BIDANG STUDI TAK PUNYA JENIS KELAMIN

“Apa pendapatmu setelah kamu baca laporan Peta Kecerdasanmu, Dik Ilda?” tanyaku kepada Ilda Violetta, puteri Pak Ramsos dan Bu Irawati.

“Cocok. Ya seperti yang tertulis di situ, Om. Aku dulu pernah mau belajar drum, tapi papa mama suruh aku belajar piano. Akhirnya aku memang tidak terus dengan piano, meski tinggal dua grade. Di sekolah aku “nge-band” sama teman-teman SMA. Kalau mau latihan, kami bantingan sewa studio. Sekarang, eh, aku malah jadi drummernya,” tutur Ilda Violetta yang sekarang kelas satu SMA.

“Lantas, yang kau maksud dengan ‘ya seperti yang tertulis di situ’?” aku coba memastikan yang ia maksud.

“Gini, Om. Di laporan itu ‘khan tertulis, urutan pertama bidang studiku Teknik Geodesi, kemudian Fisika Sonar, dan baru Musikologi dengan kekhususan pada drum. Untuk Teknik Geodesi dan drum, itu aku banget, Om. Tapi aku ‘nggak suka Fisika,” jelasnya.

“Masalahnya, Pak Edy,” Pak Ramsos menyela, “kalau itu yang dipilih Ilda, bidang itu ‘khan “cowok banget”. Sedang mamanya penginnya dia ambil Sastra Jepang. Mamanya memang lulusan Sastra Jepang UI, dan saya Teknik Informatika ITB,” lanjutnya.

“Benar, Pak Edy,” Bu Irawati menimpali, “Saya tahu keinginan anak saya ini dari sejak kelas satu SMP. Penginnya sih Teknik Geodesi. Mungkin itu gara-gara ia kenalan sama mahasiswa-mahasiswa UGM yang KKN dan waktu itu, kebetulan oleh Pak Camat dan Pak Kepala Desa mereka diinapkan di rumah kami selama dua bulan. Jadi, Pak, takutnya, dia cuman ikut-ikutan. Memang salah satu mahasiswi KKN yang kami tampung adalah mahasiswi semester delapan Teknik Geodesi. Namanya Mbak Inggarsari. Ia banyak ngobrol dengan Ilda,” lanjut Bu Irawati.

“Pak Ramsos dan Bu Ira bukannya sekarang tinggal di Bogor? Masa’ KKN mahasiswa UGM sampai di Bogor? Kenapa yang menentukan lokasi KKN di Bogor bukan IPB, tapi UGM,?” tanyaku.

“Benar, Pak. Setahun terakhir ini kami memang tinggal di Bogor sesuai dengan penugasan kantor saya, Telkom. Empat tahun sebelumnya saya ditugaskan dan tinggal di Purwokerto, Jawa Tengah,” Pak Ramsos menjelaskan.

“Oh, begitu. Baik. Kembali ke soal bidang studi untuk Dik Ilda yang akan memilih jurusan IPA/IPS kelas dua nanti, apa pertimbangan-pertimbangan yang Pak Ramsos dan Bu Ira selama ini pikirkan? Sudahkah ada pembicaraan sebelumnya tentang hal itu bersamanya? Juga setelah melihat laporan Hasil Pemetaan Kecerdasan atas nama Ilda Violetta ini, apakah laporan itu membantu untuk memutuskan?” lanjutku.

“Ya, kedatangan kami ini untuk meminta pertimbangan Pak Edy. Sebab, kami, saya sendiri dan isteri saya, sudah berbeda pendapat soal jurusan apa yang sebaiknya ditempuh Ilda; sementara kami berdua pun sama sekali berbeda dengan keinginan Ilda, yang kayaknya justru dikuatkan dengan laporan hasil pemetaan kecerdasannya. Keberatan kami, ya tadi, Teknik Geodesi ‘khan bidang studi yang “cowok banget”. Takutnya Ilda jadi ‘tomboy’,” jelas Pak Ramsos.

“Maaf sebelum kita diskusikan, bisakah Dik Ilda menunggu sebentar di luar? Kami ingin berbicara dengan papa mamamu tanpa Dik Ilda,” kataku sambil mempersilahkan Ilda keluar dari ruang konsultasi. “Ya, Om. Nanti aku boleh masuk lagi, ‘khan?” tanya Ilda sembari tersenyum.

Sepeninggal Ilda, aku menarik kursi yang tadi ditempati Ilda agar Pak Ramsos dan Bu Ira duudk berdekatan.

“Pak Ramsos, Bu Ira, saya sama sekali tidak meragukan rekomendasi kami sebagaimana sudah tertulis di laporan. Sebagaimana kita lihat di sana, kami tidak menyebutkan Teknik Informatika dan Bahasa Jepang sebagai bidang studi yang dapat ditekuni Dik Ilda kelak. Pada data yang dilaporkan, ditunjukkan bahwa Dik Ilda paling rendah di Logika Bahasa, yakni 24. Sebaliknya, profil komposisi kecerdasannya 92 di Logika Matematika, 76 di Spasial, 89 di Kinestetik, 77 di Musik; sementara ia memadai di Interpersonal, Intrapersonal dan Eksistensial. Jadi, rekomendasi bahwa urutan pertama untuk bidang studi adalah Teknik Geodesi, kedua Fisika Sonar, dan ketiga Musiklogi (Drum, Perkusi) murni didasarkan pada profilnya,” jelasku.

“Maaf, Pak Edy. Bukankah Teknik Geodesi buat cowok? Ilda ‘khan cewek?” sela Pak Ramsos.

“Pak Ramsos, Bu Ira, bidang studi tidak punya jenis kelamin. Preseden sudah terjadi pada Dik Ilda, di mana Pak Ramsos dan Bu Ira tadinya berpikir bahwa cewek seyogyanya tak bermain drum. Pak Ramsos dan Bu Ira membuktikan sendiri, ia 8 tahun menekuni dan tidak selesai; sementara hanya dalam beberapa bulan ia menguasai permainan drum,” tegasku. (ES)

***Edy Suhardono adalah seorang doktor psikologi, psikolog, dan konsultan senior pada IISA Visi Waskita, Assessment, Consultancy, and Research Centre.

1 comment for “BIDANG STUDI TAK PUNYA JENIS KELAMIN

  1. Rangga Rahadiansyah
    November 3, 2012 at 21:32

    Menurut saya, orang tua sebaiknya tidak hanya melihat pada satu sisi yang sebenarnya tidak ia ketahui. Bakat yang dibawa sejak lahir pun juga berpengaruh pada kemauan anak untuk menggeluti suatu bidang. Jika orang tua hanya menlakukan kemauan mereka yang tidak sejalan dengan kemauan anaknya, bisa saja anaknya menjadi depresi karena melakukan hal yang tidak ia senangi. Selain itu, bakat yang dibawa sejak lahir pun bisa saja menjadi pudar.
    Masalah gender sepertinya akhir-akhir ini juga banyak wanita yang bermain drum tetapi tidak terlihat tomboy. Jadi, saya setuju dengan pembahasan artikel ini karena gender yang menjadi topik utama di artikel ini sangat tidak berpengaruh pada bidang yang dibawa anak sejak lahir (bakat).
    Yang menjadi pertanyaan saya adalah mengapa masih banyak orang tua yang tidak percaya dengan bakat yang dibawa sejak lahir sehingga tidak memedulikan kemauan ankanya?

Comments are closed.