Tawuran Pelajar

Belum lama ini seorang mantan Menteri Agama menyatakan kalau anak-anak yang dididik di lingkungan madrasah dan pesantren tidak mengenal tawuran pelajar. Mereka jauh dari hiruk pikuk tawuran pelajar seperti yang sering terjadi di berbagai kota yang biasanya dilakukan pelajar sekolah di bawah koordinasi Kemdikbud. Mudahnya, sebut saja sekolah-sekolah umum. Seakan memberi pesan, dengan sekolah di lingkungan agama, pelajar steril dari tawuran. Kalau ditarik lebih jauh, sekolah-sekolah agama di lingkungan Kemenag maupun lembaga keagamaan independen seperti pesantren memberi jaminan bahwa pelajar akan berperilaku baik. Benarkah memang seperti itu dan mengapa bisa demikian?

Tawuran pelajar memang terus saja marak belakangan ini. Modusnya bermacam, mulai dari tawuran keroyokan, saling lempar benda apa saja, saling ejek, hingga membajak angkutan umum. Korbannya pun sudah banyak berjatuhan. Orangtua geregetan. Guru pun hanya bisa tercengang. Pemerintah dibuat pusing tujuh keliling. Bahkan, salah seorang wakil gubernur hingga mengatakan mereka ini calon, maaf, bajingan. Seharusnya mereka tidak menerima subsidi pendidikan. Wah-wah, sudah sampai di ubun-ubun rupanya kemarahan pejabat pemerintah. Atau, mungkin juga sudah mulai kehilangan kesabaran sekaligus mulai kehilangan akal, bagaimana menghentikan tawuran pelajar itu.

Kalau kita ikuti berita demi berita baik di media massa maupun elektronik, motif tawuran itu bermacam-macam. Mulai dari hal-hal sepele seperti beda atribut sekolah hingga yang paling serius sejarah pertarungan dan dendam antarsekolah. Pokoknya, kalau sekolah A itu musuh abadinya sekolah B. Sekolah A bisa bergandengan dengan sekolah C, tapi tidak bisa dengan B. Demikian sebaliknya.

Coba lihat kalau mereka lagi dalam aksi tawuran. Seolah dunia ini hanya milik mereka. Muka-muka yang masih imut itu sontak bermata nanar. Tidak diperhatikan lagi orang-orang di sekitarnya. Matanya hanya tertuju pada pelajar lain yang jadi lawannya. Mereka berlari-lari sambil menenteng rantai, gir, bahkan ada juga yang membawa senjata tajam. Mereka mengejar lawannya. Melempari angkutan umum yang ditumpangi lawannya. Apalagi jika jumlah lawannya tidak sebanding. Mereka makin beringas. Penulis pernah menemukan situasi demikian. Si pelajar yang dikejar-kejar masuk ke sebuah kantor di kawasan Jalan Suprapto, Cempaka Putih, Jakarta pusat dan berteriak memelas minta perlindungan karena mau dibunuh sama lawannya. Beruntung beberapa sekuriti dengan sigap mengamankannya dan kemudian menghalau segerombolan lain yang mengejarnya. Waduh, mirip seperti cerita di film-film triad, mafia atau lainnya.

Kondisi ini sebenarnya tidak bisa lepas dari iklim kebebasan yang dinikmati para pelajar di sekolah-sekolah yang sering terlibat tawuran itu. Tidak banyak aturan yang melekat pada mereka, sehingga dengan kata lain mereka cenderung bebas. Coba kita lihat aturan-aturan dari rumah ataupun lingkungannya. Di rumah mungkin ia dimanja atau orangtua dan keluarga besarnya tidak lagi memiliki aturan baku dalam keluarga. Parahnya lagi orangtua atau keluarga besarnya tidak didengar lagi nasihatnya. Bisa juga seluruh keluarga terbiasa cuek, dan semau gue. Ini bisa jadi karena bukan tidak mungkin, keluarganya berantakan, entah akibat ekonomi, ataupun gara-gara pecahnya komitmen dalam rumah tangga.

Di lingkungan, bisa jadi tinggalnya di wilayah yang aturan di lingkungan itu juga begitu longgar. Tidak ada tokoh di tempat itu yang jadi panutan. Kalaupun toh ada perangkat RT/RW, yang muncul hanya sekadar urusan KTP, akte dan urusan remeh-temeh lainnya. Sering-sering RT/RW-nya malah jadi gerutuan karena mau saja menerima uang pelicin. Maklum, hitung-hitung buat tambahan dapur ngebul. Aparat seperti ini sudah lupa dan mati rasa kepeduliannya terhadap keteraturan social di daerahnya. Tidak disadarinya bahwa uang pelicin dan sekarang istilah keren-nya, gratifikasi, itu bisa menjadi bumerang bagi dirinya. Warga mulai enggan berurusan dengan perangkat seperti ini, karena pelayanannya diukur dengan uang. Akibatnya, perangkat pun kehilangan charisma, kehilangan wibawa. Warga dan anak-anak mudanya pun tidak lagi mengidolakannya. Tidak lagi merasa sungkan dengan aparat perangkatnya. Malah mungkin pernah mendengar, hampir semua warga satu RT bisnisnya sama; jual beli narkoba. Mudah ditebak akibatnya, keteraturan sosial lingkungan pun berantakan.

