana kita hidup, sebuah tempat yang diperlukan untuk berpikir dan bertindak dengan dasar apa yang kita anggap benar. Jurnalisme masih amat penting sebagai salah satu sumber, dan meski bukan satu-satunya, tentang apa yang kita ketahui tentang dunia yang nantinya akan berdampak pada kita.

Sebagai catatan akhir, dunia jurnalistik tetaplah menantang. Apalagi sekarang ini dengan semakin terdeferensiasinya jenis dan tipe media massa, bergelut di dalamnya masih menjanjikan peran tersendiri. Tetap terbuka bagi para aktor-aktor penebar berita terpercaya, selama masyarakat masih memerlukannya. Jadi tetap semangatlah para jurnalis dan calon-calon jurnalis.

** Zaenal Abidin EP adalah seorang sosiolog. Executive Director of the Center for Asian Studies (CeNAS) di Jakarta.