PASANGAN ATAU ANAK?

Begitu masuk ruang konsultasi, Bu Evy beberapa kali melihat ke arah layar BB di genggaman tangannya, menjawab pesan, menyetel perangkatnya ke dalam posisi getar, kemudian memasukkannya ke dalam tas tangannya yang berwarna pink.

“Maafkan, kalau dia yang masuk, mau tak mau saya harus segera menjawab. Rasanya, tak mungkin menunda semenit pun,” Bu Evy membuka percakapan.
“Siapa yang Bu Evy maksud dengan ‘dia’?” tanyaku.

“Siapa lagi, Pak Edy, kalau bukan Tommy, suami saya? Ketika merasa dikecewakan, dia selalu mengungkit bahwa saya sudah tak menjadikan dirinya prioritas saya. Karena itu saya harus menghubungi Bapak untuk konsul,” tutur Bu Evy dengan mata sedikit sembab, “Terngiang di telinga saya kalimat yang selalu dia ulang: ‘Makin hari, kayaknya makin tak ada waktu buat kita berduaan, Ev! Kau selalu menjadikan anak-anak alasan agar kita tidak berduaan,’’ Bu Evy sesaat diam, “ini sangat menyiksa perasaan saya,” lanjut Bu Evy dengan suara yang mulai bergetar menahan perasaannya.

Dari apa yang diungkapkan Bu Evy, saya makin yakin, pasangan yang akhirnya sukses dalam menjalani hidup perkawinan hampir selalu  mengalami konflik antara relasi intim antar-pasangan dan pengurusan anak.

Sebuah keluarga inti dimulai dari perkawinan yang kemudian diikuti penambahan batih karena hadirnya anak. Bisa satu, dua, tiga bahkan lima selama sepuluh tahun pertama perkawinan. Betapa pun, sejauh masih berada pada koridor pernikahan, sangatlah penting bahwa hubungan antara suami dan istri menjadi prioritas utama, bahkan prioritas yang lebih tinggi daripada anak-anak. Kenapa? Karena keluarga yang kuat tidak dibangun di atas fondasi ada-tidaknya anak, tetapi dibangun di atas fondasi hubungan pernikahan yang kokoh. Agar pernikahan Anda langgeng, Anda harus memprioritaskan hal itu, bekerja dan hidup di dalamnya, terus memenuhi kebutuhan Anda dan pasangan Anda, dan saling memenuhi kebutuhan satu sama lain.

Dengan ini saya tidak sedang mengatakan bahwa Anda harus mengabaikan anak-anak. Mereka sangat penting, tetapi mereka kalah penting dengan pernikahan kalian. Jika Anda mengabaikan pernikahan demi anak-anak Anda, pernikahan Anda akan menderita. Dan ketika pernikahan Anda menderita, kelak anak-anak Anda juga akan kena imbasnya. Ikut menderita.

Dalam kebanyakan kasus, keluarga yang keliru menempatkan prioritas –antara pasangan dan anak– mengalami perceraian yang dramatis, dan anak-anak harus menyaksikan bahwa pernikahan orangtua mereka gagal. Sebagai panutan mereka, Anda harus menunjukkan, jika sebuah hubungan pernikahan tidak terjaga, maka pernikahan punya keniscayaan untuk gagal.

Membesarkan anak-anak adalah tugas berbatas waktu, sebab suatu saat anak-anak akan meninggalkan Anda. Mereka akan tumbuh dan “lulus” dari perawatan Anda, tetapi pernikahan Anda harus berlangsung seumur hidup. Pasangan yang mengabaikan hubungan pernikahan dengan dalih anak-anak akan membangun bom waktu sakit hati. Ketika anak-anak tumbuh dewasa dan meninggalkan rumah, pasangan tinggal memiliki puing-puing pernikahan, dan anak-anak pun tidak memiliki model pernikahan yang berhasil untuk ditiru ketika kelak mereka menikah. Anda tidak hanya menjadikan pernikahan Anda sebagai monumen penderitaan bagi Anda dan pasangan, tapi juga bagi generasi berikutnya.

Anak-anak sangat berharga dan sangat penting. Mereka layak mendapatkan cinta dan perhatian Anda berdua. Tapi Anda harus memastikan titik keseimbangan antara perawatan pernikahan Anda dan perawatan anak. Dengan memberikan pasangan Anda perhatian, Anda tidak hanya akan mendapatkan perhatian dari pasangan Anda, tetapi juga mengajarkan kepada anak-anak Anda tentang perlunya menghormati orangtua mereka. Dengan demikian, sekaligus Anda memberikan model kesuksesan perkawinan bagi mereka, sehingga mereka dapat mempersiapkan masa depan perkawinan mereka bukan saja berdasarkan apa yang Anda nasihatkan, tetapi apa yang Anda teladankan. (ES)

***Edy Suhardono adalah seorang doktor psikologi, psikolog, dan konsultan senior pada IISA Visi Waskita, Assessment, Consultancy, and Research Centre.

2 comments for “PASANGAN ATAU ANAK?

Comments are closed.