Jika variabel kondisi keluarga dan kondisi lingkungan seperti itu, lalu ditarik untuk dijadikan pengaruh, maka di manapun anak-anak muda dari lingkungan seperti itu rentan menjadi biang keributan. Tidak terkecuali di sekolahan, tempat mereka mencari ilmu dan mengembangkan karakter. Maka, sungguh berat beban dan tanggung jawab para guru jika ternyata kebanyakan muridnya berlatar dari kondisi seperti atas. Namun juga tidak bisa persoalan seperti itu dibebankan secara tunggal di pundak guru. Sungguh konyollah jika menyalahkan guru di sekolah-sekolah tersebut. Hal yang terang, justru merekalah yang salah-salah menjadi pelampiasan dari lingkungan keluarga dan masyarakat yang amburadul seperti di atas. Karena itu tidak salahlah jika pemerintah juga ikut campur, sebab baik atau buruknya lingkungan sosial juga menjadi tanggung jawab pemerintah, terutama pemerintah daerah.

Itulah untungnya DKI memiliki figur pimpinan daerah yang begitu peduli dengan persoalan tawuran pelajar ini. Sebab, proses pembentukan karakter masyarakat itu merupakan proses bersama antar factor dan melibatan berbagai pihak yang saling menopang; keluarga, lingkungan, dan juga lembaga pendidikan. Akan menjadi sebaliknya, apabila keluarga kondusif, lingkungan juga mendukung, maka prestasi belajar di sekolah adalah buah dari keteratutan yang ada di keluarga dan lingkungan. Bukan tidak mungkin pula akan mempengaruhi masa depan dan pekerjaan pelajar tersebut.

Jika meminjam teori konflik yang konvensional, konflik itu berpotensi terjadi apabila tiada kelompok dominan di suatu wilayah. Professor Ahmad Fedyani Saifuddin dari FISIP UI dalam sebuah kesempatan baru-baru ini menjelaskan panjang lebar mengenai teori konflik ini. Mengutip pendapat para sarjana, menurutnya potensi konflik lebih besar terjadi pada masyarakat seperti itu. Antara kelompok satu dan kelompok lainnya seimbang, baik dari sisi pengaruh, kekuatan social ekonomi dan juga mungkin jumlah populasinya. Masing-masing kelompok saling menutup diri dan bisa meledak apabila timbul pemicunya untuk memanaskan situasi.

Sebaliknya, konflik akan bisa diredakan apabila di suatu wilayah terdapat kelompok dominan. Biasanya kelompok lain akan terabsorbsi, terlebur ke dalam kelompok dominan itu. Dengan demikian, pontensi konflik dapat mereda dengan sendirinya karena terdapat arus utama, yaitu kelompok dominan.
Nah, bagaimana dengan sekolah-sekolah agama atau pesantren? Apakah benar seperti dipaparkan mantan Menteri Agama di atas? Jawabannya masih perlu dibuktikan kebenarannya. Bilamana meminjam teori konflik di atas, kiranya perlu dilihat apakah di pesantren atau sekolah agama itu terdapat kultur dominan atau tidak. Apakah terdapat relasi seimbang atau tidak.
Biasanya, di sekolah-sekolah agama itu yang ada adalah kultur dominan, dalam hal ini agama dan sebangunan kultur yang ada di dalamnya. Dorongan agama sangat menentukan, bukan hanya untuk meredam aneka gagasan dan perilaku yang dianggap menyimpang, namun juga untuk kontinuitas institusi itu sendiri. Jelas, beda semangat di sekolah-sekolah umum dan sekolah agama. Di sekolah umum, dorongan semangat dari nilai-nilai dominan hampir tidak ada. Sifatnya hanya profane alias duniawi semata. Relasi antarindividu, baik antarsesama maupun dengan senior berjalan lebih pada relasi transaksional semata, tukar menukar kepentingan. Ketika kepentingan terpenuhi, maka urusan selesai. Bandingkan dengan sekolah-seklah agama atau pesantren, biasanya di dalam institusi tersebut terdapat figur atau sosok-sosok berpengaruh yang sering disebut-sebut, yang  mungkin si murid tidak pernah bersinggungan langsung atau bertransaksi langsung dengan sosok atau figure-figur tersebut. Mereka terkena pengaruh sihir kharisma tokoh atau figur sentral itu.

