Tidak Semua Hal Dapat Kamu Atur

Gadis itu, 41 tahun, belum menikah. Ia tidak bekerja dan malam ini, sesak nafas. Katanya, ia sudah beberapa kali mengalami hal serupa dan ia juga sudah beberapa kali ke dokter. Dokter tetap tidak menemukan penyakit apapun. Secara fisik, katanya, ia sehat. Secara kejiwaan, mengalami gangguan.

Gadis itu minta saya memeriksa dirinya. Saya tahu, saya tidak jauh lebih baik dari pada dokter, juga saya tidak lebih buruk dari pada psikolog. Karena gadis itu terus-terusan takut meninggal karena sesak nafas, saya sempatkan juga untuk mendengar keluhannya.

Lebih dari tiga jam secara terus-menerus, saya mendengar persoalannya. Mulai dari soal pacar, soal adik, soal rumah, sampai soal gereja dan pak pendeta, ia keluhkan semua. Menurut pandangnya, semua orang tiba-tiba saja bertindak seenaknya, suka menentang, dan tidak mau diatur.

Kalau jantung dan pernafasanmu, kamu bisa atur atau tidak?

Ya, tidaklah. Masalahnya, tadi itu, saya coba mengambil nafas, tapi setiap saya berupaya, nafas saya terasa tidak ada, dan saya menjadi panik. Lalu, saya sesak nafas. Betul-betul menakutkan!

Lalu, apa yang terjadi?

Saya cepat-cepat menenangkan diri dan duduk.

Tidak meninggal?

Wah, Bapak bercanda. Ya, nggaklah. Maksudnya gimana, sih?

Cobalah lebih menyadari, tidak semua hal di dunia ini bisa kamu atur. Bahkan, pada batas tertentu, kita tidak mampu berbuat apa pun. Karena itu, kita harus siap menerima apa pun yang terjadi. Artinya, sesekali, biarkan segala sesuatu terjadi sebagai mana adanya. Apa adanya saja.

Apa hubungannya dengan penyakit saya?

Pertama, jantung dan paru-parumu merupakan organ. Ia bergerak dan bekerja sendiri menurut fungsinya. Kamu tidak akan pernah dapat mengaturnya. Karena itu, berhenti untuk mengatur-atur segala sesuatu. Kalaupun kamu tidak melakukan apapun, dunia ini baik-baik saja. Kedua, kalau kamu merasa tidak dapat bernafas, nafasmu tetap saja akan berfungsi dengan sendirinya. Karena paru-parumu tidak dapat kamu hentikan.

Jadi, tidak mungkin saya meninggal, ya Pak?

Ya, itu pun sudah ada yang mengatur, Tuhan. Kamu tidak perlu kuatir lagi. Sampai di sini, kamu memerlukan doa dan pendeta.***