Dilihat dari sisi tertib sosial dan keteraturan, di sekolah-sekolah umum juga ada tata tertib. Namun biasanya di sekolah-sekolah umum itu aturan yang ada dijalankan dengan tuntutan kesadaran. Karena itu di sekolah-sekolah umum disediakan tim guru BK alias Bimbingan dan Konseling. Siswa yang bermasalah pasti jadi pasien dan diterapi oleh tim guru BK ini. Bedanya, di sekolah agama, pengembangan karakter dan perilaku itu mendapat porsi yang begitu besar. Misalnya terdapat pelajaran Akhlaq, yang berisi narasi-narasi praktis untuk berbuat baik dan seterusnya. Belum lagi terdapat pelajaran agama yang lain. Namun, semua pasti tahu berapa persentase mata pelajaran yang berorientasi worldly skill, keterampilan duniawi di sekolah-sekolah agama itu yang tidak terlalu besar.
Karena itu, benarlah adanya klaim yang dilontarkan bahwa sekolah-sekolah agama itu sepi tawuran. Namun, klaim itu hanya akan membingungkan jika tidak dijelaskan faktor-faktor yang bermain di dalamnya. Mungkin, lulusan sekolah-sekolah agama akan tertib dan teratur, ketika berada sekolah, karena mendapat lingkungan yang “lebih memaksa” untuk demikian. Akan tetapi, tidak ada jaminan bahwa karakter lulusan sekolah-sekolah agama maupun pesantren akan lebih bagus dari lulusan sekolah-sekolah umum.

Kalau keteraturan dalam keluarga, lingkungan dan sekolahnya mendukung, bukan tidak mungkin karakter pelajar di sekolah itu akan membaik. Selain itu, mereka juga akan memperoleh worldly skill yang dibutuhkan dalam dunia modern sekarang. Dalam kondisi begini, tawuran tidak ada tempat lagi.

Akhirnya, daripada membanding-bandingkan sekolah agama atau pesantren dan sekolah umum dalam hal tawura pelajar, akan lebih baik jika semua level dalam masyarakat dibenahi. Kondisi keluarga dibenahi, lingkungan juga diperhatikan, termasuk juga lingkungan sekolah. Tugas ini bukan hanya tanggung jawab guru atau dosen, juga menjadi tanggung jawab orangtua, pengurus warga, dan juga pemerintah. Karena itu, adalah sebuah kenistaan jika pimpinan daerah tidak peduli dengan tawuran pejalar yang terjadi di daerahnya. Justru mereka harus berusaha agar tawuran pelajara itu bisa dihentikan dengan inovasi-inovasi yang ditunggu warganya.

*Zaenal Abidin EP adalah seorang sosiolog. Tinggal di Jakarta.

1 comment for “Tawuran Pelajar

  1. December 7, 2013 at 22:42

    Di dalam artikel ini, saya setuju dengan pembentukan karakter masyarakat itu sendiri yang memang dapat mengubah pola pikir anak. Jika dari lingkungan itu baik, pasti otomatis masuk ke lingkungan keluarga. Pihak keluarga juga akan mengajarkan yang baik. Contoh, jika lingkungan itu adalah orang-orang beragama baik otomatis kebanyakan mereka sama seperti itu dan bahkan dapat saling mengajarkan yang baik. Begitu sebaliknya. Pihak keluarga memang harusnya dapat memberikan ilmu agama yang cukup untuk anak-anak agar membentuk akhlak dan perilaku mereka. Bukan sekedar menyuruh shalat 5 waktu atau apapun itu tapi, memberikan nasihat-nasihat yang baik dengan cara yang baik pula agar dapat diterima anak seusia remaja itu.

    Dari pihak pemerintahpun juga tidak bisa hanya berkomentar saja, tapi seharusnya mereka bisa memikirkan cara menanggulangi tawuran. Atau mungkin dari pihak kemendikbud dapat menambah ilmu agama yang bukan sekedar teori, tapi dapat dipraktikan langsung. Bisa juga dengan cara mempersering kajian-kajian agama ‘ringan’ di sekolah-sekolah yang dapat diterima anak sekolah.

    Kalau dari pihak sekolah, memang pihak sekolah tidak dapat dipersalahkan, tetapi, sekolah seharusnya dapat lebih mengajarkan kepada anak didiknya agar tidak bersikap anarkis. Mungkin dapat dilakukan dengan pendekatan-pendekatan yang dapat membantu anak-anak didiknya. Bukan hanya ada BK yang hanya membuat para siswa takut sesaat. Pihak senior-senior sekolah juga seharusnya tidak menceritakan atau menjelaskan tentang sejarah pertarungan dan dendam sekolah. Karena generasi berikutnya tidak perlu tahu tentang masalah itu.

    Memang dari anak murid juga seharusnya dapat sadar diri akan kewajiban menjadi murid yang baik tetapi murid juga mempunyai hak untuk mendapatkan pengajaran-pengajaran yang baik. Karena pribadi yang baik biasanya berasal dari pengajaran yang baik.

    terima kasih,
    Tiara amelia

Comments are closed.